
"Ah mantaps ..." ucap mereka berbarengan.
Dan sesudahnya mereka pun tertawa bersama-sama.
π~π~π~π~π
Setelah makan dan membayar semua tagihan, mereka pun menuju kantor Nisa. Lebih tepatnya perusahaan yang ditinggalkan Zien untuknya dan juga putranya.
"Oh ya Zi, tadi pagi mama dapat telepon dari salah satu wali murid di kelas kamu?"
"Siapa Moms?"
"Kalau tidak salah namanya Sharen, dia mengundang mama dan kamu untuk pergi ke acara ulang tahunnya."
"Huh, dia lagi ..." gerutu Zi yang masih bisa didengar Nisa."
"Memang kenapa sayang?"
"Moms ga ingat? dia kan gadis kecil yang aku ceritain kapan hari ..." protes Zi.
Nisa mencoba mengingat ucapan putranya.
"Oh iya mama ingat, gadis kecil yang suka ngintilin kamu kemana aja itu kan?"
"Yes Moms."
"Ha ha ha ... ternyata yang itu ya, makanya kamu cemberut sedari tadi."
"Ya ya ya ... nekad banget si sampai mengundang Moms pula, padahal aku tak berniat untuk datang."
"Sayang, kamu tidak boleh seperti itu, namanya undangan itu wajib dihadiri, ga enak dong masa diundang kitanya ga datang."
"Ta-tapi kan Moms.... " rengek Zi.
"Tidak ada tapi-tapian Zi, bahkan didalam ajaran agama kita sudah dijelaskan kalau ada sebuah undangan kita diwajibkan untuk menghadirinya."
"Selain untuk menghormati yang mempunyai acara, itu juga salah satu bentuk kita dalam hidup berdampingan dengan sesama manusia."
"Ta-tapi Moms, ini ceritanya kan beda."
"Zi kamu tenang deh, kan ada mama, dijamin beres deh." Nisa pun mengedipkan sebelah matanya untuk Zi.
"Ok, aku percaya sama Moms."
Dan Nisa pun bahagia karena Zi menuruti perkataannya. Bagaimana pun sikap sosial Zi harus dipupuk sedari kecil.
Ia tak boleh bersikap arogan atau semaunya sendiri. Karena hidup harus berdampingan, maka kita pun harus bisa hidup bersosialisasi.
Sesampainya di kantor, mereka langsung menuju ruangan kerja Nisa. Persisnya kantor wakil CEO. meskipun Nisa pemilik perusahaan tapi ia tak merasa mampu untuk menghandle perusahaan sebesar itu.
Oleh karena itu Fadhil juga menduduki posisi CEO di perusahaan tersebut.
"Mom, aku mau mandi dulu ya." Pamit Zi pada mamanya yang langsung memeriksa pekerjaannya.
"Iya sayang."
Zi pun segera mandi dan berganti baju dan ia pun juga mengerjakan sholat dhuhur di sebelah ruangan Nisa.
Setelah Zi selesai ia pun membuka laptop yang tersedia di kamar itu untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolahnya. Tak lama kemudian, Nisa pun masuk ke ruangan Zi dan memeriksa keadaan Zi.
Ia pun segera membersihkan diri dan mengambil air wudhu, ia juga akan mengerjakan sholat dhuhur. Zein memang mendesain ruangan kerjanya nyaman untuk keluarga.
Sebelah ruangan kerja Nisa ada tempat beristirahat juga beribadah, ada tempat mandi dan beberapa stel baju untuk Nisa dan Zi bila sewaktu-waktu mereka berada disitu.
Sejak Zein tiada, Zi lebih banyak ikut ke kantor Nisa. Karena Mbok Iyem yang merawat sejak kecil juga sudah meninggal saat Zi berusia 3 tahun. Sejak itu Zi sering diajak Nisa ke tempat kerja.
"Moms... aku boleh order makanan by go food ga?" tanya Zi tiba-tiba berada disisi meja kerja Nisa.
"Hmm, kamu lapar ya sayang?"
"Iya mom, uda 2 jam aku disini."
"Eh iya, maaf bentar lagi kerjaan mama selesai."
