
...........................
Selain itu, adanya sentuhan kulit langsung (skin-to-skin contact) selama inisiasi menyusui dini juga dapat menjadi momen ‘perkenalan’ untuk memperkuat ikatan batin ibu dengan si kecil. Bayi pun bisa merasa semakin nyaman dan dekat dengan ibu, karena ia bisa terus didekap dan mendengar detak jantung Ibu sewaktu menyusui.
Si kecil juga akan lebih nyaman saat di atas dada ibu. Selama proses ini, tubuh ibu dan bayi sama-sama dalam kondisi telanjang (terbuka bagian dada saja), dengan badan bayi ditutupi selimut agar ia tidak kedinginan.
Disitu, bayi akan aktif bergerak sendiri mengikuti nalurinya untuk mencari pu**ng payudara Ibu. Nisa pun merasakan sensasi bahagia bercampur haru saat melihat bayinya yg masih merah itu. Sedangkan Fadhil entah sejak kapan sudah keluar dari ruangan Nisa saat melahirkan.
Oh ya, selama proses IMD, Ibu tidak disarankan untuk membantu bayi atau sengaja memindahkan posisinya agar lebih cepat mendekat ke pu**ng lo! Biarkan keseluruhan interaksi antara ibu dan bayi yang baru lahir berjalan secara alami.
Dekapan ibu yg hangat juga membantu si bayi agar dapat menyesuaikan suhu tubuh bayi dengan keadaan di luar kandungan. Karena selama di dalam kandungan, tubuh bayi terlindung di dalam rahim ibu, saat sudah lahir, suhu tubuh bayi memerlukan penyesuaian dengan suhu di luar rahim. Jadi akan lebih baik jika bayi yg sudah lahir, langsung diberikan ke dalam dekapan ibu atau ayah.
"Bu, bayinya saya bersihkan dulu ya, biar bisa segera diadzani ayahnya." Pinta dokter Nisa.
Sedangkan Nisa hanya bisa menangis, ketika mengingat suaminya masih terbaring di ruang perawatan. Bagaimana bisa ia melakukannya, sedangkan membuka matanya saja belum ia lakukan. Nyeri dan sesak itulah yg ia rasakan saat ini, disaat ia ingin berbagi kebahagiaan, tapi orang yg dicintainya tak ada disisinya.
Di dalam ruangan itu pun, dia tak menemukan sosok Fadhil maupun Richard yg bisa menolongnya, kini ia sendiri. Apalagi suster dan dokter Wenny membawa bayinya entah kemana.
🌱 Di luar ruangan
Sesudah membantu proses persalinan Nisa, dokter Wenny membawa bayi ke ruang bayi. Dia juga meminta Fadhil untuk mengikutinya agar ia bisa mengadzani sang bayi itu. Karena dalam pemikiran dokter Wenny, Fadhil adalah ayah sang bayi. Sedangkan Fadhil tak bisa menolak karena ia tak diberi waktu untuk menjawab semua pertanyaan dokter Wenny, ia pun juga masih mengatur nafas dan pikirannya akan kejadian yg baru dialaminya tersebut.
Sesudah sampai di ruangan bayi, bayi Nisa yg sudah dibersihkan dan diberi baju diserahkan pada Fadhil. Ia pun kikuk dan bingung bagiamana cara ia menggendong bayi itu. Dokter Wenny pun membetulkan cara menggendong bayi sambil tersenyum.
"Nah sudah, sekarang bapak adzani bayi laki-laki bapak ya." Titahnya pada Fadhil.
Fadhil pun mengangguk, lalu ia pun mengadzani bayi laki-laki tersebut. Sang bayi nampak nyaman dalam dekapan Fadhil. Entah kenapa ia seperti sudah sayang padanya, padahal jelas ia bukan siapa-siapanya.
Fadhil pun dibuat takjub dengan bayi laki-laki tersebut. Ia sungguh mirip dengan Nisa. Kulit putih, hidung mancung, dan sebentar bulu matanya lentik seperti punyanya.
Ha ... ha ... ha ... ia tak sadar kalau itupun juga berasal dari perpaduan gen Zein dan Nisa, bukan dari dirinya. Tapi memang itulah adanya karena mulai dari sini, takdirnya dimulai.
Takdir yg akan membawanya kembali untuk mengurai benang kusut diantara dia dan Nisa.
