
Setelah beberapa waktu terombang-ambing diatas lautan, ahirnya perahu yang dinaiki Fajar dan keluarga Cahaya bisa sampai di pulau sebelah. Di pulau ini suasananya sangat berbeda dengan pulau yang ditempati Cahaya. Pulau ini sedikit ramai dan sudah lebih modern. Meskipun tak seramai dengan perkotaan tetapi pulau ini sudah tersentuh teknologi.
Di pulau ini banyak sekali bangunan rumah penduduk, kebanyakan penduduknya bermata-pencaharian sebagai nelayan.
Fajar sama sekali tidak merasa asing ketika berada di pulau ini, berbeda sekali dengan Cahaya yang terlihat takut bertemu dengan banyak orang. Apalagi tempat yang mereka kunjungi kali ini adalah sebuah pasar.
Untungnya disini masih menggunakan sistem barter, jadi mereka menukar hasil pertanian mereka dengan apa yang ingin mereka beli. Ibunya Cahaya tampak santai dan masih bisa berbaur dengan orang-orang disekitarnya.
Fajar yang risih karena salah satu tangannya masih dipegangi oleh Cahaya berusaha meyakinkan dirinya agar ia tidak takut.
“Kamu takut?”
Cahaya mengangguk pelan, sorot matanya masih melihat ke sekelilingnya. Ayahnya menyenggol lengan istrinya.
“Bu, apa tidak sebaiknya menyuruh Cahaya dan Fajar untuk menunggu di perahu saja.”
Ibu Cahaya melihat keadaan putrinya, ia prihatin akan keadaan putrinya itu. Keegoisan orangtunya membuat gadis itu tumbuh kurang bersosialisasi. Ia pun mengangguk tanda setuju pada suaminya.
Ayah Cahaya mendekati putrinya dan Fajar.
“Jar, bisa kamu mengantar Cahaya ke perahu saja, sepertinya ia tidak bisa berbaur dengan keramaian.”
“Iya Pak, biar saya menunggu di perahu saja.”
“Sepertinya keinginanku untuk ikut kesini adalah sebuah kesalahan,” batinnya.
Lalu ia pun mengajak Cahaya menuju perahu. Dari kejauhan tampak seorang lelaki yang mengawasi gerak-gerik Zein. Ia mengusap beberapa kali matanya.
Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk beberapa kali hanya untuk memastikan apakah benar yang ia lihat itu adalah Pak Zein, mantan majikannya yang sudah dinyatakan meninggal beberapa waktu lalu.
“Astaghfirullah, itu benar Pak Zein.”
“Apakah aku tidak salah melihat? Tapi kenapa ia berpakaian biasa? Lalu siapa gadis yang disebelahnya?”
Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di benak orang itu. Ia pun bergegas untuk pulang ke rumah dan segera memberi tahu mantan majikannya itu.
Beberapa saat kemudian teleponnya tersambung dan sayang sekali sekarang ia sudah tinggal dengan suami barunya. Pak Dede menghela nafas, lalu meminta no telepon rumah yang baru.
Lalu sesudah telepon tersambung, ia segera berbicara dengan Nisa.
“Hallo, Assalamu'alaikum...?”
“Wa'alaikumsalam, Ibu Nisa?”
“Iya, maaf ini siapa?”
“Saya mang Dede Bu, saya pernah bekerja di rumah ibu yang lama saat masih bersama Pak Zein.”
“Oh iya, ada apa mang?”
“Itu Bu, saya baru saja melihat Pak Zein berada disini.”
Prang ... gelas yang dipegang Nisa terjatuh ke lantai.
“Bu, anda tidak apa-apa?” tanya Mang Dede hawatir.
“Nggak apa-apa pak, maaf apa bapak bisa memberi tau saya alamat bapak?”
"Bisa Bu."
"Mbok Jah ...."
"Iya Nyonya ..."
Mbok Jah berlari dengan tergopoh-gopoh dari arah dapur.
"Tolong ambilkan aku pulpen dan kertas."
"Baik Nyonya."
Lalu ia pun mengambilkan Nisa alat tulis serta kertas. Nisa pun segera mencatat apa yang dikatakan oleh Mang Dede. Tak lupa ia mengucapkan banyak terimaksih padanya.
