After Married

After Married
KEAKRABAN DI RUMAH FADHIL



Dari kejauhan Fadhil masih memandangi wajah istrinya tersebut. Sejak hamil kecantikan Nisa bertambah berkali-kali lipat. Entahlah apakah hormon kehamilan juga mempengaruhi hal itu? Fadhil juga tidak mengetahuinya. Yang pasti Fadhil akan selalu menjaga Nisa sebaik dan semampu ia.


Sedangkan di kamar Yo. Ia sudah tidak sabar untuk menghubungi Alexa. Ia akan memberi tau bahwa ia sudah sampai di rumahnya. Oh bukan tetapi di rumah kakaknya.


"Morning sayang," Tulis Yo pada email yang ia kirimkan pada Alexa.


Sedangkan Alexa masih belum sampai di negaranya. Kebetulan memang ia mampir ke Singapura terlebih dahulu untuk membelikan ibunya oleh-oleh pesanan beliau.


Setelah bertolak dari Singapura, ia baru menuju negaranya sendiri. Dan ia pun belum membuka pesan dari Yo.


"Kenapa dia belum membuka email dariku, oh iya ... dasar bodoh, ia kan belum sampai di negaranya."


Lalu Yo pun membersihkan dirinya dikamar mandi. Perjalanan panjang yang baru saja ia lewati baru terasa lelahnya saat ini.


Ia pun mulai menyalakan shower dan mengisi bak mandinya dengan air hangat dan membubuhinya dengan sedikit aroma teraphy. Ingin rasanya ia segera menceburkan dirinya di bak mandi itu dan menikmati aroma teraphy.


Rileks adalah kata pertama yang ia dapatkan ketika ia berhasil menceburkan dirinya dalam bak mandi itu. Sungguh aroma nyaman ia peroleh ketika ia mulai menikmati setiap sentuhan air hangat dari bak mandinya itu.


Sesaat kemudian di kamar Nisa.


Perut Nisa sudah merasa diaduk-aduk, ia pun segera berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


"Hoek ... hoek ... hoek ..."


Fadhil yang mendengar istrinya mengalami morning sickness kembali, segera menyusul istrinya ke kamar mandi.


"Dek, kamu ga apa-apa?"


"Bentar mas, ini gara-gara mas sih ngajakin olahraga pagi-pagi."


"Kok jadi aku yang disalahkan si dek." Ucap Fadhil tidak terima.


Jelas saja Fadhil tidak terima karena tadi istrinya juga menikmati permainan yang mereka ciptakan tadi. Bisa-bisanya istrinya menyalahkan perbuatannya.


Sesaat kemudian ia keluar dari kamar mandi.


"Ngapain ih masih di depan kamar mandi," ucap Nisa sambil mendorong tubuh suaminya menjauh dari dirinya.


"Hadeh ..."


Dengan penampilan acak adul, Nisa memasang muka judes kepada suaminya. Terlebih lagi ia yang sudah mandi dan sedikit berdandan menjadi tidak cantik lagi akibat ulah suaminya.


Ia mendudukkan dirinya di depan cermin lalu mulai menyisir rambutnya. Fadhil mendekatinya dari arah belakang. Ia mulai membantu istrinya untuk menyisir rambutnya.


"Ya sudah jangan ngambek lagi dong, mandi yuk."


"Hmm, lagi mode malas ..."


"Yang lagi ngambek tambah cantik loh kalau ngambeknya diilangin."


"Mayess..."


Dengan segera Fadhil pun menggendong istrinya ke kamar mandi.


"Mas, lepasin..."


"Jangan teriak, ada Yo dikamarnya."


"Hah, sejak kapan Yo kembali?"


Nisa pun mengalungkan kedua tangannya ke leher


Fadhil.


"Sejak kita selesai olahraga tadi pagi, ia sudah datang dan menghebohkan seisi rumah dengan suaranya."


"Kok bisa aku ga tau saat dia datang, jangan-jangan dia dengar suara-suara kita saat ..." ucapan Nisa terhenti saat bibir manis Fadhil mulai mengunci bibir Nisa.


Mereka pun saling mencecap rasa manis bibir mereka satu sama lain. Ciuman dari Fadhil begitu memabukkan buat Nisa.


Hormon kehamilannya membuatnya betah berlama-lama untuk olahraga bersama suaminya.


