
“Arggghhhhh ... hhhh ....”
Nisa mengejan dengan sekuat tenaga dan ahirnya terdengarlah suara tangisan merdu dari seorang bayi laki-laki.
"Oek ... oek ... oek ...."
"Alhamdulillah... " ucap semua orang dengan penuh kelegaaan.
Fadhil yang tak bisa menahan rasa harunya segera mencium kening Nisa berkali-kali.
"Terimakasih sayang."
Nisa yang masih bermandi peluh dan keringat ahirnya bisa tersenyum lega. Perjuangannya untuk tetap bisa melahirkan normal kini sudah berhasil.
Bayi yang masih berlumur darah merah itu segera diberikan pada Fadhil untuk segera diadzani.
Fadhil yang sudah lama tidak menggendong bayi agak kikuk ketika bayi merah itu berada dalam gendongannya.
Tetapi ia begitu bahagia buah cintanya lahir dengan sehat dan selamat. Dengan penuh kelembutan ia pun segera mengazani sang putra di telinga kanannya lalu mengiqamahkan di telinga kirinya.
Ini memiliki arti untuk mengenalkan bayi kepada Allah SWT dan tugasnya di dunia. Tradisi ini telah dimulai sejak zaman Nabi.
Nisa yang melihat hal itu tak sengaja menitikkan air mata bahagianya.
Setelah perut Nisa dibersihkan dari sisa-sisa plasenta dan lain sebagainya, maka kali ini adalah proses jahit menjahit. Fadhil yang masih penasaran dengan apa yang ia dengar beberapa tahun yang lalu pun mengikuti semua proses yang dikerjakan bidan saat itu.
Tetapi sebelumnya Nisa sudah diberi suntikan bius. Agar saat proses penjahitan tidak terlalu sakit.
Hal ini dilakukan karena jika terjadi robekan pada v***na setelah melahirkan secara normal maka dokter akan menjahit v***na dengan segera, tetapi terlebih dahulu ia sudah memberikan bius lokal.
Sebenarnya jika ibu hamil yang sudah menjalani proses bius epidural sebelumnya, bius lokal ini tidak dperlukan karena si ibu masih belum merasakan nyerinya. Tetapi karena tadi biusnya hanya sebagian, maka Nisa diberikan bius lokal kembali.
Sret ... sreeet ... srut ... sret .. slup ... slup....
Begitulah bunyi jarum jahit ketika bertemu dengan kulit Nisa. Bahkan dari arah pembaringannya ia bisa melihat betapa panjangnya benang yang digunakan bidan saat itu.
Sedikit ngilu untuk membayangkan hal itu, apalagi jika itu dilakukan pada perutnya. Amit-amit jabang bayi, ia tidak pernah mau melakukan proses kelahiran secara caesar.
Maka dari itu ia pun mengusahakan agar tetap bisa melahirkan secara normal.
Ahirnya durasi jahit menjahit sudah selesai. Kali ini ia berdoa agar jahitan dokter eh bidannya sedikit lebih rapi ketimbang dulu. Begitulah pemikiran Nisa saat itu.
Tetapi ia tak henti-hentinya bersyukur kali ini ia masih bisa selamat setelah melewati perjuangan hidup dan mati barusan. Setelah itu sang bayi segera dibawa ke ruang khusus bayi di lantai atas.
Sedangkan Nisa akan dipindahkan ke dalam ruang rawatnya. Sebelum meninggalkan Nisa, Fadhil diberikan wejangan oleh salah satu bidan disana.
"Maaf pak bisa ikut ke ruangan saya sebentar."
Fadhil pun mengangguk, lalu mengikutinya tetapi sebelumnya ia sudah minta ijin pada Nisa.
Setelah di luar ruangannya Fadhil diberikan beberapa pesan.
"Setelah melahirkan, ibu mungkin saja mengalami perubahan emosional. Itu sebabnya, beberapa ibu mengalami baby blues, yaitu kondisi gangguan suasana hati setelah melahirkan yang dapat memengaruhi kemampuan ibu dalam merawat bayi dan mengganggu waktu tidur."
"Kondisi ini tentu tidak boleh diabaikan. Jika hal itu terjadi, bapak harus segera bicara pada dokter."
"Terlebih apabila setelah melahirkan ibu mengalami perasaan sedih berkepanjangan atau lebih dari 2 minggu."
"Baik dokter."
Lalu ia pun permisi dan segera membawa Nisa menuju ruang perawatan pasca melahirkan.
"Oh ya pak, nanti ibu Nisa bisa masuk ke ruangan Laktasi pada jam-jam tertentu ya."
"Baik suster."
"Nanti Ibu Nisa tinggal menyebutkan nama ibu, nanti akan dibantu suster penjaga untuk bertemu dengan bayinya."
"Baik."
Memang peraturan di rumah sakit ini sedikit berbeda. Ibu dan bayi dipisahkan dalam beberapa jam diawal-awal kelahiran. Hal itu dimaksudkan agar bayi tidak terkontaminasi bakteri.
Karena biasanya para anggota keluarga pasien yang datang kurang menjaga kebersihannya. Akibatnya mereka menyentuh bayi tanpa membersihkan tangan dan tubuhnya.
.
.
.
~Bersambung~