After Married

After Married
MEMILIHMU



"Aku usahakan, dan tentu saja kalau aku tidak lupa ya?" canda Nisa pada Fadhil.


Justru sikap Nisa yang tetap apa adanya inilah yang selalu dirindukan dan membuatnya istimewa dihati Fadhil.


Posisi Nisa tak pernah tergantikan oleh siapapun dalam dirinya, karena ia telah menutup pintu hatinya untuk wanita lain.


Fadhil bukan orang biasa, dia terlahir dengab kulit putih bersih dan wajah yang tampan. Sorot matanya yang tajam dan selalu mengunci lawan bicaranya membuat ia semakin berwibawa.


Ia memang tidak tumbuh dalam lingkungan berada, tapi berkat kegigihan dan usahanya, ia mampu mengubah jalan takdirnya. Kini ia sudah berusia matang, sehingga kini saatnya ia mencari pasangan hidup.


Keluarganya memang tidak banyak menuntut, tapi keluarga besarnya selalu menggunjingnya jika ada pertemuan besar di rumah neneknya. Bahkan adik Fadhil pun sudah menikah, meski sekarang mereka belum dikaruniai keturunan.


πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ


"Ngapain kakak mandangin Nisa dari tadi hayo?" tanya Nisa yang mendapati sedari tadi dipandangin Fadhil.


"Eh siapa bilang, ge-er." Ucap Fadhil gugup.


"Dih, gak ngaku juga, bilang dong kalau naksir."


"Emang kalau naksir masih diterima?" tanya Fadhil kemudian.


Nisa menengadahkan wajahnya memandang Fadhil. Begitu pula dengan Fadhil yang menoleh ke arah Nisa.


Kini Nisa pun jadi terjebak pertanyaannya sendiri, padahal sedari awal ia hanya mengerjai Fadhil.


Fadhil yang sudah tau akan terjadi seperti ini segera mengalihkan pembicaraan.


"Makan siang yuk," ajak Fadhil memecah keheningan.


"Em ... oke deh, hayuk."


Nisa pun meraih tasnya dan mengikuti Fadhil yang sudah berjalan mendahuluinya.



Setelah sampai tempat parkir, ia pun segera membukakan pintu untuk Nisa.


"Silahkan nona," ucap Fadhil seolah menjadi sopir untuk Nisa.


"Terimakasih," ucap Nisa basa basi.


"Sama-sama."


Lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk makan siang. Dan tentu saja ia melupakan assistennya yang masih berada di kantor.


...***...


Sementara itu di Perusahaan D'Corp.


Yo sedang terburu-buru mencari atasannya. Ada hal penting yang harus ia bicarakan pada atasannya tersebut. Tentu saja ada masalah penting yang harus ia bicarakan pada atasannya tersebut.


Ceklek.


"Kak?" ucapnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tapi orang yang dicarinya tidak ada diruangan.


Ia pun berinisiatif untuk segera mengirim pesan pada Fadhil. Fadhil yang sedang menyetir, menyadari ada pesan masuk, masih mengabaikan notif yang masuk di HP-nya. Ia pun kembali fokus mengemudi karena tempatnya hampir sampai.


"Nah sudah sampai, kita turun yuk!" ajak Fadhil.


Dan ia pun membukakan pintu untuk Nisa seperti tadi.


"Makasih kak."


Mereka berdua pun segera masuk ke restaurant dan memesan makanan. Fadhil meminta tolong pada Nisa agar memesankan makanan untuknya sekalian, karena ia harus menghubungi assistennya.


"Ada apa Yo? kau mengganggu saja."


"Dih, bukannya salam malah ngomel, kayak mak emak saja!" gerutu Yo.


"Hmm, hayo ngomong atau aku tutup."


"Ok kak, Tuan Charles sudah berani bermain kotor dibelakang kita. Cabang di kota S terancam tutup gara-gara ulahnya."


"Memang apa yang terjadi, kenapa kita bisa kecolongan?"


"Entahlah, ada orang dalam yang membantunya, aku harus menyelidikinya sekarang."


"Aku yakin kamu bisa mengatasinya, oke." Seru Fadhil kemudian.


"Oke kak, aku ijin keluar kota sekarang. Akan aku atasi masalah ini segera dan sebaik mungkin."