Seketika air mata Nisa lurulah sudah, ia sangat syok mendapati hal itu. Tapi ia tidak mau kehilangan kesempatan kembali. Ia pun menyuruh salah satu ajudannya untuk pergi menjemput suaminya itu.
Sedangkan ia tidak bisa pergi karena ia sedang hamil besar. Ia juga sedang mengatur bagaimana nantinya ia akan berbicara dengan Fadhil dan Zi.
Bagi mereka suaminya sudah meninggal, sehingga ia memberi kesempatan pada Fadhil untuk menjadi suaminya.
Setelah ia mencatat alamat pemberian Mang Dede, ia segera mengahiri telepon itu. Tapi sebelumnya ia meminta Mang Dede untuk mengawasi Zein sampai ia tiba di kota itu.
Sementara itu sedari tadi Fajar mengerti kalau ia dimata-matai, ia pun menyuruh Cahaya untuk bersembunyi di belakangnya.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Ia pun menghapus praduganya, lalu mengajak Cahaya untuk duduk di tepi pohon.
Belum sampai ia melangkah, bahunya ditepuk oleh orang yang tidak dikenal. Saat Fajar menoleh, ia pun pingsan. Lalu beberapa orang membawanya pergi, sedangkan Cahaya sudah pingsan di bawah pohon itu.
Ternyata Mang Dede menghipnotis Fajar dan Cahaya, hanya dengan satu kali tepukan mereka akan pingsan.
Di saat tidak ada yang melihat, ia dibawa ke salah satu rumah penduduk setempat. Sampai keadaan membaik dan tidak ada yang curiga baru ia akan membawa Fajar pergi darisana.
Saat kedua orangtua Cahaya kembali mereka kaget karena mendapati putrinya pingsan dan Fajar tidak ada di tempat. Mereka ahirnya memutuskan untuk segara kembali ke pulau mereka tanpa mencari tau keberadaan Fajar.
Mereka lebih takut pada kondisi putrinya yang tiba-tiba pingsan ketimbang mencari Fajar. Ketakutannya bertambah ketika ia mengingat kejadian beberapa tahun yang silam.
Dengan segera mereka pergi dari pulau itu. Ditengah perjalanan, ayah Cahaya menguatkan batin istrinya yang masih terguncang saat itu. Ia bahkan mengayuh dayungnya sendirian saat ini.
Istrinya sibuk memeluk sang putri satu-satunya itu. Sedangkan ketika Mang Dede sudah melihat orang yang bersama tuannya tadi sudah meninggalkan pulau itu. Maka ia pun segera menelpon Nisa.
Nisa yang tau kabar terbaik itu sangat bahagia, tak lupa ia berterimakasih pada Mang Dede, lalu mengutus assisten Yo untuk menjemput Mang Dede dan putranya.
Ya, dengan dalih mengatasnamakan Zein sebagai anak Mang Dede, setidaknya Yo tidak akan terlalu curiga padanya. Nisa tak berani berterus terang pada Yo, karena takut ia akan menolak permintaan Nisa.
Di satu sisi ia baru menyiapkan bagaimana caranya agar Fadhil tidak marah jika ia tau kalau dirinya menyuruh adiknya untuk menjemput suami pertamanya. Di sisi lain ia amat bahagia akan kehadiran suaminya terdahulu, cinta kedua Nisa yang sangat mencuri hati dan jiwanya, Zein.
Nisa begitu yakin akan hal itu, karena saat Mang Dede mengirimkan fotonya, hatinya sudah bergetar. Ia sangat yakin kalau itu suaminya. Sepertinya mimpi-mimpinya ahir-ahir ini seolah memberi tahunya akan satu kebenaran yang sudah lama dan hampir hilang di telan waktu.
Ia pun berencana agar Mang Dede membawa suaminya itu ke rumah lama mereka. Sedangkan secara bertahap ia akan mengunjunginya nanti, bukan saat ini.
Awalnya Yo sempat curiga akan perintah Nisa yang tiba-tiba, tetapi berkat keahlian Nisa dalam merayu ahirnya Yo menyetujui permintaan Nisa.
.
.
.
Hai-hai kak, jangan lupa tekan ❤ dan favorit ya, agar nanti saat update bisa tau.. terimakasih