
Setelah sekian lama di kamar mandi, dan Fadhil juga sudah bosan menunggu, Fadhil pun berniat mendobrak pintu kamar mandi. Disaat pintu terbuka hampir saja tangan Fadhil menyentuh wajah Nisa.
"Mas mau ngapain ?"
"Eh, ti-tidak tidak ada sayang, mas mau mengechek kenapa kamu lama sekali di kamar mandi." Ucap Fadhil kikuk.
"Owh ... kirain mau mendobrak pintu kamar mandi. Kok wajahnya gitu ..."
Fadhil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu berbalik mengejar Nisa yang menuju almari pakaian. Fadhil meraih tangan Nisa.
"Bu-bukan begitu sayang, aku hanya hawatir padamu."
Nisa menoleh," Salah sendiri pake dikasih aroma teraphi."
"Eh ... "
"Iya juga ya?" ucapnya tampak berfikir.
"Kan jadi betah mandinya mas."
"Iya .. iya sayang... kan maksudku biar kamu bisa sedikit rileks saat mandi."
"Udah ga sah dibahas lagi oke."
Nisa hanya geleng-geleng saat Fadhil seperti kebingungan. Ia pun melanjutkan untuk memilih baju untuknya. Lama-lama di negeri itu kalau enggak pake baju hangat, bisa-bisa ia masuk angin.
Tiba-tiba Fadhil memeluk tubuh Nisa dari belakang.
"Sayang ngapain? pake baju hangat kek gitu?"
"Memangnya mas nggak mau jalan-jalan apa?"
"Mau sih, tapi maunya melahap kamu aja dikamar seharian."
"Hah, apa....aaa!" Ucapnya kaget dan segera menoleh.
Tepat saat Nisa menoleh bibir Nisa dibungkam oleh bibir Fadhil. Semakin lama ciuman pagi itu semakin menuntut. Karena Nisa badannya kecil, ia tidak bisa mengimbangi tenaga Fadhil dan membiarkan suaminya melakukan apa yang ia mau.
Dan terjadilah sarapan pagi dengan penuh cinta. Seolah mendapat asupan nutrisi yang lebih. Bukannya pucat, tapi tubuh Fadhil semakin keliatan segar. Berbeda dengan Nisa yang tampak acak-acakan. Belum lagi badannya yang berasa remuk redam di bagian sana-sini.
Bagaimana tidak, dirinya sudah menjadi santapan sarapan pagi untuk suaminya. Tubuhnya kembali hanya berbalut selimut saat Fadhil mengajaknya sarapan beneran.
Tapi meskipun begitu, keduanya tetap menikmatinya. Toh mereka sudah resmi menjadi suami istri, mau melakukan berapa kalipun sehari, tetap saja sah.
Apalagi melihat suaminya, Nisa sudah dapat merasakan kasih sayang dan cinta Fadhil yang begitu besar untuknya. Ia pun dengan perlahan mulai menggeser kedudukan Zein dalam hati Nisa.
"Kenapa mandangin mulu sih?" canda Fadhil ketika menyuapi istrinya makan.
"Ish ... kata siapa mandangin mas? jangan ge-er deh."
"Beneran nih, masa? jangan-jangan sayang mau mengulangi hal tadi ya?"
"Haizz ... gituan mulu mikirnya." Tolak Nisa sengaja mengalihkan topik.
Kalau ia meladeni bualan suaminya bisa-bisa Fadhil mengajaknya ngamar terus seharian. Padahal badannya sudah remuk sana-sini. Tapi lihat badan Fadhil sama sekali tidak keliatan capek.
"Huh, dasar lelaki mesum ... bisa-bisanya memikirkan gituan mulu." Ucap Nisa dalam hatinya.
"Ih, manisnya yang sedang melamunkan suami gantengnya ini?" canda Fadhil semakin gencar menggoda istrinya.
