After Married

After Married
SEMUA GARA-GARA YO



"Boy, sudah dong ngambeknya, maafin om yah ..."


Zi tetap saja diam membisu sembari bersedekap kedua tangannya. Dia tidak mau menerima alasan apapun, kenapa assisten ayahnya sekaligus pamannya tersebut datang terlambat untuk menjemputnya ke sekolah.


"Oke, apapun yang kamu minta om akan kabulin dengan syarat kamu maafin om." Pinta Yo untuk terahir kalinya.


Ia sangat bingung menghadapi sikap Zi yang gampang berubah-ubah dan cepat ngambek. Biasanya dia selalu baik-baik saja, tetapi sejak ditinggal kedua orangtuanya honeymoon, mood Zi jadi ikutan berubah.


Bahkan sejak kemarin Zi tidak mau berbicara dengannya. Padahal segala cara sudah ia lakukan demi membuat keponakannya tersebut kembali ceria. Ingin rasanya ia menelpon kakak iparnya tersebut, tetapi Yo lebih takut diamuk Fadhil. Jadilah sekarang ia berada dalam situasi seperti ini.


"Hhh... lebih mudah menjinakkan wanita ketimbang merebut hati anak kecil rupanya." Jerit hati Yo saat itu.


Ia pun terduduk dikarpet dengan lemas sembari melirik Zi kecil. Zi masih saja membuang muka padanya. Tiba-tiba saja telepon berbunyi.


Kring


Kring


Kring


"Hallo ..." ucap Zi yang mengangkat telepon.


"Hallo sayang, ini mommy ..."


"Mommy.... " teriak Zi.


Yo sampai menoleh karena mendengar teriakan Zi.


"Iya sayang, ini mommy and daddy... kamu sedang apa sayang ? gimana kegiatan hari ini?"


"Mm ... membosankan mom.." jawab Zi lesu.


"Kenapa sayang? apa yang terjadi ?"


"Sharen kembali mengejar-ngejar aku mom.. apalagi tadi..." ucapan Zi terjeda karena ia melirik pamannya.


Yo pun mengedipkan salah satu matanya ke arah Zi. Niatnya agar Zi tidak melapor pada Nisa dan Fadhil, tapi sepertinya akan tetap dilaporkan. Dan sekarang Zi malah bergidik geli karena tingkah pamannya tersebut.


"Tadi om yo terlambat menjemputku.. jadilah Sharen semakin gila mendekatiku..."


"Pufftttt... " Yo yang sedang minum pun menyemburkan minumannya karena kaget.


"Sialan anak ini mengadu ..." umpat Yo dalam hatinya.


Sedangkan Zi bersorak karena ia bisa mengerjai pamannya tersebut.


"Syukurin om, biar sekali-kali om kena semprot mommy .." batinnya.


Sedang di belahan dunia lain, Nisa dan Fadhil menahan tawanya agar tidak kedengaran di sambungan telepon. Ingin marah tapi itu bukan sesuatu yang perlu untuk diperpanjang. Tapi ia juga tidak mau melihat putranya kecewa.


"Oke, mana om kamu, biar mommy marahin om."


"Om.. ini mommy ingin bicara sama om," Ucapnya sembari mengulurkan telepon pada Yo.


"Sialan.. bakal kena omel kakak ipar nih." Batinnya.


Mau tak mau ia pun harus menerima semua konsekuensi akibat dari perbuatannya. Dengan langkah lunglai ia pun menerima panggilan telepon dari Nisa.


Sedangkan disana, Fadhil memberikan isyarat pada istrinya agar Hp-nya diberikan padanya.


"Tapi mas ..." tangan Fadhil mengisyaratkan agar Nisa menutup mulutnya dan membiarkannya bertindak. Ia juga ingin sesekali mengerjai adik sekaligus assistennya itu.


Ahirnya Nisa pun mengalah. Saat Yo memegang telepon dari Zi, tiba-tiba ia mendengar suara yang mengagetkannya.


"Yoooo...." Fadhil pun berteriak saat Yo mulai menempelkan telepon ke telinganya.


Alhasil Yo langsung melempar teleponnya ke lantai. Zi sontak kaget dan melotot pada pamannya itu.


"Paman ... kenapa dilempar HP-nya ...?"


