After Married

After Married
KAGET



“Assalamu’alaikum ...” ucap Mang Dede ketika sampai di ambang pintu utama milik Fadhil.


 


“Wa'alaikumsalam ...” jawab orang-orang yang ada di ruangan itu.


 


Seorang pelayan mempersilahkan kedua tamunya untuk segera bergabung dengan tamu undangan yang lainnya. Untuk beberapa saat, Zein yang sempat melamun pun sudah ikut duduk disana. Tetapi arah pandangannya tetap menuju ke arah Nisa dan Zi.


 


Wanita di depannya ini terlihat lebih cantik ketimbang foto yang berada di rumahnya. Ia pun terpaku akan pesona kecantikan milik Nisa.


Mang Dede lagi-lagi harus menyenggol lengan Zein agar ia kembali pada kesadarannya. Zein yang ketauan oleh Mang Dede pun merasa malu seketika. Untungnya ada sebuah masker yang melingkar menutup wajahnya. Sehingga membuatnya sedikit terbantu, setidaknya wajahnya yang memerah tak akan terlihat.


 


Acara pagi itu pun segera di mulai. Kini sang bayi sudah berada dalam gendongan ayahnya, Fadhil. Sedangkan Nisa dan para hadirin melantunkan sholawat untuk Aaron. Lalu Fadhil pun mengelilingi para tamu yang sedang bersholawat itu sambil menggendong Aaron.


 


Saat ia berkeliling, Zein yang juga ikut bersholawat tetap mencuri pandang pada Nisa. Sesekali pula ia melihat putranya yang kini tampak berbeda dan bukan balita lagi melainkan sudah tumbuh menjadi anak tampan.


 


Entah kenapa rasanya ada ketidakrelaan yang terjadi di dalam hatinya. Padahal ia belum ingat sama sekali tentang ingatan masa lalunya.


 


Dari kejauhan tampak kedua belah keluarga besar Nisa dan Fadhil turut berbahagia akan acara yang berlangsung pagi ini.


 


“Semoga kamu bisa bahagia selamanya nak,” doa tulus ia panjatkan dari Ibu Nisa untuk putrinya itu.


 


Ibu Nisa tau betul bagaimana perjalanan hidup Nisa. Banyak hal yang telah ia korbankan selama ini hanya untuk membahagiakan kedua orangtuanya.


 


“Kini kamu pun berhak bahagia sayang,” ucapnya dalam hati.


 


Tak terasa buliran air mata telah membasahi kedua mata tua itu. Umur nya yang tak lagi muda membuatnya gampang tersentuh, apalagi mengingat Nisa.


 


“Bu, jangan menangis.”


 


Ia pun mengusap airmata istrinya lalu menggenggam erat salah satu tangannya. Kedua matanya memancarkan kekuatan agar sang istri bisa ikhlas dan turut berbahagia untuk acara syukuran kelahiran Aaron.


"Iya pak."


Begitu pula dengan Mang Dede yang juga tersentuh akan hal yang terjadi di depannya ini.


 


“Seandainya Tuan Zein yang berada disana, pasti aku akan lebih bahagia,” Batinnya.


 


Lalu sesudahnya acara dilanjutkan dengan acara Aqiqah Aaron. Nisa dan Fadhil memang meng-aqiqahi Aaron tepat di hari ke tujuh hari kelahirannya.


Selagi mereka mampu maka mereka pun mempercepatnya. Begitu pula dengan saat kelahiran Zi dulu. Nisa dan Zein juga melakukan hal yang sama untuk putra pertamanya itu.


.


.


Secara bahasa, aqiqah memiliki arti “memotong” yang berasal dari bahasa arab “al-qat’u”.


 


Menurut istilah, aqiqah adalah proses kegiatan menyembelih hewan ternak pada hari ketujuh setelah bayi dilahirkan.


 


Berdasarkan tafsir sebagian besar ulama yang dinilai paling kuat, aqiqah hukumnya adalah sunnah muakad. Aqiqah menjadi ibadah yang penting dan diutamakan.


 


Bila mampu untuk melakukannya, orangtua sangat dianjurkan untuk melakukan aqiqah anaknya saat masih bayi.


 


Namun, bagi yang tidak mampu untuk melaksanakannya pun aqiqah boleh ditinggalkan tanpa berdosa. 


