
....................
"Trus ... ?"
"Trus Nisa kasih satu genggam cabe rawit tadi ya sekitar 30 cabe mas ..." ucapnya geli karena menahan tawanya pecah.
Zein hanya geleng-geleng melihat keusilan Nisa kali ini. Entah kenapa kehamilan Nisa yg pertama ini sungguh membuatnya berubah-ubah sifatnya. Kadang terlalu dewasa ... kadang terlalu cengeng, bahkan ngidamnya aneh-aneh.
Pernah suatu kali saat ia dan suaminya pulang kampung. Saat itu sedang hujan dan kebetulan sesudah hujan banyak sekali laron-laron yg beterbangan. Nisa yg kebetulan sedang ngobrol sama ibu sedang membahas tentang hewan laron tersebut.
Maklum, saat di kota tidak ada hewan itu meskipun sesudah turun hujan. Dan kebetulan sekali saat ia mudik bersama Zein ia pun melihat hewan laron tersebut.
Beliau menceritakan kalau jaman ibunya Zein masih kecil, sang nenek alias nenek buyutnya suka sekali membuat peyek laron. Jadi laronnya dikumpulin trus dicuci dan dibumbui lalu dicampur adonan tepung rempeyek lalu digoreng.
Entah kenapa saat ibu mertuanya cerita tentang hal itu seakan air liur Nisa begitu derasnya mau menetes. Ia sampai dengan susah payah menelan salivanya itu.
Entah ada angin apa ... kebetulan satu hari sesudahnya ... sang nenek buyutnya datang ke rumah ibu Zein dan membawakan peyek laron sesuai imajinasi Nisa.
Setelah dipersilahkan untuk memakannya, Nisa langsung menghabiskan peyek yg cuma 5 biji itu dengan cepat.
Belum sampai beliau mengingatkan..peyeknya sudah ludes dibabat habis oleh Nisa. Ibu Nisa pun menggelengkan kepalanya. Tapi ia paham mungkin menantunya lagi mengidam.
Karena ia teringat kemarin ia habis menceritakan hal itu pada menantunya itu.
Nisa yg ketauan langsung tersenyum manis. "Ahirnya calon anaknya nanti g jadi ileran, karena ngidamnya udah kesampaian." batin Nisa.
Kemudian, pernah suatu kali ia pengen banget makan empek-empek palembang. Dia teringat saat ia tinggal di kota X ... ia pernah beberapa kali ditraktir makan empek-empek sama tetangganya. Dan ia pengen banget makan empek-empek yg sama persis dengan yg disana. Untungnya di kota tempat Zein tinggal, suaminya itu bisa menemukan empek-empek yg sama persis dengan yg ada di kota X itu.
Dan hampir setiap minggu, ia tak pernah absen untuk membeli empek-empek langganannya itu.
Pernah juga Nisa mengidam pengen makan oleh- leh khas kota kelahirannya yaitu kripik singkong yg dipotong dadu kecil-kecil, rasanya sangat gurih, meskipun dibumbui bawang dan garam.
Ahirnya ia pun dibelikan oleh-oleh sama teman Zein yg kebetulan pulang kampung. Dan ia pun dibelikan 2 bungkus besar.
Dan anehnya Nisa cuma makan 1 genggam dan ia sudah tak mau memakannya lagi. Alhasil Zein -lah yg menghabiskannya.
Entah kenapa Zein tak pernah mempermasalahkan tentang masa mengidam istrinya tersebut. Bahkan Zein sama antusiasnya dengan Nisa.
Saat di rumah kontrakannya saat di kota, Nisa suka sekali mengaca memperlihatkan perutnya yg membesar itu di hadapan cermin ... ia bahkan berlenggak-lenggok di depan cermin. Membuat Zein menggeleng-gelengkan kepalanya akan tingkah lucu istrinya tersebut.
Nisa malah senyam senyum sendiri melihat perutnya yg sudah membesar itu.
"Lucu ya sayang ... liat deh ... baby kita gerak-gerak di dalam sini lo yang ..." ucap Nisa, saat suaminya itu melihatnya sedang di depan cermin riasnya.