"Ma-maaf sayang, paman kaget ... habis daddymu baru saja berteriak." Ucap Yo dengan wajah memelas pada Zi.


Sedang yang di seberang sana juga kaget karena tiba-tiba sambungan telepon terputus.


"Mas, ngapain kamu ikutan teriak? pasti Yo sangat kaget disana." Omel Nisa pada suaminya.


Dia jadi bingung sendiri, niatnya cuma mengerjai Yo, eh istrinya malah ikut-ikutan marah. Bisa-bisa ia tidak dapat jatah malam ini. Padahal seharian tadi dia sudah bersikap romantis pada istrinya.


"Gara-gara Yo semuanya jadi kacau balau." Batin Fadhil.


"Hmm ...liat saja nanti sepulang dari sini, aku potong gaji kamu Yo." Ucap Fadhil dalam hatinya.


Melihat istrinya semakin menjauh, Fadhil pun segera menyusul istrinya tersebut.


...***...


Terkadang sifat-sifat kita tidak selamanya sempurna. Kita juga punya dua sisi, kadang kita bisa terlihat sempurna, kadang kita juga bisa terlihat tidak berdaya. Kadang kita juga bisa merasa jengkel akan sikap seseorang, begitu pula dengan Nisa.


Kini Nisa juga sudah terbiasa memperlihatkan sosok lemahnya didepan Fadhil. Ia wanita biasa yang terkadang juga suka berubah mood-nya.


Setelah ia berhasil menemukan Nisa di balkon, ia segera memeluk tubuh istrinya tersebut. Sekarang tubuh Nisa seolah menjadi candu bagi Fadhil. Aroma tubuh Nisa yang menguar membuatnya semakin lengket pada istrinya tersebut.


"Sayang jangan ngambek dong, kan bentar lagi kita udah balik ke Indonesia."


"Iya kah?"


"Iya sayang, aku tau kamu sudah merindukan Zi bukan?"


Nisa mengangguk.


"Aku pun begitu juga, aku sangat merindukan Zi, aku tak akan tega meninggalkannya terlalu lama. Mm... bagaimana kalau nanti kita liburan bertiga seperti kapan hari?"


"Beneran nih?"


"Iya sayang, selagi aku mampu membahagiakan kamu dan Zi, apapun yang kalian inginkan akan aku usahakan semampuku. Karena kalianlah kebahagiaanku sekarang dan selamanya."


Nisa sangat tersentuh dengan perkataan suaminya tersebut. Ia pun membalikkan badan dan mendekap erat suaminya tersebut.


"Terimakasih sayang." Ucap Nisa.


"Sama-sama sayang." Balas Fadhil.


"Kalau begitu kita masuk yuk." Ajak Fadhil pada istrinya.


Dengan bergandeng mesra, Fadhil pun membawa istrinya masuk ke dalam kamar. Udara di luar pun terasa sangat dingin malam itu. Ia pun tak ingin melihat istrinya kedinginan.


Mumpung suasana mendukung, Fadhil yang masih belum puas dengan permainan barunya kemarin malam pun segera menuntaskannya kembali bersama sang istri tercinta.


Awalnya Nisa menolak, tetapi ia tidak mau mengecewakan suaminya, maka dari itu ia pun menuruti permintaan dari suaminya itu. Dan ahirnya malam itu, mereka melepaskan dan melakukan semua hal yang biasa dilakukan oleh pengantin baru.


Paris memang menjadi saksi bagaimana cinta mereka mulai bersemi satu sama lain. Di tempat itu pula Nisa memberikan semuanya pada suaminya. Semua cinta, harapan dan kasih sayangnya kini ia berikan untuk suaminya tersebut.


Orang yang rela menunggunya selama bertahun-tahun. Orang yang dengan setia menemani setiap suka duka maupun kebahagiaan yang meliputi Nisa dan Zi. Bahkan Fadhil adalah satu-satunya saksi dimana Nisa sempat terpuruk dan bangkit seperti saat ini.


Meskipun dulu Nisa sempat menolak kehadiran Fadhil, tetapi sekarang ia menerimanya. Menerima semua kekurangan dan kelebihan yang ada pada suaminya. Paris telah menyatukan cinta mereka dan akan menjadi saksi dimana cinta Fadhil dan Nisa akan di uji nantinya.


...~Bersambung~...


.


.


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...