After Married

After Married
BUTUH BANTUAN



Pagi itu Zi sedikit manja. Ia pun ingin pergi ke sekolah dengan diantar pamannya, yaitu Yo. Untung saja ia sudah ijin pada Alexa agar ia mengantarkan keponakannya untuk pergi ke sekolah.


"Ma, pa ... Assalamu'alaikum Zi berangkat dulu," pamitnya pada kedua orangtuanya.


"Wa'alaikum salam, hati-hati ya sayang."


Zi pun menganggukkan kepalanya lalu melambaikan tangannya ke arah orangtuanya. Lalu mobil milik Yo segera melaju meninggalkan kediaman Nisa dan Yo.


Di dalam mobil.


"Tumben, minta diantar om lagi?"


"Pengen om, lama ga diantar om, ada sesuatu yang aneh menyerang di dalam hati."


"Elah, jujur aja, ngomong sama om kalau kamu kangen."


"Iya om, aku kangen banget sama om."


"Nah gitu dong, ganteng banget deh, ponakan om."


"Sudah dari dulu kali om... wkwkwk..."


Begitulah keseruan mereka pagi itu.


.


.


Sementara itu Zi sudah sampai di sekolahnya, ia pun berpamitan pada Yo dan segera masuk ke kelasnya. Setelah melihat Yo masuk ke dalam kelas, ia pun segera berlalu dari sekolah Zi menuju kantornya.


Di kelas Zi.


"Morning Zi ..." sapa Sharen pada idolanya yang sudah datang.


"Morning ..." jawab Zi ketus.


Tapi seberapa ketus dan cuek sikap Zi pada Sharen tidak akan mengubah rasa ketertarikan Sharen padanya. Sejak pertemuan pertama dengannya, ia sudah menaruh hati pada Zi.


Sedangkan Zi sangat tidak nyaman dengan sikap Sharen yang terlalu berlebihan padanya. Zi tidak mau cinta-cintaan sebelum waktunya.


Ya sebelum menikah dengan ibunya, Zi sudah tau sepak terjang tante Sharen yang selalu menggoda Daddy-nya dari pamannya Yo. Jadi ia sedikit paham tentang sikap Sharen yang seperti itu.


"Hmm, tumben dia balas sapaanku, apakah dia mulai mengakui kehadiranku," batin Sharen dengan berbunga-bunga.


Di lain sisi, Zi kembali fokus pada buku baru yang dibelinya kemarin. Zi mulai membuka buku tersebut dan mulai membacanya. Daripada disuruh ngobrol yang tidak jelas, lebih baik ia membaca buku, setidaknya ia bisa mendapatkan ilmu baru dari sana.


...***...


Pagi itu Sheril sudah bersiap-siap untuk mengunjugi kekasihnya, tetapi bukan Fadhil. Kisah cintanya beberapa waktu yang lalu telah ia kubur dalam-dalam sehingga ia bisa mendapatkan kisah cinta yang jauh lebih indah ketika mencintai jodoh orang lain.


Beberapa waktu mengenal Fadhil dan keluarganya membuat Sheril enggan untuk berhubungan dengan mereka lagi. Terlebih sekarang ia pun sudah bekerja di kantor ayahnya. Jadi setiap jamnya ia selalu disibukkan dengan pekerjaan kantornya.


Tetapi pacarnya amat mengerti dirinya. Hal itulah yang membuat Sheril semakin mantap untuk melanjutkan kisah cinta mereka ke jenjang berikutnya. Sebuah jenjang kehidupan yang baru untuk masa depan yang lebih cerah..


Tiba-tiba telepon di ruangan itu berbunyi nyaring. Membuyarkan segala konsentrasi yang telah ia susun beberapa saat yang lalu.


KRING ... KRING ...


"Iya hallo, selamat siang ..."


"Siang, maaf apa ini dengan nona Sheril?"


"Ya saya sendiri, maaf ini siapa?"


"Ini aku, Kenzo."


"Ada apa Ken, apa kau membutuhkan bantuanku?"


"Hmm, sepertinya iya, bisakah kau menemaniku jalan-jalan siang ini?"


"Hmm, kalau siang sepertinya aku tidak bisa, tetapi kalau malam akan aku usahakan."


"Oke, aku tunggu nanti malam oke."


"Oke..."


Lalu sambungan telepon mereka terputus. Sheril segera melanjutkan pekerjaan yang sudah tertunda sedari tadi.