After Married

After Married
BAB 217. SEBUAH SOLUSI



Nisa masih tergugu dengan tangisnya, sementara beberapa hari ini suaminya sudah mendiamkan dirinya. Mereka tak bertegur sapa tetapi Nisa tetap menyiapkan keperluan suaminya untuk bekerja.


"Terimakasih untuk rasa cinta yang telah kamu berikan untukku, Mas," ucap Nisa dalam hatinya.


🍃Saat di ruang makan.


"Ma, hari ini Zi ada les matematika, jadi mungkin pulang telat."


"Iya, Sayang, nggak apa-apa."


Sementara Fadhil hanya melihat Ve dari ekor matanya. Lalu kemudian ia kembali meneruskan sarapan paginya tanpa melihat Nisa.


Zi juga tak berani melihat ayahnya. Ia tau kondisi saat ini tak menguntungkan untuk siapapun. Karena kecelakan dirinya beberapa waktu yang lalu juga membuat hubungan keluarga mereka dengan ayah kandungnya merenggang.


Zi melihat ayahnya lalu ibunya, "Maaf, Ma, Pa karena aku kalian menjadi seperti ini."


"Ma, Zi berangkat sekolah dulu, Assalamu'alaikum," pamitnya.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya, Sayang."


"Iya, Ma."


Setelah menyelesaikan sarapan miliknya, Zi berpamitan lalu pergi ke sekolah di antar Fadhil.


Selama perjalanan tak ada perbincangan diantara keduanya.


Sebenarnya ia ingin mengatakan sebenarnya tetapi ayahnya sama sekali tak memberinya kesempatan.


"Aha, aku punya ide, semoga saja setelah ini semuanya bisa membaik, Aamiin."


Terlihat pancaran kebahagian yang terlihat jelas di wajahnya. Tak berapa lama kemudian, mobil telah sampai di gerbang sekolah Zi. Sebelum masuk, Fadhil tetap mengantarkan dirinya untuk pergi ke depan kelas.


"Selamat pagi Pak Fadhil."


"Pagi, oh ya Bu, nanti jangan biarkan Zi keluar gerbang sekolah sebelum yang menjemputnya datang."


"Baik, Pak."


Setelah memastikan Zi sampai di sekolah, Fadhil berniat untuk segera pergi ke kantor.


.


.


Sementara itu hubungan Sheril dengan Leo sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Setelah mengetahui kejujuran Leo kapan hari, Sheril meminta waktu untuk sendiri. Sampai ia bisa menerima semuanya.


Kebetulan pagi itu Sheril mengantarkan Sharen ke sekolah dan ia bertemu dengan Fadhil.


"Hai, Kak."


"Sepertinya kamu ada masalah, apa perlu bantuanku?"


"Hm, boleh sih, kalau Kakak enggak sibuk."


"Oke, nanti jam sebelas kita bertemu di cafe depan sekolah."


"Baik."


"Oke, aku pergi dulu."


Setelah itu ia pun melanjutkan perjalanannya ke kantor, sementara Sheril pergi ke salon untuk memanjakan diri.


.


.


"Nyonya, den Aaron terus menangis."


Nisa menoleh, "Biar sama saya saja, Bik."


"Sayang, kamu kenapa? kangen sama Mama, ya?"


"Mohon maaf Nyonya, bukannya saya mau menggurui Nyonya, tapi saya hanya ingin memastikan bahwa tuduhan Pak Fadhil terhadap Nyonya tidak benar bukan?"


Nisa mengangguk, tiba-tiba air matanya jatuh menetes. Ia tak mampu menyembunyikan kesedihannya saat ini. Ia tak tau lagi harus berbagi cerita sama siapa lagi. Tapi kalau tetap seperti ini itu artinya ia semakin menyakiti dirinya sendiri.


Kali ini ia berada dalam situasi yang sangat pelik. Mencintai dua orang lelaki memang salah, tapi menyakiti satu dengan yang lainnya juga bukan solusi.


"Saya capek, Bik. Saya lelah dengan semua keadaan ini. Seandainya semua bisa kembali aku ingin menjadi gadis desa biasa yang hidup sederhana."


"Tapi semua telah terjadi dan semua ini salahku Bik."


"Nyonya, menyalahkan diri sendiri bukanlah solusi, sebaiknya Anda membicarakan semua ini secara pribadi. Datangi Tuan di kantor dan tunjukkan bahwa hanya Tuan Fadhil yang berada di hati Nyonya dan tak ada pria yang lain."


"Apa bisa?"


"Sini, saya bisikan caranya, Nyonya."


.


.


...🌹Bersambung🌹...