"Good job bro, sukses ya."


"Makasih kak."


Dan sambungan telepon mereka terputus. Fadhil segera kembali ke meja Nisa. Ia merasa tak enak makan siang mereka terganggu dengan meninggalkan Nisa sendirian.


"Maaf lama menunggu."


"Mm Nisa, apa kamu ... em ... ga jadi deh."


"Mau ngomong apa si kak?"


"Nggak jadi ... maaf, kita lanjutkan makan saja."


"Baiklah."


Dan mereka pun makan siang bersama. Tak banyak percakapan yang mereka lakukan, hanya saling bercanda satu sama lain saja. Sesudahnya mereka kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan mereka.


Padahal di seberang meja sana, ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua.


...***...


πŸƒWeekend


Hari yang ditunggu sudah tiba. Dan Fadhil pun sudah menjemput Nisa dan Zi. Mereka bertiga akan menghabiskan waktu bersama di kebun binatang.


Di dalam mobil, Zi kecil terus berceloteh ria.


"Om, tita mau maen kemana?"


Fadhil menoleh, "Kira-kira om mau mengajak kamu kemana hayo?"


"Lah om aku kan tanya, kok malah om yang nanya balik ci ...?"


Fadhil tersenyum lalu menjawab," Kamu 'ga sabar ya sayang? tunggu kejutan dari om ya."


Zi kecil pun mengangguk.


"Kita akan bermain ke kebun binatang sayang." Ucap Nisa kemudian.


"Yeay ... yeay ... yeay ... te tebun binatang," ucapnya senang.


Sepuluh menit kemudian, mereka telah sampai di kebun binatang. Sedari masuk, Zi sudah digendong Fadhil, tentu saja ia sangat senang. Satu sisi Nisa senang, tapi ada gurat kekecewaan yang juga terpancar dari dirinya.


Salah satu tangan Fadhil menggenggam tangan Nisa, mencoba menyalurkan ketenangan padanya agar ia bisa sedikit rileks dan menikmati liburan weekend kali ini.


Ia tak mau melihat Nisa semakin terlarut dalam kenangan masa lalunya bersama mendiang suaminya.


Nisa pun membiarkan Fadhil memegang tangannya, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk anaknya tersebut. Ia juga sangat bersyukur masih ada Fadhil yang ada setiap saat untuk dirinya dan juga putra semata wayangnya itu.


Sesampainya di dalam kebun binatang. Zi kecil minta turun dari gendongan Fadhil dan berlari-lari kecil.


"Ma ... mama kejar Zi ya ..." ucapnya senang.


"Sayang jangan lari-lari, nanti kamu jatuh." Ucap Nisa khawatir.


"Biarkan saja Nisa, kita cukup mengawasinya dari sini oke."


"Ta-tapi ..."


"Percayalah padaku," ucap Fadhil sembari menggenggam tangan Nisa dan memandangnya.


"O-oke." Ucap Nisa sembari melepas tangan Fadhil dan mengejar Zi kecil yang masih berlari-lari.


Fadhil hanya menatap Nisa dan putranya dari kejauhan. Andai saja Nisa bisa membuka sedikit hatinya untuknya, mungkin sekarang Nisa sudah menjadi istrinya. Dan kecanggungan seperti ini tidak mungkin terjadi.


"Om, napain bengon disitu, cini maen sama Zi," ucap Zi sambai melambaikan tangannya ke arah Fadhil.


"Oke boy, om kejar ya."


Dan Fadhil pun mulai menyusul Nisa dan Zi. Di dalam pandangan orang lain, mereka adalah cerminan keluarga kecil bahagia. Keluarga kecil yang sedang menikmati weekend seperti keluarga-keluarga lainnya.


Toh apa yang kita lihat belum tentu seperti yang kita mau. Jadi biarkan saja orang lain menilai kita. Kita cukup menjalani dan melakukan yang terbajk sesuai porsi kita. Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang selalu seperti apa yang kita inginkan.


Jalan tak selalu lurus, kadang berliku, bahkan berlubang. Jadi kita harus selalu waspada dan siap dalam menjalani setiap jalan takdir kita.


...~ Bersambung ~...


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAKπŸ™πŸ˜Š...