After Married

After Married
MUNGKINKAH



...Di belahan pulau yang lain....


Fajar dan Cahaya sedang berjalan menyusuri pinggiran pantai sore itu. Mereka hampir selalu melakukannya setiap hari, karena memang di tempat itu tidak ada kegiatan lain. Jadi mereka mengisi waktu mereka dengan berjalan-jalan.


Terkadang Cahaya membantu ibunya memasak atau berkebun, tetapi sejak ia dipertemukan dengan Fajar semuanya berubah.


Cahaya tidak lagi membantu ibunya, ia lebih banyak disuruh untuk menemani Fajar. Alasannya agar Fajar tidak kesepian dan agar ia terbiasa tinggal di pulau terpencil itu.


Sebuah alasan yang tidak masuk dalam logika, tetapi ia menerimanya. Ia memang sudah


sangat lama tinggal di pulau itu dan selama itu ia tidak pernah dekat dengan siapapun. Tentu saja karena penghuni pulau itu hanya mereka bertiga.


Sampai beberapa tahun ke depan pun akan tetap sama seperti itu. Sampai suatu saat Tuhan mengirimkan Fajar ke pulau itu. Sebuah kecelakaan hebat yang memutus jalinan dan kisah cintanya di kehidupan sebelumnya yang tak pernah diketahui oleh Cahaya.


Sebagian memory Fajar terhapus karena kecelakaan hebat itu. Tetapi ahir-ahir ini semuanya memorinya perlahan datang dan kembali.


Baginya kedatangan Fajar dalam hidupnya adalah sebuah anugrah. Mungkin ia jodoh yang dikirimkan Tuhan kepadanya seperti dalam mimpi-mimpi indahnya yang hadir dalam setiap malam-malamnya.


Beberapa tahun bersamanya secara tidak langsung telah menumbuhkan benih-benih cinta di dalam hati Cahaya. Tetapi itu tidak berlaku bagi Fajar. Setiap hari dalam sujudnya ia selalu berdoa agar ia bisa mengingat jati dirinya kembali.


Karena di setiap malamnya ia selalu bermimpi didatangi oleh anak laki-laki kecil yang selalu tersenyum ke hadapnya. Anak laki-laki itu menggandeng seorang wanita cantik yang tersenyum ke arahnya.


Ia selalu hadir dalam mimpinya beberapa bulan terahir ini, dan ia pun tak pernah bercerita pada siapapun, termasuk pada Cahaya.


Puncaknya adalah dua hari lalu, kepalanya terasa sangat pusing saat ia melihat pesawat yang melintas di atas kepalanya. Entah kenapa rasa sakitnya sungguh tidak tertahankan lagi. Terlebih suara bisingnya memekakkan telinganya.


Bersamaan dengan itu terlintas sebuah bayangan orang-orang yang berteriak minta tolong kepadanya. Banyak wanita berteriak minta tolong dan tiba-tiba kepalanya terasa pusing sekali.


Setelahnya ia pun tak bisa mengingat apa-apa lagi. Ia hampir pingsan karenanya.


Tetapi lama kelamaan ia berpikir mungkin ingatannya akan segera kembali sesudahnya. Semoga saja doa-doanya segera dikabulkan segera. Aamiin.


Untuk Cahaya, mungkin cintanya adalah cinta pertama, dan orangtuanya tidak akan membiarkan putrinya terluka karenanya. Mereka menjaga Fajar layaknya seperti berlian yang langka, mereka juga takut Fajar akan pergi meninggalkan Cahaya.


Mungkin benar, alasan ibunya untuk lebih dekat dengan Fajar agar ia juga bisa belajar bersosialisasi. Maklum ia tinggal begitu lama di pulau itu dan tidak memiliki tetangga sama sekali.


Saat Fajar datang, ia merasakan hal yang aneh dalam dirinya. Ada getaran aneh yang tidak dapat ia didefinisikan saat itu. Hanya ibunya yang peka akan apa yang dialami putrinya saat itum


Tetapi orangtuanya tau jelas apa yang dirasakan putrinya itu, hanya saja mereka membiarkan semuanya terjadi secara alami. Ia ingin Cahaya dan Fajar saling mencintai satu sama lain.


