After Married

After Married
SUASANA BARU



>>FLASH BACK ON


Tok ... Tok ...


"Ma, boleh Zi masuk?" tanya Zi di ambang pintu kamar Nisa.


Sedangkan Nisa sedang berada di dalam kamar Aaron.


"Iya sayang, kemarilah."


Dengan memberanikan diri ahirnya, Zi mendekati ibunya. Ia pun melihat adiknya sekilas lalu menarik lengan ibunya.


Zi mulai mengajak ibunya untuk duduk di tepi ranjang, dan ia pun mulai berbicara dengan Nisa.


"Moms, bolehkah aku bertanya?"


"Tanya apa sayang?"


Zi menghela nafasnya sambil sesekali masih kelihatan ragu untuk mengutarakan maksudnya.


"Zi, ada apa? kalau Zi gak mau cerita juga gak apa-apa kok."


"Itu Moms, Zi mau tanya tentang ayah Zi yang sebenarnya?"


Deg ...


"Kenapa Zi bertanya seperti itu?" batin Nisa.


"Beberapa hari ini Zi sering memimpikan bertemu dengan bapak-bapak yang kapan hari datang di acara adek Aaron."


"Bapak yang mana Zi?" tanya Nisa penasaran.


"Bapak yang paling ganteng itu loh Moms, yang datang sama Mang Dede, ya namanya itu?"


Nisa mulai mengingat sesuatu dan pada ahirnya ia mengingat siapa yang dimaksud oleh putranya.


"Maksud Zi papa Zein?"


Wajah Zi seketika berubah, lalu ia menatap dalam wajah mamanya.


"Sayang memimpikan papa ya?"


Zi mengangguk.


"Sini mama ceritakan tentang papa Zein mau?"


"Mau pa."


"Ya sudah sini dekat mama."


Lalu dengan bahasa seorang ibu, Nisa mulai menceritakan semuanya tentang Zein pada Zi. Tak terasa saat ia bercerita air mata Nisa jatuh juga. Hingga membuat Zi tidak tega untuk melanjutkannya.


"Makasih ya Moms, dan maaf bila Zi membuat Moms nangis kaya gini," ucap Zi sambil mengusap air mata ibunya.


Nisa pun memeluk hangat putranya itu.


"Maaf jika mama baru bisa bercerita sekarang."


"Iya Moms, gak apa-apa."


>>FLASH BACK OFF


Sejak hari itu Nisa mulai bercerita dengan suaminya. Beruntung Fadhil bisa mengerti keadaan istri dan anaknya itu. Ia juga memposisikan dirinya sebagai ayah dan suami yang bisa mengayomi keluarganya.


Mungkin inilah resiko jika menikah dengan janda. Tetapi apapun status Nisa sebelum ini tak pernah mengurangi rasa cintanya untuk Nisa. Apapun badai yang akan menghadangnya nanti. Ia percaya dengan kejujuran dan sikap saling sayang dan terbuka semuanya bisa mereka atasi.


"Terimakasih ya mas, sudah menerimaku apa adanya," ucap Nisa memandang haru suaminya.


"Sama-sama sayang."


Sedangkan di balik ruang tamu, Mang Dede mengusap kedua matanya yang entah sejak kapan menjadi basah.


Seorang pelayan dari arah dapur mulai mendekati ruang tamu untuk menjamu tamu tuan rumah mereka.


"Sudah-sudah sekarang bergabung sama papa Fadhil dan mama Nisa ya," ajak Zein dengan lembut.


Lalu Zein mulai menggendong Zi, kedua ayah dan anak itu keliatan bahagia satu sama lain.


"Hai Nisa, hai Fadhil, apa kabar?"


"Alhamdulillah baik."


"Maaf mengganggu waktu bersantaimu, mas," ucap Nisa tidak enak hati pada Zein.


"Gak apa-apa, terimakasih kalian sudah mau berkunjung kemari."


"Permisi tuan dan nyonya, silahkan diminum," ucap salah satu pelayan.


"Terimakasih bik."


"Bik, sekalian panggilkan Mang Dede kemari ya."


"Baik Tuan."


"Oh ya bahagaimana kondisimu saat ini Zein?"


"Alhamdullilah sudah lumayan, tetapi kata dokter sepertinya memori yang hilang tidak dapat kembali lagi."


"Oh ya? apa yang merawatmu dokter Richard?"


"Iya lah kak, siapa lagi memangnya, ha ha ha .."


Lalu tanpa canggung mereka berbincang satu sama lain. Tanpa ada batas antara mantan istri atau mantan sahabat.


Sementara itu ...


Tok .. Tok ... Tok ...


"Permisi mang, tuan Zein memanggup Anda."


"Ah iya bik, sebentar lagi saya ke depan."


Setelah ia mengusap air matanya ia pun merapikan bajunya lalu menuju ruang tamu.


"Nah itu mamang."


"Selamat sore tuan dan nyonya."


"Sore mang, apa kabar?"


"Alhamdulillah baik nyonya, Anda sendiri bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik mang."


"Nah Zi ini namanya Mang Dede."


Tanpa disuruh pun Zi segera mengucap salam dan mencium tangan beliau.


"Wah aden sudah besar ya sekarang, sudah tambah sholeh," ucapnya sambil mengusap pucuk kepala Zi.


Zi pun tersenyum ke arahnya. Lalu mereka kembali melanjutkan bincang-bincang sore itu.


Tak terasa sang penunjuk waktu semakin bergulir, hingga terdengar adzan berlambang disana.


"Wah sudah maghrib, sebaiknya ajak Aaron ke kamar tamu saja Nisa."


"Ah iya," Nisa pun menoleh pada suaminya hingga ia pun menganggukkan kepalanya menyetujui niatan Nisa.


"Bik, bibik ..." ucap Zein memanggil salah satu pelayan di rumah itu.


"Iya Tuan, sebentar."


Dengan sedikit berlari ia pun kembali ke ruang tamu.


"Bik, tolong antarkan Nisa ke kamar tamu," titah Zein kepadanya.


"Baik Tuan, mari Nyonya saya antarkan ke kamar tamu."


"Iya Bik."


"Pa, bolehkah Zi ikut mengantar mama?" tanya Zi pada Zein.


Zein pun mengangguk mengiyakan hal itu.


"Hati-hati sayang."


Lalu mereka segera menuju kamar tamu.


Zein memang tidak lupa akan kebiasaan Nisa ataupun kebiasaan untuk wanita hamil atau pun anak bayi.


Ia selalu menghormati wanita, oleh karena itu ia selalu lembut pada semua wanita.


.


.


Bersambung