Apalagi moment seperti ini mungkin akan jarang ia dapatkan ketika sudah kembali ke Indonesia. Di rumah sudah ada Yo dan Zi yang bakalan merecokin hubungan mesra mereka. Jadi Fadhil menumpahkan segala perhatian dan kasih sayangnya saat moment honeymoon kali ini.
Lalu mereka pun melanjutkan sarapan pagi yang tertunda dengan waktu yang lumayan lama. Tentu saja itu ulah Fadhil. Yang sepanjang acara makan selalu menggoda istrinya.
Ahirnya proses sarapan pagi agak terlambat dan lumayan panjang. Setelah selesai, Fadhil dan Nisa mandi junub bersama di kamar mandi.
Tak lupa sebelumnya mereka membaca niatnya secara bersama-sama.
"Bismillahirahmanirahim nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbar minal janabati fardlon lillahi ta'ala."
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari jinabah, fardlu karena Allah Ta'ala."
...***...
Allah SWT berfirman, "Dan jika kamu junub, maka mandilah." (QS. Al Maidah: 6)
Dalam surat lainnya, Allah SWT juga menyuruh Muslim untuk melaksanakan mandi wajib atau mandi junub jika dalam keadaan junub.
Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun." (QS. An-Nisa': 43)
...***...
Sebenarnya ada rasa canggung luar biasa saat Fadhil mengajaknya mandi bersama. Tetapi karena bagian sensitifnya masih merasakan ngilu. Ia pun membiarkan suaminya membantunya mandi. Dan ahirnya mereka pun mandi berdua.
Niat Fadhil untuk mengajak istrinya nambah ronde ia urungkan ketika melihat wajah lelah dari istrinya. Ahirnya niatnya ia hapus sesaat, toh sesudah Nisa kelihatan sehat dan segar, ia bisa mengajaknya kembali.
Setelah selesai mandi, Fadhil membungkus tubuh istrinya lalu menggendongnya masuk kamar. Dengan malu-malu Nisa menempelkan kepalanya di dada Fadhil.
Setelah itu, Fadhil membaringkan Nisa di atas kursi rias.
"Sayang disini dulu, biar aku yang memilihkan baju untukmu oke."
"Iya ..."
Nisa memandangi dirinya di depan cermin," Ya ampun, wajahku gini amat yah ..."
"Kenapa sayang?" tanya Fadhil yang tiba-tiba datang ke sisi Nisa dengan menenteng sebuah baju untuknya.
"Aku keliatan capek banget yah?"
"Emm .. iya sedikit tapi ..."
"Huaaa... aku ga mau keluar."
Fadhil sontak memeluk Nisa untuk menenangkannya. Tak lupa ia pun menciumi istrinya tersebut.
"Jangan sedih sayang, kamu wanita tercantik yang pernah aku miliki sayang."
"Mas bohong, lihat aja sekarang aja aku keliatan capek banget kek gitu."
"Sayang istirahat aja ya, nanti kalau udah ga capek aku janji akan mengajak jalan-jalan keliling kota ini."
"Hu ... hu ... hu ... "
Fadhil yang tidak pernah melihat seorang wanita menangis bingung bagaimana membujuk Nisa agar ia tidak menangis. Ia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Tak pernah terbesit akan terjadi hal seperti ini saat ia sudah menikah.
"Ternyata menikah serumit ini yah, hhhh.. sepertinya sepulang dari kota ini, aku harus lebih banyak belajar tentang wanita pada Yo." Gumamnya dalam hati.
Tentu saja ia harus belajar banyak pada Yo, selain pandai dalam bisnis, Yo juga pandai menakhlukkan hati wanita. Buktinya banyak wanita yang siap menemaninya tanpa ia minta.
Tetapi Yo tidak pernah menerima perhatian mereka, karena ia tidak mau terjebak dalam urusan wanita. Lebih baik ia menikmati dunianya sekarang, sebelum nanti direpotkan dengan urusan wanita.
...~Bersambung~...
.
.
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...