
Rencana kepergian Zein ke rumah Nisa sudah bulat. Hari ini ia mulai menyiapkan hatinya jika nanti ia benar-benar berkunjung ke rumah Nisa. Ia juga tidak mau berlama-lama merasa bimbang dalam perasaanya. Mungkin dengan begini ia bisa merasa lebih tenang.
Lalu dengan bantuan Mang Dede ahirnya ia pun diperbolehkan datang ke rumah Nisa. Kebetulan dua hari lagi adalah acara aqiqah untuk Aaron, putra kedua Nisa, hasil pernikahannya dengan Fadhil.
Mendengar Nisa sudah memiliki keluarga baru entah mengapa perasaannya tidak karuan. Ada rasa tak biasa dan tak bisa diungkapkan olehnya.
Sebelum ini ia pun juga sudah diberi tahu kalau Nisa sudah menikah lagi satu setengah tahun yang lalu. Karena Zi membutuhkan sosok ayah dan perusahaan Nisa semakin berkembang mau tidak mau ia harus memiliki pasangan hidup yang bisa membantu untuk menghandle perusahaan peninggalan Zein.
Mang Dede juga bercerita kalau setelah Zein pergi, Nisa merasa sangat terpuruk. Ia hampir depresi karena cinta sejatinya meninggalkannya. Beruntungnya Fadhil selalu berada di sisi Nisa. Begitu pula dengan pengasuhan Zi. Fadhil bahkan sudah menganggapnya sebagai putranya sendiri. Mungkin karena kasih sayangnya dan seluruh perhatian untuknya dan Zi. Maka ahirnya satu setengah tahun yang lalu Nisa ahirnya luruh dan mau menjadi pendamping hidup untuk Fadhil.
Entah kenapa meskipun ingatannya belum pulih kembali, tetapi hatinya merasakan getaran lain meski hanya dengan menyebut namanya saja.Tetap saja hatinya tidak tenang jika mendengar nama Nisa ataupun Zi. Zein sangat bingung dengan perasaanya kali ini. Tetapi ia harus secepatnya memastikan segalanya. Agar setidaknya ia bisa bernafas dam berpikir lebih jernih lagi.
Mang Dede juga tidak bisa membantu banyak dalam hal ini, posisinya kini hanyalah perantara untuknya dan Nisa. Bagaimanapun nanti hasil ahirnya ia serahkan pada Allah.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Kediaman Nisa....
“Eh cucu ganteng nenek sudah mandi, ya ampun tambah ganteng-e MasyaAllah ...” puji Ibu Fadhil setelah memandikan cucunya.
“Yo jelas ganteng to Bu-ne, lawong cucuku lo,” ujar sang kakek yang berada disitu.
“Nang-ning ... ning-nong o’k ... nang-ning ning-nong o’k...” bunyi sang nenek ketika menimang-nimang cucu pertamanya.
Begitu bahagianya ia bisa memiliki cucu, ahirnya ia memiliki cucu dari anak pertamanya. Memang sebentar lagi adik Fadhil juga akan segera menikah, tetapi dalam hati ibunya sebenarnya ua belum terlalu setuju. Untungnya ada kabar bahagia dari Fadhil dan Nisa. Sehingga ia bisa mengalihkan perhatiannya sebentar.
Nisa masih setia memandangi putranya yang ditimang oleh mertuanya. Ia memang belum boleh melakukan apapun saat ini. Karena selama nifas, Nisa tidak boleh melakukan hal-hal yang bisa membuatnya lelah. Entah kenapa setelah Aaron lahir, Fadhil semakin menunjukkan rasa cintanya pada Nisa. Ia juga tidak tega melihat Nisa begadang saat Aaron rewel.
Meskipun ia lelah bekerja tetapi ia tidak pernah menunjukkan rasa capeknya pada Nisa. Ia bahkan rela begadang demi menimang Aaron saat rewel.
Segala perhatian tercurah untuk keluarga kecilnya. Ia juga membiasakan Zi ikut andil dalam merawat Aaron. Terkadang Zi juga pengen menggendong Aaron, tetapi instruksi Fadhil membuatnya membuang rasa ingin taunya itu. Ia juga tidak mau adiknya kenapa-napa jika ia nekad menggendong Aaron.