Mungkin Tuhan mengirimkan jodoh untuk putri semata wayang mereka, dan itulah Fajar. Tetapi mereka juga belum mengetahui latar belakang Fajar dan bagaimana ia bisa terdampar sampai di tempat itu.


Tetapi beberapa tahun bersama, tidak ada tanda-tanda orang yang mencari keberadaan Fajar. Hanya satu kekhawatiran mereka, jika Fajar telah mendapatkan kembali ingatannya, akankah ia mau untuk tetap tinggal bersama mereka? Ataukah ia akan kembali pada dunianya.


Kekhawatiran sepasang suami istri itu kian terlihat, apalagi ahir-ahir ini sikapnya mulai berubah. Jika ia melihat sesuatu pasti ia akan langsung menanyakannya terlebih dahulu.


Beberapa kali ia menanyakan kenapa ada pesawat yang sering melintasi pulau yang dihuni mereka dan juga pertanyaan yang tidak pernah mereka bayangkan. Apakah dirinya sudah mengingat sesuatu?


Entahlah, tetapi satu kebahagiaan mereka yaitu inginkan saat ini adalah ketika putrinya sudah menemukan jodohnya ia akan memberikan restu untuknya.


"Cahaya, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"


"Eh iya, apa itu?"


"Kenapa kalian tinggal disini, tinggal di pulau terpencil seperti ini?"


"Ehm... aku tidak tau, aku sudah terbiasa sejak kecil disini, dan aku tidak pernah bertemu dengan orang lain selain kamu."


"Apa kamu tidak kesepian?"


"He he he ... aku tidak pernah kesepian karena aku menghabiskan waktuku sehari-hari bersama kedua orangtuaku."


"Oh ya kalau sejak kecil kalian tinggal disini? Lalu apa orangtuamu tidak memilki saudara untuk dikunjungi?"


Cahaya menggeleng, ia bahkan tidak tau apakah kedua orangtuanya memiliki saudara atau tidak, karena mereka tidak pernah membahasnya.


"Aku tidak tau, aku tidak berani bertanya pada ayah dan ibuku," jawabnya.


"Kenapa?"


Cahaya menggeleng perlahan. Ia pun mulai bercerita sesuatu pada Fajar. Pernah suatu kali Cahaya bertanya tentang kenapa mereka tidak pernah keluar dari pulau ini. Tetapi saat ia melihat raut wajah ibunya yang terluka, ia tak berani meneruskan pertanyaanya itu.


Sampai ahirnya ia menyadari mungkin ada suatu hal yang mereka tutupi darinya. Makanya dia lebih memilih untuk diam. Lagi pula kebahagiaan mereka lebih penting dari segalanya.


Jadi Cahaya tidak berniat untuk bertanya lebih banyak lagi tentang hal itu. Fajar pun memahami apa yang dirasakan Cahaya dan tidak mau menanyakannya kembali.


Yang terpenting sedikit demi sedikit ingatannya pulih kembali. Setidaknya penantian selama tahunan ini akan segera menemukan titik terangnya.


"Oh ya, sudah sore, ayo kita kembali, pasti ayag dan ibumu sudah mencari kita," ajak Fajar pada Cahaya.


Maklum saja saat ini mereka masih berada di hibir pantai. Cahaya mengangguk dan mereka segera melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah kecil mereka.


...***...


"Malam Daddy, malam Mom..." sapa Zi saat sudah sampai di meja makan.


"Malam juga sayang, ayo kita mulai makan bersama," ajak Nisa.


Ia pun mulai mengambilkan makanan satu persatu dan memindahkannya ke dalam piring suami dan anaknya. Lalu sesudahnya mereka makan malam bersama.


Setelahnya mereka kembali pada aktifitas masing-masing. Zi kembali belajar dikamarnya sedangkan Nisa dan Fadhil menuju kamar mereka.


Kehamilan yang besar membuat Nisa cepat capek, maka ia lebih suka rebahan sambil mengistirahatkan punggungnya yang mulai nyeri.


Fadhil mengelus-elus punggung istrinya agar mengurangi rasa tidak nyaman pada istrinya itu. Ia begitu banyak menuangkan perhatian untuknya. Karena hanya dengan hal itu ia bisa menyalurkan perhatiannya.


~Bersambung~