Tapi Zi tetep cemberut di tempatnya. Nisa pun tak tega, dan ia pun memberikan ijin pada Zi. Zi pun berterimakasih pada mamanya. Dan segera memesan makanan kesukaannya.
Satu jam kemudian, Nisa sudah selesai dengan pekerjaannya. Dan Zi pun juga sudah selesai ngemil makananannya. Sebelum pulang Nisa dan Zi jamaah sholat ashar dulu di kantor. Baru sesudahnya mereka pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Zi langsung naik ke kamarnya untuk menaruh barang-barangnya. Begitu pula dengan Nisa yang langsung menuju kamarnya.
Tak lama kemudian mereka keluar dari kamar masing-masing dan bertemu di ruang keluarga. Karena sudah melaksanakan sholat maghrib mereka sekarang santai sore dengan menonton acara TV bersama.
Di tempat ini, Zi biasanya akan bercerita tentang kesehariannya di sekolah tadi.
Zi duduk bermanja dengan menyenderkan kepalanya pada bahu Nisa.
"Moms, beneran mau datang ke acara ulang tahun Sharen?"
"Iya ... kenapa masih bertanya lagi? ga percaya sama mama?"
"Aku ga mau kesana Moms ..."
"Sebentar mama angkat telepon dulu."
"Oke moms."
Lalu Nisa pun meraih telepon disebelahnya.
"Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikumsalam," jawab Nisa.
"Kamu dirumah kan?"
"Iya," jawab Nisa.
"Aku ke rumah, buka pintu ya ..."
"Memang kamu sudah sampai mana?"
"Didepan gerbang rumah kamu."
"Mas, jangan becanda deh, ini uda malam?"
"Aku kangen Zi, masa ga boleh datang sih?"
"Ya uda, tinggal nunggu satpam suruh bukain kan beres."
"Tapi sambut aku di depan pintu ya?"
"Mas apa-apaan sih? biasanya juga masuk sendiri."
"Jangan lupa dandan."
"Hhh ... iya-iya."
Dan sesudahnya Nisa menutup telpon. Setelah itu Nisa pun menyuruh satpam untuk membukakan pintu untuk tamunya. Sesudah itu pintu rumah pun diketuk.
"Memang siapa Moms?"
"Om kamu tu ..."
"Owh ..." Zi kemudian melanjutkan membaca majalahnya.
Sedangkan Nisa membuka pintu untuk Fadhil. Dan terjadilah kehebohan di lantai satu. Lebih tepatnya ruang tamu.
"Selamat ulang tahun Nisa ..." ucap Fadhil dan Yo dari luar pintu.
Nisa terperangah tak percaya, ia bahkan melupakan hari ulang tahunnya. Meskipun sudah lebih dari 20 jam, tetapi ia masih bisa merayakannya bukan?
Dan Nisa pun menyuruh Fadhil dan Yo untuk masuk rumah.
"Terimakasih mas, Yo, kok sampai repot-repot."
"Untuk orang yang tersayang mah ga ada repot-repotnya, benar kan kak?" tanya Yo pada Fadhil yang masih betah memandangi wajah Nisa.
Entahlah kalau di rumah dengan di kantor, kecantikan Nisa jauh lebih terlihat saat ia dirumah. Dengan pakaian sederhana dan tanpa make up, wajah Nisa jauh terlihat lebih muda.
"Duh yang melamun, kedip dulu dong ..."
"Eh ... ehem ..." Fadhil pun merasa malu saat kedapatan mencuri pandang pada Nisa.
Sedangkan Nisa sudah masuk ke dalam rumah untuk memanggil Zi, karena rumah mereka sudah kedatangan om nya.
"Zi, ada om Fadhil dan om Yo dibawah, turun yuk." Ajak Nisa pada putranya.
"Siap Moms."
Lalu Zi pun turut serta bersama mamanya menuju ruang tamu. Dan disana ia pun sama terkejutnya saat melihat ada hadiah boneka bear didepan sana, berikut dengan kue ulang tahun.
Dan ia pun menoleh pada mamanya, "Moms ulang tahun ya? maafkan Zi sampai kelupaan." Ucapnya kemudian.
Lalu ia pun menghadiahi bertubi-tubi ciuman pada mamanya.
...~Bersambung~...
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAKππ...