
Setelah seharian penuh ia berkutat dengan pekerjaannya, kini ia bisa pulang dan mengistirahatkan tubuhnya. Dengan bergegas ia pun kembali ke rumahnya.
Dengan mobilnya ia pun membelah jalanan ibu kota yg padat merayap. Sebuah kota besar yg tak pernah tidur karena kesibukan para warganya yg terus gila kerja. Tak terkecuali dengan Zein dan dirinya.
Sesampainya di rumahnya, ia pun segera masuk dan membersihkan dirinya. Lalu sesudahnya ia pun mengambil makanan dan memanaskannya di dapur.
Begitulah kehidupan Fadhil sehari-harinya, ia hanya sendirian di rumahnya tersebut. Jadi hal apapun ia lakukan sendirian. Termasuk membuat makanan dan minuman untuk dirinya sendiri.
Dia bahkan sudah terbiasa dengan hal ini sejak beberapa tahun belakangan ini. Meskipun kini ia sudah sukses, tapi kesuksesannya tak pernah mengubah sifat ataupun kepribadiannya.
Karena memang pada dasarnya Fadhil adalah pribadi yg sederhana. Salah satu kekuatan yg berhasil mengubah kehidupannya menjadi seperti ini adalah kehadiran Nisa.
Beberapa waktu lalu mereka pernah menjalin hubungan persahabatan. Yg pada ahirnya membuat Fadhil jatuh cinta pada Nisa. Tapi takdir berkata lain. Disaat rasa cintanya sedang bertumbuh. Harapannya dihancurkan dengan berita kalau Nisa akan menikah dengan pacarnya. Siapa lagi kalau bukan Zein.
Dan sejak saat itu ia pun pergi dari kota tersebut, lalu ia kembali ke kampung halamannya. Dan setelah beberapa bulan kemudian ia pun bertekad untuk bangkit dan mencoba mencari cintanya yg hilang. Yang pada ahirnya ia pun melakukan perjalanan ke kota ini. Dan bertekad untuk menajdi lebih sukses, agar nanti ia sudah cukup mapan saat ketemu dengan sosok Nisa-Nisa yg lainnya.
Dan entah kenapa setelah ia sedikit berhasil, ia malah dipertemukan dengan cinta sejatinya yg pernah hilang.
Bahkan di momen pertama pertemuan mereka. Fadhil langsung menjadi orang penting dalam hal membantu proses kelahiran baby Zi. Fadhil pun tersenyum sesaat setelah ia berhasil menghangatkan makanannya. Dan ia pun langsung membawa makanan dan minumannya tersebut ke ruang makan.
Di ruangan itu ia pun menyalakan televisinya. Ya, kebiasan Fadhil memang makan sambil melihat saluran televisi. Sekedar untuk melepas kesepiannya di rumah itu.
Tak sengaja ia memutar berita tentang kecelakaan pesawat yg ditumpangi Zein. Disana dibahas dengan jelas, bahwa ada beberapa tanda pengenal dan beberapa barang milik para korban yg sudah ditemukan. Tapi untuk para korban kecelakaan pesawat belum diketemukan.
Fadhil pun teringat dengan Nisa. Lalu ia pun menelpon kediaman Nisa.
Tut ... tut ... tut ...
"Assalamu'alaikum." Ucap seseorang diseberang sana.
"Maaf apa Nisanya ada?" Tanya Fadhil.
"Maaf ini siapa?"
"Owh maaf, aku Fadhil sahabat Zein dan Nisa."
"Oh kak Fadhil, ada apa kak malam-malam begini telepon."
Fadhil pun melirik jam dipergelangan tangannya.
"Hastaga !" Ia pun tersadar ini sudah hampir tengah malam dan pastinya Nisa sudah istirahat.
"Bagaimana keadaan Nisa? apa sudah membaik?"
"Alhamdulillah keadaan kakak sudah berangsur-angsur membaik. Bahkan ia sudah makan dan minum barusan. Mungkin kakak sudah kembali tidur." Ucap adik Zein panjang lebar.
"Alhamdulillah kalau begitu, tolong sampaikan maaf pada Nisa karena hari ia tak bisa mengunjunginya."
"Iya kak tenang saja, ada kami keluarga besar yg akan menjaga kak Nisa."
"Kalau begitu aku permisi, maaf mengganggu malam-malam begini."
"Iya kak ... gpp."
