
Tetapi Yo tidak pernah menerima perhatian mereka, karena ia tidak mau terjebak dalam urusan wanita. Lebih baik ia menikmati dunianya sekarang, sebelum nanti direpotkan dengan urusan wanita.
...π~π~π~π~π...
Setelah beberapa menit kemudian, Nisa sudah berhenti menangis, ia pun juga sudah berganti pakaian. Kini mereka ada di balkon hotel sembari melihat keindahan menara yang ada didepan kamar mereka.
"Mas, maaf ya untuk kejadian tadi."
"Iya gak apa-apa kok sayang... " ucapnya sembari tersenyum.
"Maaf karena kadang sisi lemahku muncul tiba-tiba," ucap Nisa sembari menunduk.
"Iya ..."
"Nisa ..."
"Ya mas ..."
"Ga nyangka ya, akhirnya cinta kita bisa bersatu."
Sambil mengukir senyum ia menoleh ke arah suaminya," Iya mas, padahal dulu kita ga sedekat ini..."
"Boleh aku jujur padamu, tapi aku mohon kamu jangan marah karena hal ini."
Nisa mengangguk.
"Sebenarnya aku sudah menaruh hati padamu sejak pandangan pertama. Sejak Yogi mengenalkan aku padamu."
"Hahh ..."
"Iya, awalnya aku menepis semua perasaanku padamu, terlebih sikapmu padaku dulu sangatlah dingin kepadaku."
"Masa sih mas?"
"Hu um ..."
"Memang kamu 'ga ingat, dulu aja kamu bicaranya irit sama aku, kalau aku mengantarkan kamu, kamu selalu menolaknya, sapa yang ga mundur kalau digituin."
"Eh, he he he ... ya maaf mas, saat itu kan aku udah punya pacar, jadi ga mungkin memberikan harapan pada lelaki lain."
"Iya .. iya ... jadi yang salah aku ya disini, gini amat ya idup gue, mencintai orang dengan sepenuh hati, tapi ga pernah diberi kesempatan, hiks ... hiks ... hiks ..." ucapnya mendramatisir keadaan.
"Ga gitu juga sih mas, aku ga mau kamu kecewa dengan memberikan harapan palsu untukmu."
"Serius??"
"Hu um ..." jawab Nisa manja.
"Ah, untung saja itu dulu, sekarang aku bebas ngapain aja sama kamu, istriku... bidadariku... I love you so much ..." ucapnya sambil memeluk istrinya dengan erat sembari menciuminya.
"Mas ih ... lepas, malu tau ..."
"Ngapain malu, toh semuanya udah halal juga."
...***...
YOSHUA POV
Tulilut tulilut ... bunyi HP yo sudah berisik sejak lima menit lalu, tapi belum diangkat pula oleh pemiliknya.
Di seberang sana.
"Huh, om mana sih? lama amat, masa lupa jemput aku di sekolah." Omel Zi kecil di depan ruang kelasnya.
Dari kejauhan tampaklah Sharen yang masih setia menunggunya, tapi ia tak berani mendekati Zi karena takut amukannya datang. Karena tadi pagi tak sengaja Sharen membuatnya kena omelan guru di kelasnya.
Sementara di kantor.
"Ah leganya ..." ucap Yo sesudah keluar dari toilet.
Ia pun kembali ke meja kerjanya. Sebenarnya Yo tidak pernah masuk ke ruangan Fadhil tanpa seijin pemiliknya. Tetapi karena dari laporan security ia mendapati laporan Sheril memasuki area perusahaan D'Corp, ia pun menyusun sebuah rencana yang akan membuatnya naik darah.
Sesuai prediksi Sheril yang tidak tau Fadhil sedang ke luar negeri segera nyelonong masuk ke ruangan Fadhil. Beruntungnya ia sudah menduduki kursi Fadhil ketika ia masuk. Dan terjadilah hal yang sangat menggelikan untuknya.
Dengan langkah penuh amarah, Sheril berhasil diusir keluar dari perusahaan D'Corp. Lagi pula pagi ini udah diberi penyemangat kerja dengan mengerjai Sheril.
Yo segera meraih ponselnya, dilihatnya panggilan telepon dari Zi sudah beberapa kali panggilan.
"Haduh, boss kecil pasti sangat marah," gumamnya.
Dengan langkah tergesa ia pun menuju tempat parkir dan menjemput Zi disekolahnya.
...~Bersambung~...
.
.
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAKππ...