
"Fajar, nama saya Fajar bukan Zein ..." ucapnya ramah disertai senyuman.
Memang kenyataannya ia belum pulih sepenuhnya saat ini, jadi ia belum bisa mengungkapkan apa dan siapa dirinya.
Tetapi tidak dengan Nisa. Sebuah senyuman yang tidak pernah dilupakan Nisa saat ini sama persis dengan milik Zein. Karena senyuman itu hanya dimiliki cinta pertamanya. Cinta yang mereka miliki dulu tidak pernah bisa terhapus waktu meski banyak cobaan yang terus menderanya.
Dari awal kisah mereka sampai mereka menginjak jenjang pernikahan nyatanya tidak semulus bayangan. Bahkan disetiap waktu selalu penuh dengan ujian.
Hingga pada ahirnya beberapa tahun yang lalu takdir kejam harus memutus tali ikatan cinta diantara mereka.
...๐~๐~๐~๐~๐...
"Fajar?" tanya Fadhil dengan heran.
"Iya Pak, kenalkan ini Fajar keponakan saya yang hilang beberapa tahun yang lalu kini sudah kembali, alhamdulillah ia masih bersedia untuk ikut tinggal bersama saya."
Nisa masih terdiam dalam pemikirannya. Ternyata apa yang dikatakan Mang Dede benar, tetapi tidak secepat ini juga, batinnya. Apalagi ini dalam sebuah acara, Nisa tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya waktu itu. Sampai Fadhil pun merasakan hal yang sama dengan istrinya.
"Oh, iya kalau begitu silahkan menikmati hidangan yang ada," ucap Fadhil mencoba mencairkan suasana yang begitu tegang itu.
Tetapi Fadhil terus memegangi tangan Nisa, yang ternyata sudah mulai dingin, sedangkan matanya masih menatap Fajar dengan sejuta pertanyaan. Fadhil tau betul apa yang dirasakannya, tetapi ia tidak mau ikut campur terlalu dalam.
Meskipun mereka sudah menikah dan menjadi suami istri, tetapi Zein sudah lebih dulu menjadi raja di dalam hati Nisa. Ia tidak bisa memungkiri hal itu, terlihat jelas sorot mata Nisa yang masih memancarkan cinta untuk orang yang bernama Fajar itu.
Entah kenapa Fadhil sedikit curiga padanya, karena ciri-ciri fisiknya sangat nyaris sempurna dengan Zein mantan suami Nisa. Padahal beberapa tahun yang lalu, ia sudah dinyatakan meninggal, lalu bagaimana bisa ia kembali dalam keadaan yang biasa saja.
Tiba-tiba saja terdengar suara Aaron yang menangis, ibu Nisa yang berada di ruang keluarga mau tak mau harus mencari Nisa dan menyerahkan Aaron pada Nisa untuk menyusuinya.
Ia pun beranjak dari tempat duduknya menuju ruang tamu.
"Nisa ... Nisa ... " panggil ibunya.
"I-iya Bu," jawab Nisa dengan terbata.
Sedangkan Fadhil memberi kode pada Nisa untuk tetap tenang. Setelah menemukan Nisa ia pun mendekatinya.
"Sepertinya Aaron haus Nisa."
"Iya Bu."
Lalu diraihnya Aaron dari gendongan ibunya, tak lupa ia pun permisi dari Mang Dede dan Fajar untuk masuk ke dalam.
"Ma-maaf saya permisi dulu," ucap Nisa.
"Iya, nyonya," jawab Mang Dede.
"Maaf, saya juga mau mengantar Nisa dan Aaron ke dalam dulu, sepertinya Aaron lapar," ucap Fadhil sambil membawa Nisa untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Mang Dede dan Zein masih menatap kepergian Nisa dan Fadhil. Sedangkan ibunya Nisa masih heran kenapa mereka terbata berbicara dengan kedua tamunya ini. Lalu tunggu dulu, sepertinya ia mengenal sosok suara tadi. Ia pun menoleh ke arah Mang Dede dan Zein.
"Astaghfirullah ..." ucapnya sambil berpegangan pada kursi.
Ibu Nisa kaget melihat sosok menantunya juga berada disana di dekat Mang Dede.
Mang Dede juga membantunya duduk.
"Terimakasih Mang," ucap Ibu Nisa yang masih mengenali mantan pekerja di rumah Nisa yang dulu.
"Masih ingat saya Bu?"
Ibu Nisa mengangguk," Masih lah mang, lalu ini siapa?"
Tanyanya sambil menatap orang yang berada di dekat Mang Dede dengan sejuta pertanyaan.
"Kenalkan, ini Fajar, keponakan saya."
"Hah ....!!!!!"
Tiba-tiba saja Ibu Nisa pingsan, akibatnya sebagian penghuni rumah Nisa panik. Lalu dengan segera tubuh Ibu Nisa diangkat ke dalam kamar tamu untuk mendapatkan pertolongan.
"Mang, bagaimana ini?" ucap Zein panik.
Sungguh hal ini bukan seperti keinginannya.
"Tenang dulu Den."
Mendengar ada keributan di bawah Fadhil bergegas untuk turun, untuk melihat kejadian apa yang sedang terjadi di bawah.
Ia pun agak berlari menuruni tangga satu persatu. Zi yang tadi bersamanya pun menyusul untuk melihat apa yang terjadi di bawah. Zi terdiam di tangga terahir ketika ia melihat sosok yang mirip dengan ayahnya ada disana bersama Mang Dede.
Sedangkan Fadhil sudah berlari ke kamar tamu.
"Ada apa? apa yang terjadi?"
"Ibunya Nyonya pingsan," ucap salah satu pelayan.
Sedangkan dari arah dalam, ayah Nisa juga berlari menuju kamar tamu. Untungnya disisi lain Yo datang tepat waktu dan sudah menormalkan kembali keadaan.
.
.
...๐นBersambung๐น...