After Married

After Married
KAMBUH



"Terimakasih nona untuk bantuannya."


"Sama-sama, oh ya, maaf Anda orang baru ya?"


Zein menoleh dan hanya membalas hal itu dengan sebuah senyuman.


Tiba-tiba Zein kembali merasakan nyeri di dadanya, semakin lama semakin bertambah. Ia pun teringat akan diagnosis dokter beberapa tahun yang lalu. Tetapi saat itu dokter sudah mengatakan bahwa ia sembuh total.


"Tapi kenapa sakitnya masih sama seperti saat itu?" ucapnya pelan seraya memegangi dadanya


Sheril yang melihat raut di wajah Zein berubah pucat mulai hawatir, tetapi sebelum ia bertanya padanya, Zein sudah melangkah pergi bersama berkas-berkasnya.


"Apa dia sedang sakit?" tanya Sheril dalam hatinya.


Setelah sampai di ruangannya, tak lupa ia segera mengunci ruangan itu dari dalam. Zein pun kini masih tak bergeming dan masih bersandar di balik pintu.


Ia hanya berdzikir sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. Rasa sakit yang sama seperti beberapa tahun yang lalu. Kini ia hanya bisa berdoa agar ia bisa selamat sampai ia berhasil keluar dari kantor dan menuju rumah sakit.


Sheril pun segera melanjutkan langkahnya menuju ruangan Yoshua. Ia sudah membuang jauh prasangkanya terhadap lelaki yang ditabrak tadi.


"Ya Allah ijinkan aku untuk selamat satu kali lagi," pintanya.


Ia tak bisa berpikir jernih saat itu hingga ahirnya ia pun meraih ponsel di sakunya lalu mencoba membuat jadwal temu untuknya. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi saat ini.


Beruntung sakitnya kini berangsur menghilang untuk beberapa saat. Hingga ia pun memutuskan untuk tetap chek up ke rumah sakit. Lalu ia pun memesan taksi di depan perusahaan dan segera menuju rumah sakit yang pernah ia datangi saat melakukan chek up dulu.


Kebetulan dokternya sedang dinas siang. Ia pun baru saja kembali dari ruang operasi dan masih berada didalam ruangannya. Melihat Zein kembali membuat jadwal chek up, membuatnya terkejut. Tetapi ia meng-iyakan janji pertemuan mereka.


Beberapa waktu kemudian ia pun telah sampai di rumah sakit yang ia maksud. Dengan secepat kilat ia menuju antrian pasien di depan ruangan dokter penyakit dalam.


Tak berapa lama kemudian ahirnya ia pun dipanggil masuk ke dalam.


Ceklek... Zein memasuki sebuah ruangan yang tak asing baginya. Bahkan dokter di depannya pun masih ia ingat dengan baik.


"Selamat siang Zein, apakabar, apakah masih terasa sakit?" ucapnya.


"Tadi sewaktu di kantor, entah kenapa dada ini terasa nyeri sekali, sampai nafas pun tersengal."


Tak mau menutupi apa yang dirasakannya, ia pun menceritakan semuanya secara detail pada dokter.


"Apa kamu sedang memikirkan sesuatu yang berat sampai kondisi kamu ngedrop lagi?"


"Atau kamu mengkonsumsi sesuatu mungkin?"


Zein teringat sesuatu dan menceritakan semua kejadian yang menimpanya dalam beberapa hari ini. Ahirnya dokter pun mempuyai prediksinya. Untuk memastikan hal tersebut benar sesuai dengan dugaanya atau tidak, dokter Fariz sudah menjadi teman Zein sejak dulu itupun meminta ijin pada Zein untuk melakukan chek up lengkap hari itu juga.


Hal itu untuk memastikan apakah yang ia rasakan benar atau tidak.


"Ok, kita chek darah lengkap, kamu berbaring dan aku akan ambil sample darah kamu."


"Oke dokter."


Dokter Fariz segera menyiapkan perlengkapan lengkap untuk chek up kondisi Zein. Setelah dirasakan semuanya sudah siap, ia pun meminta Zein untuk segera berbaring di sebuah brankar.


"Rileks ya, dalam hitungan ketiga aku akan ambil darah kamu," ucap dokter Fariz.


Lalu dalam sepersekian detik berikutnya sample darah sudah dipegangnya. Lalu ia menyuruh Zein untuk sementara waktu istirahat di rumah sakit itu, sampai esok hari, karena kondisi Zein naik turun .


Zein pun menurutinya dan segera beristirahat dengan selang infus yang menancap disalah satu lengannya.


.


.


...🌹Bersambung🌹...