⚘ Ruang perawatan Zein
Zein masih belum sadar sehabis ia melakukan proses operasi. Kondisinya dengan beban pikiran yg berat dan ditambah lagi dengan kehamilan Nisa membuatnya bekerja lebih extra.
Sampai ia pun tak berkonsentrasi saat mengendarai mobil beberapa waktu yg lalu. Dan demi menghindari truk dari arah depan, ia membanting stir dan menabrak pembatas jalan sampai masuk ke jalur lain dan hampir saja menabrak mobil yang dikendarai Fadhil.
Sesudah mengadzani bayi Nisa, ia pun menuju kamar perawatan Zein untuk memastikan keadaan Zein yg masih terbaring.
Ceklek
Fadhil masuk ke dalam kamar perawatan. Dilihatnya seorang lelaki yang terbaring lemah di brankar. Dialah orang yang merebut cinta sejatinya dengan Nisa.
Sebuah takdir yg rumit sedang ia uraikan saat ini. Orang yg ia hindari selama setahun belakangan ini sekarang justru menemuinya. Sebuah kecelakaan tunggal telah mengantarkannya pada Nisa, cinta sejati Fadhil.
Fadhil pun duduk di kursi tepat sebelah brankar. Ia terus memandangi lelaki di depannya ini. Sudah lebih dari 12 jam setelah operasinya ia juga belum sadar. Sementara disisi lain, istrinya baru saja melahirkan dan tak ada sanak saudara yang tinggal di kota ini.
Ia harus bagaimana? sedangkan jam 9 pagi ini ia harus mewakili perusahaan tempat ia bekerja untuk meeting.
Ceklek
Pintu ruang perawatan Zein terbuka. Nampak dokter Richard sudah berdiri disana.
"Iya dok, maaf bolehkah aku minta tolong padamu?" tanya Fadhil sambil menoleh.
Dokter Richard menghampiri Fadhil, "Apa yg bisa aku bantu?" tanyanya.
"Begini dok, saya pagi ini ada meeting, tapi keluarga Nisa maupun keluarga Zein tidak ada disini, lalu apakah saya tidak bisa meninggalkan mereka sebentar saja." Terang Fadhil panjang lebar.
"Benar, dia kan bukan keluarga Nisa ataupun Zein, dia juga mempunyai urusan sendiri, dan malah sekarang terjebak disini." Batin dokter Richard.
"Maaf aku sampai lupa kalau kamu bukan keluarga mereka, maaf aku juga tak menghiraukan urusan pribadimu." Ucap dokter Richard.
"Biar aku nanti yang berembuk dengan Nisa tentang semuanya, kamu boleh menyelesaikan urusanmu sekarang."
"Jangan khawatir, aku sudah menganggap mereka keluargaku sendiri, percayalah padaku."
Fadhil pun manggut-manggut, "Baiklah dokter, saya permisi dulu, tolong sampaikan permintaan mataku untuk Nisa karena tidak bisa berbuat banyak, nanti saya segera kembali."
"Hmmm."
Fadhil pun segera menuju parkiran mobil untuk segera pulang ke rumah dan segera berganti baju kantor.
Ia mengendarai dengan cepat, cukup 40 menit ia sudah sampai di rumahnya. Lalu ia pun segera masuk rumah dan membersihkan diri lalu berganti baju.
Ia pun melewatkan jam sarapannya dan segera menuju kantor. Karena memang pagi ini ada rapat penting di kantornya. Ini juga menyangkut reputasinya dalam bekerja. Karena selama ini ia telah berdedikasi penuh untuk perusahaan tempat ia bernaung.
Kalau proyek kali ini berhasil ia ambil alih, tentu saja kenaikan pangkat akan didapatkannya. Satu tahun ini Fadhil sudah bekerja keras demi menjadi orang yg sukses. Alasan terbesarnya adalah membuat orangtuanya bangga dan dapat menemukan Nisa-Nisa yg lain.
.
.
.
.
Karena disini authorlah yg mengatur takdir mereka.
Ya kan yeyenk ... maaf sedikit uplodnya, author lagi pusing ✌
.
.
.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE, KOMEN DAN FAVORIT YA KAK..
.
.
SEGALA BENTUK DUKUNGAN DARI KALIAN SANGAT BERARTI BAGI FANY, BIAR SEMANGAT BUAT UP🙏😊