Tetapi sepulang sekolah setelah membersihkan diri, ia selalu ikut bergabung dengan kakek neneknya untuk bersama-sama menjaga Aaron.
Beruntung Aaron tipikal anak yang tidak mudah cengeng dan mengerti. Ia memang belum bisa berbicara tetapi dengan dia anteng saat dirawat, itu memudahkannya para orangtua untuk mengasuhnya.
Hal yang paling lucu itu ketika ia kehausan, dengan segera ia akan menangis sekencang-kencangnya lalu setelah diberi ASI oleh Nisa ia akan langsung diam dan anteng. Ia juga sangat suka menyusu, kalau sudah diberi ASI ia pasti betah berlama-lama di pangkuan Nisa.
Memang saat ini Nisa tidak pernah memberi tambahan ASI untuk Aaron. Aaron hanya diberi ASI saja tidak ada susu Formula atau apapun yang diberikan padanya. Hanya saja porsi makan Nisa akan bertambah berkali-kali lipat sesudah menyusui Aaron.
Memang wajar bagi ibu hamil jika porsi makannya bertambah, karena memang ia harus memberikan ASI terbaiknya untuk bayinya. Sedangkan Fadhil selalu mengusahakan agar nutrisi yang dimakan Nisa sangat cukup untuknya dan Aaron.
...🍃Seperti pagi itu.🍃...
Sedangkan disisi lain mertua dan orang tua Nisa bahagia melihat kemesraan putra dan menantunya itu. Beruntungnya Zi tidak cemburu pada perhatian yang lebih banyak diberikan ayahnya pada ibunya.
.
.
Dua hari kemudian.
Ahirnya kini dengan segenap kebesaran hati dan mengumpulkan seluruh keberaniannya, hari itu Zein diantar Mang Dede menuju kediaman Fadhil.
Debar jantung Zein semakin tidak beraturan ketika ia memasuki halaman rumah itu. Dari kejauhan rumah itu tampak ramai. Apalagi banyak terlihat beberapa mobil yang terparkir apik di halaman rumah.
“Mang kita pulang saja, sepertinya hari ini bukan waktu yang tepat untuk kita.”
“Tenang Den, ada saya disini, ini dipakai dulu maskernya.”
“Hhmm... begitukah?”
“Iya, nanggung kalau harus pulang.”
Ahirnya meskipun ia ragu, ia pun kembali memantapkan niatnya untuk bisa melihat Nisa. Diraihnya masker yang sudah diberikan Mang Dede kepadanya, lalu ia sematkan di kedua daun telinganya.
Demikian juga dengan Mang Dede yang juga memakai masker yang serupa dengan milik Zein. Maklum masa sekarang masih masa pandemi, maka protokol kesehatan harus mereka patuhi demi kesehatan bersama.
...
Sedangkan di dalam rumah Nisa. Semua keluarga sedang bersuka cita. Apalagi hari ini acara aqiqah untuk Aaron. Nisa memakai busana muslim berwarna senada dengan suami dan anaknya yang berwarna putih.
Kedua orang tuanya dan juga mertuanya juga sudah berkumpul di ruang tamu berserta beberapa tamu undangan.
Fadhil memang mengundang beberapa kolega bisnisnya untuk bersama-sama merayakan aqiqah Aaron. Terlihat wajah bahagia dari pasangan suami istri itu. Zi juga sudah bergabung bersama kedua orangtuanya dan juga adiknya.
Mereka lalu berkumpul bersama di ruang tamu. Beberapa tamu undangan juga sempat memuji ketampanan putra mereka. Banyak juga yang memuji keberuntungan Fadhil yang memiliki istri secantik Nisa dan putra yang ramah seperti Zi.
Sungguh tampilan keluarga bahagia serta sempurna terlihat disana. Sedangkan dari arah pintu utama sudah ada Mang Dede berserta Zein yang mematung disana. Hati dan jantung Zein berhenti berdetak untuk sepersekian detik ketika melihat kedua orang yang pernah hadir dan mengisi hatinya.
Mata Nisa pun melihat sosok yang ia kenali di depan sana. Tapi ia belum bisa memastikannya. Ia masih memperhatikan dari kejauhan siapa mereka berdua.