After Married

After Married
MASA LALU



Ada hal yang mungkin selalu mengikuti kita setiap saat, mungkin itu sebuah masa lalumu yang belum terselesaikan. Jika sebuah masa lalu yang bisa memberikan kita sebuah pelajaran, kenapa kita terus menyalahkan masa lalu.


...........


"Nisa?"


"Iya mas."


"Sini bentar," ucap Fadhil sembari menepuk kursi empuk di sebelahnya itu.


Setelah menyisir rambutnya ia pun mendekati suaminya.


"Iya mas."


"Besok, keluarga Alexa mau datang, maukah kamu membantu mas buat mempersiapkan segalanya?:


"Boleh mas."


"Oke, jadi aku punya rencana kayak gini."


"He-em."


Nisa pun mulai memperhatikan semua penjelasan dan rencana suaminya itu.


"Terus mereka nginap dimana mas?"


"Katanya mau minjem rumah Zein untuk menampung mereka."


"Hust, kalau ngomong jangan sembarangan mas, mereka tuh bukan ngungsi."


"Jadi intinya Yo sedang memilihkan sebuah rumah yang nyaman untuk mereka tinggal sementara."


"Iya... iya sayang."


"Awas aja mas berani ngomong ngawur aku cubit nanti," ancam Nisa.


"Auwwwhhh ..."


"Ih mas nyebelin, orang gak aku apa-apain, udah berakting segala."


"Wkwkwk ... tapi kamu seneng kan?"


"Iya lah, sudah kepaksa sih, mau gimana lagi?"


"Hmm, kok gitu, emang kepaksa nikah sama akunya?"


Entah kenapa perbincangan mereka kembali serius saat itu. Hingga Nisa yang awalnya hanya berniat main-main jadi terjebak dengan kata-katanya sendiri.


Fadhil meraih tangan Nisa lalu membuat Nisa hanya bisa fokus padanya. Diraihnya tengkuk Nisa lalu sepersekian detik berikutnya, bibir mereka saling menempel satu sama lain.


Bahkan mereka sudah bertukar saliva untuk beberapa saat lalu. Nisa mulai memejamkan kedua matanya dan hanya berfokus pada kegiatannya dengan Fadhil.


Fadhil yang sudah tau istrinya mulai terpancing, segera memutus tautan bibir mereka. Nafas mereka tampak terengah-engah.


Nisa hanya mengangguk pasrah. Baginya kelakuan suaminya barusan sengaja dilakukan agar Nisa tunduk padanya.


"Kalau mau dilanjutkan jawab dulu pertanyaan ku?"


"Pertanyaan apa mas?"


"Apa benar kamu mau menikah dengan mas karena terpaksa?" tanya Fadhil mulai serius kembali.


"Mas, bagaimanapun awalnya tetapi pada ahirnya jiwa ragaku bahkan hatiku hanyalah untukmu seorang mas."


"Aku tidak pernah menyesal telah menikah denganmu. Aku hanya menyesal ketika mendapati bahwa aku terlambat mengetahui rasaku ini untukmu."


" Ma-maksudnya?"


"Maksudnya aku sebenernya juga jatuh cinta padamu jauh sebelum kita semakin dekat. Hanya saja waktu itu aku mencoba membuang jauh perasaanku kepadamu."


"Kenapa?"


"Karena saat itu Zein selalu ada di sisiku bahkan ketika aku jatuh terpuruk, hanya dia yang selalu ada untuk menemaniku."


"Memangnya sejak kapan kamu mencintaiku?" tanya Fadhil penasaran.


"Sejak kita kenalan saat pertama kali, ada Yogi juga disana."


"Benarkah?"


"Iya, aku sudah mulai mencintaimu saat itu. Sayangnya Zein datang lebih dulu darimu."


"Berarti sejak awal aku mulai mendekatimu sebenernya kamu juga menginginkan hal itu?"


Nisa mengangguk, tetapi justru hal itu semakin membuat Fadhil menyukainya."


"Kenapa tidak bilang dari dulu sayang, seandainya aku tau cintaku berbalas..."


"Mungkin aku akan berusaha lebih giat lagi untuk merebutmu darinya."


"Wkwkwk, tapi nyatanya hal itu tetap terjadi bukan?"


"Iya."


"Tapi terimakasih sayang sudah mengatakan kebenarannya padaku saat ini."


"Setidaknya aku merasa sangat beruntung karena bisa mendapatkanmu beserta Zi."


"Iya, aku juga mengucapkan terimakasih karena sudah menerima segala kekuranganku dan mau membimbing di jalan terindah menurut Allah."


"Iya sayang, love you ..."


"Love you to my hubby ..."