
Setelah merasa kenyang, Sheril mulai membersihkan sisa-sisa makanan di bibirnya. Sayangnya matanya terpaku pada satu camilan yang belum ia sentuh.
Kini di hadapannya tersaji wader goreng crispy. Entah kenapa camilan itu begitu menggodanya, seolah ia menari-nari indah dalam pokiran Sheril.
Hanya dengan memandang tampilannya saja, meleleh sudah air liurnya. Antara harus mempertahankan egonya atau memilih 'acuh', ia pun bingung harus berbuat apa terhadap satu menu yang belum ia sentuh itu.
"Makan atau bungkus?"
Sambil berfikir, Sheril mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari. Bibirnya yang imut pun sudah ikut maju ke depan. Membuat siapa saja yang memandangnya akan terhipnotis akan wajah manis Sheril.
"Fix, kamu aku bungkus!" ucap Sheril sambil menunjuk menu wader itu.
Ketika melihat salah satu pramusaji lewat di samping mejanya, ia melambaikan tangan.
"Mas!" ucap Sheril sambil menaik turunkan alisnya.
Tak lupa senyuman termanis ia berikan pada pramusaji itu. Tentu saja hal itu membuat, pelayan itu salah tingkah.
"Iya, Mbak."
"Sini," tangan Sheril sudah melambai-lambai, mengisyaratkan agar pramusaji itu mendekat.
"Mas, bisa minta tolong bungkus yang ini ya, plus, tambah dua menu yang sama dengan ini, dibungkus sekalian, terima kasih."
"Oh, oke, Mbak."
Pramusaji itu memberikan kode tangan oke pada Sheril. Setelah memastikan semua pesanan lengkap dan sesuai, Sheril segera membayar semuanya lalu pergi dari tempat itu.
Merasa sudah siap bertemu dengan Leo, Sheril bergegas menuju mobilnya. Tak lupa di salah satu tangannya sudah menenteng paper bag berisi snack, camilan untuk nanti malam.
Sembari terus bernyanyi, Sheril melajukan mobilnya ke apartement Leo. Untungnya jalanan sore itu cukup lengang, sehingga jarak tempuh dari restaurant ke apartement Leo cukup dua puluh menit saja.
Padahal kalau jalanan ramai, butuh waktu sekitar empat puluh lima menit. Tentu saja lama, karena arah restaurant dengan arah apartement itu melenceng jauh.
๐๐๐
Dua puluh menit kemudian.
Lima menit kemudian.
Di depan kamar bertuliskan 202, Sheril menekan tombol rahasia milik kekasihnya itu.
Tring, pintu terbuka.
Ruangan itu tampak sepi. Hanya gemericik air yang terdengar dari arah kamar mandi.
"Sayang, kamu lagi mandi ya?" teriak Sheril dari ruang dapur.
Leo yang mendengar panggilan dari luar, menghentikan tombol shower miliknya.
"Iya, sayang, sebentar lagi selesai."
Sambil menunggu Leo mandi, Sheril mendudukan dirinya di sofa tetapi sayangnya, pan**tnya terkena bros.
"Punya siapa ini?" ucapnya sambil melihat dengan teliti.
Karena terlalu teliti, ia sampai mengendus-endus bros itu.
"Ha-ah, bau yang sama dengan waktu itu."
Bayangan Sheril sudah memikirkan hal-hal aneh. Ia pun sampai membayangkan jika wanita itu adalah selingkuhan Leo. Tanpa ia sadari, kakinya sudah menjejak-jejakan ke lantai saking gemasnya.
"Awas saja kamu, Lemon! Argghhh ..."
Tak berapa lama kemudian ternyata Leo keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah menambah kadar ketampanan miliknya menjadi berlipat-lipat. Rasa amarah yang sebelumya menyerang, sudah menguap entah kemana. Beruntungnya Sheril itu pelupa dan gampang luluh, sehingga ia pun sudah lupa tujuannya kemari.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Eh, em, itu, anu ..."
...๐นBersambung๐น...