After Married

After Married
DETIK DETIK



“Aduh... awhh ... sakit ...” rintih Nisa ketika proses pembukaan yang dialaminya terus bertambah.


 


Entah kenapa rasanya lebih sakit ketimbang saat ia mau melahirkan Zi. Apalagi sang calon bayi keduanya ini geraknya lebih aktif. Meskipun tidak serewel Zi, tetapi kehamilan keduanya ini memang rasanya lebih berbeda.


 


Senep ... senep ... mules banget rasanya.


 


Sepertinya yang di dalam perut sudah ingin keluar, tetapi kenapa kata bidan tadi pembukaannya masih berjalan tiga, harusnya kalau sudah mulas sekali harusnya udah mau lahir dong.


Gak, gak aku yakin sebentar lagi pasti kamu akan segera bertemu mama, ga mungkin lama kan? Masa tega liat mama kesakitan lebih lama? Nisa pun bermonolog dalam hatinya.


 


Sejak tadi pikirannya sudah tidak karuan, apalagi baru saja tetangga kamarnya sedang dalam proses melahirkan sekarang. Hal itu ia ketahui ketika tadi suster menyebutkan nama pasien yang mau melahirkan.


 


“Hua... udah kaya antri apaan aja sih?” batinnya.


Terkadang memang Nisa mengalihkan perhatiannya agar tidak terlalu panik, tetapi rasanya tetap saja. Apalagi ketika rasa mulesnya gak hilang-hilang. Sungguh rasanya luar biasa, tidak bisa didefinisikan ataupun digambarkan.


 


Slep slep senut-senut... perut Nisa kembali mulas-mulas. Kali ini ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia pun tak sengaja mengejan karena saking tidak kuatnya menahan mulas.


Ia bahkan lupa jika ia mengejan otomatis akan menambah proses pembukaan yang dialaminya.


Seketika tangannya meraih sebuah tombol otomatis. Ia pun memencet tombol yang ada disamping brankarnya untuk memanggil tenaga medis yang berada tak jauh dari kamarnya.


Karena saat ia masih bisa berjalan tadi tak sengaja ia melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan ruangan siapa yang ada di kanan dan kiri kamarnya.


Sekarang ia pun pasrah karena sudah memencet tombol otomatis itu.


 


Kalaupun mau dimaki-maki sama bidan ia sudah masa bodoh, karena ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Dengan tergopoh-gopoh muncullah salah satu bidan jaga yang berlari ke ruangan Nisa.


 


“Permisi Bu, ada yang bisa dibantu?” sapanya dengan nafas masih belum beraturan.


 


Nisa pun menunjuk ke arah bawah, mulutnya sudah kelu untuk berkata lagi, karena sekarang konsentrasinya hanya fokus pada rasa sakit yang ia rasakan.


Seolah mengerti dengan kode yang diberikan Nisa, bidan itu lalu mengechek jalan bayi. Disibakkan selimut yang menutupi sebagian perut Nisa bagian bawah.


 


“Hah, sudah hampir pembukaan penuh...?” ucapnya tak percaya.


"Sebentar Bu, saya panggil tenaga medis yang lainnya dulu."


 


Ia pun permisi untuk memanggil tenaga medis yang lainnya. Karena saat itu tenaga medis yang lain masih berada di ruangan sebelah untuk membantu pasien yang melahirkan juga. Satu tenaga medis yang lebih senior ahirnya masuk ke ruangan Nisa.


 


“Bukannya pasien tadi masih mengalami pembukaan tiga,” ucapnya seolah tidak percaya dengan ucapan teman sejawatnya.


 


Dengan masih menggunakan sarung tangan medis ia pun segera menengok seberapa besar pembukaan Nisa.


 


“Astaga, iya sudah hampir pembukaan penuh, segera panggil suami ibu ini segera dan persiapkan semua peralatan untuk proses melahirkan, sekarang!”


 


“Ba-baik.”


 


Lalu beberapa tenaga medis yang lainnya mulai masuk ke ruangan Nisa. Beberapa diantaranya membantu Nisa untuk membenarkan posisi tidurnya, sekaligus memberi perlak tambahan di brankar Nisa.


Suster yang lainnya memanggil Fadhil dari luar ruangan. Fadhil yang kaget sekaligus senang ahirnya segera berjalan cepat menuju kamar Nisa.


Sesampainya disana sudah ada beberapa tenaga medis yang siap untuk membantu proses kelahiran normal Nisa. Ia juga bersyukur ahirnya tibalah waktunya untuk menguji adrenalin kembali.


 


 


“Kamu bisa sayang,” bisiknya perlahan.


 


Nisa pun mengangguk. Ketika semua peralatan sudah siap dan pembukaan Nisa sudah penuh, semua tenaga medis sudah siap bekerja.


 


“Bu Nisa, pembukaannya telah lengkap, Bu Nisa siap-siap dan ikuti semua intruksi dari saya ya!”


 


Nisa pun mengangguk, sedangkan kini Fadhil pun melirik ke arah jalan pembukaan bayi. Kini ia sudah berani melihatnya karena sekarang Nisa adalah istri sahnya, sedangkan beberapa tahun lalu statusnya hanya sebagai suami bayangan.


Sehingga saat itu ketika Nisa mengejan ia membalikkan tubuhnya. Tetapi kini ia memperhatikan dengan seksama apa saja yang dialami Nisa.


 


“Bu Nisa ambil nafas perlahan dan keluarkan secara perlahan, ambil nafas lagi lalu keluarkan lagi perlahan dan pada hitungan ketiga mengejan yang panjang ya Bu, usahakan jangan sampai menutup mata.”


"Oh ya satu lagi, usahakan jangan tersendat-sendat saat mengejan, agar kepala bayi tidak tertahan di tengah-tengah jalan."


 


Nisa yang sudah paham akan maksud sang bisan, ahirnya mulai mengikuti instruksi dari Bidan.


Peluh di keningnya bercucuran tak tertahan lagi. Tangan Fadhil yang satunya pun mengusap peluh itu dengan tissue sedangkan tangan lainnya tak pernah lepas dari genggaman tangan Nisa.


 


Saat ia mengejan tangannya pun tak luput dari cengkeraman kuat Nisa. Ia tidak berteriak tetapi mengikuti arahan bidan meskipun ia tau pasti sakitnya luar biasa.


 


“Eeghhhh  ... hhhh ... eeegghhh ... hhhhhh ... mmmm ... uhhh ... hosh ... hosh ....”


 


Nisa pun mengatur nafasnya yang terengah-engah. Lalu ia pun mulai mengejan lagi.


 


“Bagus Bu, terus-terus ... kepalanya sudah mulai kelihatan ... lagi ... ambil nafas dan mengejan lagi.”


 


“Arggghhhhh ... hhhh ....”


Fadhil yang melihatnya sedikit ngilu, kakinya tiba-tiba terasa meremang. Rasanya ia tidak kuat melihat perjuangan hidup dan mati istrinya untuk melahirkan buah hatinya.


Nisa yang sudah tidak kuat lagi, melirik suaminya yang merem melek disampingnya. Digenggamnya eret-erat tangan suaminya.


Fadhil membungkukkan badannya ke arah Nisa lalu membisikkan sebuah doa di telinga Nisa, menggenggam erat tangan sang istri agar ia sedikit tenang dan kuat dalam mengejan nanti.


Nisa begitu menikmati perhatian dari suaminya kali ini. Sesaat ia memejamkan matanya, menguatkan batinnya jika kali ini persalinannya lancar.


.


.


Adapun doa yang dibisikkan Fadhil pada sang istri adalah


آ إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ لَآإِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ لَآإِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ


Lâ ilâha illaLlâhul ‘adzîmul halîm. Lâ ilâha illaLlâhu Rabbul ‘arsyil ‘adzîm. Lâ ilâha illaLlâhu Rabbus samâwâti wal ardli wa Robbul ‘arsyil ‘adzîm


Artinya: “Tiada tuhan selain Allah Yang Mahaagung lagi Bijaksana. Tiada tuhan selain Allah Pemilik ‘Arsy yang Agung. Tiada tuhan selain Allah Pemilik langit dan bumi dan ‘Arsy yang Agung”.


.


.


"Bismillah ..."


Nisa pun mengejan lagi untuk terahir kalinya. Semua orang di ruangan itu sama-sama dalam keadaan ketegangan luar biasa, dan .....


~Bersambung~