Dan sambungan teleponnya selesai. Fadhil pun memijit pangkal hidungnya dan kemudian ia pun mengistirahatkan badannya yg lelah di tempat tidurnya.
Sesuai hasil analisa terakhir, sudah dipastikan semua para penumpang dan awak pesawat dipastikan sudah meninggal semua. Karena kecelakaan terjadi ditengah perairan yg sangat dalam, bangkai pesawat pun belum sepenuhnya terangkat. Hanya beberapa barang penumpang yg mengapung diperairan.
Dan pencarian sudah dihentikan karena besarnya gelombang ombak dan air disana. Kini semua korban kecelakaan pesawat beserta pesawatnya sudah diikhlaskan tenggelam.
Dan keluarga korban hanya bisa menabur bunga dan memanjatkan doa ditengah perairan. Dengan menggunakan kapal fery yg sudah disewa oleh pihak maskapai penerbangan untuk keluarga para korban mereka semua berangkat ke tengah laut.
Nisa datang didampingi seluruh keluarga kecuali baby Zi dan Mbok Iyem yg menjaganya di rumah. Fadhil dan dokter Richard pun ikut serta dalam rombongan tersebut. Mereka sengaja mengosongkan jadwal mereka untuk mengenang dan menghormati jenazah sabatnya tersebut.
Setelah 5 jam perjalanan pulang pergi ahirnya upacara penghormatan kepada para jenazah selesai. Dan keluarga para korban sudah kembali ke rumah masing-masing.
"Sebaiknya kita makan dulu om dan tante sebelum kita pulang, Nisa juga belum terisi makanan sejak pagi." Usul Dokter Richard ditengah-tengah perjalanan ke parkiran mobil.
"Bagaimana Nisa?" tanya ibu pada putrinya.
Nisa masih terdiam seribu bahasa sejak kepergian Zein. Dan sampai hari ini hanya derai air mata yg mengiringi hari-harinya. Sedangkan Fadhil yg melihat cintanya terluka hanya bisa terdiam. Ia belum bisa memastikan apakah cinta di hatinya kembali tumbuh atau hanya perasaan iba pada istri sahabatnya tersebut.
Karena tak ada jawaban maka ibu Nisa lah yg memilih untuk mengikuti saran Dokter Richard.
Dengan menggunakan 3 mobil mereka pun meninggalkan area bandara dan menuju sebuag rumah makan yg tak jauh dari bandara.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai. Dan mereka segera turun dan memesan makanan dan minuman. Tapi itu tak berlaku dengan Nisa. Ia masih diam dan sama sekali tak menyentuh makanan tersebut.
Ahirnya Dokter Richard pun mengusulkan untuk mengajak Nisa ke dokter guna memulihkan kondisi psikis Nisa, agar kesedihan yg dialaminya tidak berlarut-larut.
Tetapi belum diputuskan hasilnya Nisa sudah jatuh pingsan ditempat. Lalu mereka pun segera menuju rumah sakit terdekat. Untung saja letak rumah sakit tempat kerja dokter Richard tidak terlalu jauh dan mereka tiba tepat waktu.
Nisa segera dilarikan ke ruang perawatan dan segera dilakukan pengecekan. Nisa mengalami dehidrasi akut dan kekurangan nutrisi, dan satu lagi poin pentingnya dia mengalami tekanan batin yg sangat hebat. Akibatnya makanan atau minuman yg masuk ditolak oleh tubuhnya. Dan dengan terpaksa Nisa harus dirawat di rumah sakit tersebut.
Dan karena ruangan perawatan Nisa sempit, dan hanya diperbolehkan 2 orang saja untuk menjaga Nisa. Maka anggota keluarga yg lain pun segera pulang ke rumah.
Dan kini tinggallah 4 orang diruang perawatan Nisa. Kedua orangtua Nisa, Fadhil dan juga Dokter Richard.
...~Bersambung~...
.
.
.
.
.
HAI-HAI ... FANY HADIR KEMBALI SETELAH SEKIAN LAMA HIATUS DARI NOVEL KEDUA INI.. MAAFKAN FANY YA π
INSYAALLAH HABIS INI FANY AKAN LEBIH GIAT UNTUK UP..
DAN SELAMAT MENIKMATI MUSIM KEDUA DARI AFTER MERRIED πππ
JANGAN LUPA, LIKE, KOMEN, FAVORIT DAN GIFTNYA YA.. SEMOGA ALLAH MELIPATGANDAKAN REZEKI KALIAN SEMUA..AAMIINππππ€π€π€