 


 


"Semua anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelihkan pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberikan nama." (HR Ahmad 20722, At-Turmudzi 1605 dan dinilai shahih oleh Al-Albani).


 


Dalam sebuah hadist dikatakan, "Penyembelihan hewan aqiqah bisa hari yang ke-7, hari ke-14, atau hari ke-21." Hadist ini dianggap sebagai hadist yang shahih oleh sebagian ulama.


 


Dari hadist diriwayatkan, "Siapa dari kalian yang suka menyembelih atas kelahiran anak maka lakukanlah, anak laki dua ekor kambing yang cukup syarat, anak wanita dengan satu ekor" (HR Ahmad, Abu Dawun, An-Nasaa-i).


 


Sesungguhnya tata cara pelaksanaan aqiqah antara anak laki-laki dan perempuan sama saja.


 


Hal yang membedakannya hanyalah pada jumlah hewan yang disembelih.


 


Pada anak laki-laki harus berjumlah 2 ekor kambing yang sekufu atau keduanya mirip (sama usianya, sama jenisnya, sama ukurannya).


 


Jika tidak sama persis, setidaknya mendekati. Sedangkan, untuk anak perempuan jumlah hewan aqiqah hanya 1 kambing saja.


.


.


Entah kenapa selama proses berlangsung Nisa tidak dapat menyembunyikan rasa harunya. Belum lagi kenangan tentang suaminya kini kembali menyeruak mengisi seluruh hatinya.


Ia masih ingat betul moment pertama kalinya saat ia menjadi seorang ibu. Hal yang sama ahirnya kini ia alami untuk yang kedua kalinya.


Fadhil yang mengetahui hal itu kemudian merangkul istrinya serta menghadiahi kecupan-kecupan cinta di pucuk kepala Nisa.


Sedangkan Zi entah datang darimana kini ia sudah berhambur memeluk kedua orangtuanya. Ketiga orang itu tampak bahagia sekali. Tetapi sesaat kemudian Mang Dede dan Zein mulai menghampiri Nisa.


"Permisi Nyonya ..." ucap Mang Dede.


"Iya ..." Nisa pun mulai menengok ke arah sumber suara.


Mang Dede kemudian melepas masker yang ia kenakan.


Nisa kemudian tersenyum, "Ya ampun Mang Dede ..." sapanya ramah.


"Selamat ya Nyonya untuk kelahiran putra keduanya."


Mang Dede kemudian menyerahkan sebuah paper bag sebagai hadiah untuk kelahiran Aaron.


"Terimakasih banyak Mang, oh iya ini Mas Fadhil dan ini Zi..." ucapnya memperkenalkan orang-orang yang sangat ia cintai.


Kedua lelaki beda generasi itu pun berjabat tangan sambil mengulas senyum. Begitu pula dengan Zi yang tampak ramah pada Mang Dede.


"Terimakasih mang sudah repot-repot datang kemari, oh ya ini siapa?"


Tanya Fadhil ketika menyadari kalau Mang Dede tidak datang sendirian melainkan dengan orang lain.


Mang Dede menoleh ke arah Zein yang kemudian diangguki oleh Zein. Ia pun mensejajarkan dirinya di samping Mang Dede dan memberanikan diri untuk berjabat tangan pada Fadhil dan Nisa.


"Selamat untuk kelahiran putra keduanya," ucapnya kemudian disusul uluran tangan darinya.


"Terimakasih..."


Lalu Zein pun melepaskan maskernya tepat di depan Nisa.


"Selamat untuk kelahiran putra keduanya..."


Mulut Nisa terbuka lebar tatkala melihat sosok lelaki yang berdiri tegap di depannya itu. Hampir saja ia terjatuh kalau Fadhil tidak menopangnya.


Entah kenapa kedua lututnya melemah ketika ia melihat sosok suaminya berdiri tepat di depannya. Untungnya saja Aaron sudah digendong salah satu neneknya.


Fadhil yang pernah mengenal mantan suami Nisa juga terperangah akan kedatangan Zein di depan mata kepala mereka. Bagaimana ini bisa terjadi karena Zein sudah dinyatakan hilang beberapa tahun yang lalu.


Tetapi yang pasti ketakutan akan kehilangan Nisa untuk kedua kalinya kembali menyeruak di hati Fadhil.


Ia pun memberanikan diri untuk menyapa seseorang yang berada di depannya itu.


"Zein ..."