Karena dokter pun sudah mengijinkan mereka untuk melakukan hal itu asal kondisi kandungan Nisa sudah kuat.


Rasa cinta dari Fadhil membuat Nisa bergairah dan bersemangat setiap saat. Sehingga perlahan dengan pasti mulai menggeser kebiasaan morning sicknessnya. Meskipun belum hilang sepenuhnya tapi agak sedikit berkurang.


...***...


Kamar Yo.


Setelah selesai mandi, cacing-cacing dalam perut Yo sudah mulai konser. Hal itu membuatnya harus segera keluar dari kamar untuk mengisi kekosongan perutnya.


Beruntungnya sarapan pagi sudah terhidang di meja makan. Mbok Ijah sengaja menyajikan makanan mereka baru saja karena tadi sudah mendapat instruksi dari Fadhil.


Ia tau kalau adiknya pasti kelaparan karena habis melakukan perjalanan jauh. Terlebih sifat Yo yang suka pilih-pilih makanan membuatnya tidak bisa sembarangan makan makanan dari luar.


Ia terbiasa dengan makanan yang diolah dari rumah bukan makanan cepat saji seperti di luaran sana. Kecuali ia sedang meeting di luar kota, dengan terpaksa ia akan makan makanan yang tersedia disana.


Fadhil dan Nisa sudah selesai mandi, mereka pun menuju ruang makan untuk bergabung dengan Yo.


"Pagi menjelang siang kak," sapa Yo ramah.


"Kapan datang Yo?"


"Baru tadi pagi kak."


"Oh ya sudah, mari makan dulu."


Lalu mereka pun segera sarapan pagi.


"Yo besok pagi kamu sudah masuk kerja ya."


"Siap kak, tenang saja aku sudah siap untuk kembali bekerja," ucapnya bersemangat.


"Baru kali ini aku melihat orang yang semangat kerja seperti Yo," batin Nisa.


Tetapi ia tidak berani mengatakannya secara langsung didepan Yo dan Fadhil. Tentu saja ia takut akan menyinggung perasaan Yo, apalagi Yo adalah salah satu kaki tangan Fadhil sekaligus adik kesayangan Yo.


"Kenapa kalian diam-diam begini?"


"Emm... tentu saja aku hanya ingin fokus menikmati makanan dari kak Nisa."


"Ha ha ha ... padahal Nisa masih cuti masak loh."


"Kenapa?"


"Masih berani tanya kenapa? tentu saja ia masih belum bisa menerima bau-bau dari bumbu masakan Yo."


"Owh ...."


"Maaf ya Yo, untuk sementara waktu kita makan masakan Bi Ijah terlebih dulu."


"Iya kak, ga apa-apa kok."


"Asal tetap makanan dari rumah, insyaAllah aku akan tetap memakannya."


"Sip."


Lalu setelah mereka sarapan pagi yang tertunda mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol santai di ruang keluarga.


"Oh iya Yo, sepertinya kamu ada sesuatu yang ingin diceritakan pada kakak, apakah itu?" tanya Nisa.


"Owh, itu ... anu kak."


Yo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu kembali menjawab pertanyaan dari kakaknya tersebut.


"Iya kak, em.. itu sewaktu liburan kemarin aku menemukan seorang gadis yang sudah mencuri hatiku."


"Oh ya, siapa itu?"


"Mm, namanya Alexa kak, dia berkebangsaan Australia."


"Terus ..."


"Sejak awal pertemuanku dengan dirinya ada hal lain yang sangat spesial dalam dirinya dan hal itulah yang membuatku jatuh hati padanya."


"Semoga gadis itu memang berjodoh denganmu ya Yo, aamiin."


"Aamiin kak, terimakasih banyak kak."


"Sama-sama, jika ada hal yang kamu butuhkan atau perlu bantuan kami, bilang saja, sebisa mungkin aku akan membantumu."


"Iya kak."


Sedangkan Fadhil masih asik mengusap perut Nisa yang belum terlihat itu. Ia menikmati setiap moment kehamilan Nisa. Meskipun awalnya ia ragu untuk melanjutkan kehamilan istrinya tetapi ia tidak sejahat itu juga untuk membunuh calon bayinya. Jadi mulai sekarang ia akan tetap menjaga kehamilan Nisa.


...~Bersambung~...


.


.


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...