Zein yg sudah antusias pun segera menghampiri istrinya itu dan mengelus perlahan perut Nisa.
"Beneran dia gerak-gerak sayang ... hay boy ... ini papa ..." ucapnya sambil mendekatkan telinganya ke perut Nisa.
Nisa sungguh bahagia menjalani masa kehamilannya saat ini. Ia juga bersyukur bisa menjalaninya bersama keluarganya yg sangat mendukungnya dan selalu ada di saat duka maupun bahagia.
Nisa yg membayangkan hal itu senyam senyum sendiri. "Terimakasih ya Allah engkau mengirimkan orang-orang yg baik dalam hidup Nisa."
Entah kenapa malam ini Nisa pengen sekali melihat Zein memakai mahkota bunga, seperti princes-princes yg ada dalam sinetron yg tak sengaja di lihat Nisa. Karena tadi sore ia baru melihat sinetron mermaid. Dan disitu ia melihat mermaidnya memakai mahkota bunga dan ia ingin sekali suaminya menirukan moment itu.
Dan ahirnya dengan sangat terpaksa ... Zein yg sudah memakai piyama tidur harus rela didandani oleh istri mungilnya tersebut. Dan beginilah ekspresi wajahnya. Dan hal itu sukses membuat Nisa tertawa lepas sehingga membuat perutnya yg sudah hamil besar itu merasa kram.
Tapi tak mengurangi rasa bahagianya tersebut.
"Kamu 'ga kenapa-napa kan sayang?"
"Ga papa kok ... cuma kamu tu lucu banget mas ... makasih ya udah nurutin semua keinginanku dan bayi kita ini ... semoga anak kamu ganteng dan 'ga ileran karena kamu selalu menuruti semua keinginan ngidamku ... amiin ..." ucapnya tulus.
"Terimakasih juga sayang ... sudah mau mengandung anakku ... terimakasih sudah memberikan kado terindah di dalam 1 tahun pernikahan kita ... terimakasih sudah mau menerima aku dan calon anak kita dalam hidupmu ... i love you so much ..." ucap Zein sambil mengecup pucuk kepala Nisa.
"Sama-sama mas ... Love you too ..." ucapnya sambil memeluk erat suaminya itu.
Dan ahirnya dari saling mengucap terimakasih maka malam itu dilanjutkan dengan ciuman yg semakin lama semakin menuntut dan ahirnya terjadilah kangen-kangenan antara Nisa dan Zein.
Sebuah olahraga yg menyehatkan dan membuat semua kalori terbakar dan membuat pahala bagi pasangan suami istri.
Lagipula kandungan Nisa sudah memasuki bulan ke sembilan. Jadi olahraga itu sangat menyehatkan bagi mereka berdua.
Apalagi dokter kandungan Nisa sudah menyarankan agar sang ayah sering-sering mengunjungi bayi dalam kandungan Nisa.
Dan entah karena ucapan dokter atau memang keinginan jabang bayi yg dikandungnya, Nisa hampir setiap hari selalu meminta olahraga panas tersebut. Bahkan Nisa yg memimpin pergulatan panas tersebut.
Seperti saat ini, Zein sedang capek sepulang kerja. Nisa malah semakin menginginkan suaminya tersebut hanya karena mencium bau khas suaminya tersebut.
"Papa ... papa ... bangun dong ..." ucap Nisa usil. Tapi karena lelah, Zein tak bergeming. Sampai ahirnya ia pun menciumi suaminya tersebut.
Zein yg merasa terusik ahirnya bangun, dan mendapati istrinya sedang menciuminya. Diraihnya kedua pipi Nisa dan dicium dengan lembut oleh Zein.
Nisa pun senang ahirnya suaminya terbangun.
"Ada apa sayang, aku lagi capek ni ..."
"Pengen maem rujak mas ... boleh ya?"
"Hmm ... ayah mandi dulu ya sayang ..." ucapnya sambil membelai lembut perut Nisa.
"Baik ayah ... mama tunggu di depan ya ... jangan lama-lama ayah" ucapnya sambil menirukan suara anak kecil.