After Married

After Married
KEKACAUAN HATI



Dibalik mata tertutup Nisa, Nisa sayup-sayup masih bisa mendengar suara dari Fadhil. Meskipun Nisa belum pulih kesadarannya, tapi ia bisa mendengar suara Fadhil dengan jelas. Ia juga masih enggan membuka kedua matanya, karena ia tau, kini tak ada lagi suaminya disisinya dan hatinya masih belum bisa menerima musibah kali ini.


Tapi pernyataan Fadhil barusan sedikit menyentil hati Nisa. Entah kenapa ada sesuatu yg berontak dari dalam dirinya. Dia tidak mau gegabah, dia akan menguji ketulusan cinta dari Fadhil.


Karena hari sudah sangat larut, tak terasa Fadhil pun tertidur disamping brankar Nisa. Dengan perlahan Nisa pun mulai membuka matanya. Matanya fokus memandangi Fadhil.


Dilihatnya sosok pria disampingnya lekat-lekat. Tak terasa ada buliran air mata mengalir deras membasahi kedua pipi Nisa. Bayangan suaminya tiba-tiba memenuhi semua pikirannya. Seperti sebuah kaset yg berputar kembali. Semua memory indah bersama suaminya terputar kembali.


Banyak kenangan indah yg telah ia lalui bersama suaminya. Dari mulai bertemu sampai kenangan saat suaminya kemarin berpamitan untuk tugas ke luar negeri seolah tak mau lepas dari pikiran Nisa. Bayangan baby Zi kemudian hadir. Ia teringat anak semata wayangnya itu. Dan ia pun tak sengaja menyenggol lengan Fadhil.


Fadhil yg tengah tertidur tiba-tiba terbangun.


"Nisa ... kamu sudah siuman?"


"Eh, mas terbangun gara-gara aku ya?"


"Engga kok, kamu butuh bantuan? atau mau aku ambilkan sesuatu."


Fadhil pun melihat ada bekas air mata di sudut mata Nisa.


"Kamu menangis?"


Nisa pun mengangguk. "Aku kangen Zi mas," ucapnya sambil tertunduk.


"Tapi kamu belum pulih Sa. Begini saja biar aky panggil dokter buat chek kesehatan kamu."


Lalu Fadhil pun memanggil dokter lewat sambungan telepon di kamar Nisa. Sesaat kemudian datanglah dokter Richard.


Ceklek


Muncullah sosok laki-laki tampan dari balik pintu beserta satu suster dibelakangnya.


"Hai ...." ucap Dokter Richard.


Lalu ia mulai berjalan ke arah brankar Nisa.


"Hai Nisa, bolehkan aku memeriksa keadaanmu sebentar?"


Nisa pun mengangguk, dan Fadhil pun memberikan tempat pada dokter muda itu dan perawatnya. Lalu mulailah ia memeriksa tubuh dan keadaan Nisa.


"Semuanya udah kembali normal, tapi ..." ia pun menjeda kalimatnya.


"Tapi apa dok?"


"Kamu harus mengabiskan inpus itu dulu baru kamu boleh pulang."


"Tapi aku sudah kangen Zi ..." ucap Nisa menahan tangisnya agar tidak pecah.


"Sabar Nisa, ini semua demi kebaikan kamu. Satu lagi aku memintamu untuk menemui salah satu rekanku. Kamu mau kan?"


"Siapa ?"


"Dokter Albert, dia ahli psikoterapi. Aku harap dia bisa membuatmu lebih kuat dalam menghadapi cobaan ini."


Nisa tertunduk, ia paham betul maksud dan tujuan Richard baik untuknya. Kemudian ia pun mengangguk.


"Ok, aku setuju."


"Deal ..." dokter Richard pun mengulurkan tangannya pada Nisa sebagai tanda setuju dan Nisa pun menerima uluran tangan dokter Richard.


"Ok, kalau begitu aku permisi dulu ya, jika kamu pengen segera pulang, kamu harus istirahat dulu Nisa. Besok pagi aku urus regristasinya."


"Terimakasih."


Lalu ia pun keluar ruangan sembari menepuk pundak Fadhil, "Jaga Nisa baik-baik bro." Fadhil pun mengangguk.


Setelah kepergian dokter dan perawat, seketika suasana ruangan menjadi hening.


"Kamu istirahatlah dulu Nisa, biar aku menjagamu disini."


Nisa mengangguk dan segera tertidur. Daripada terjebak dalam suasana canggung, ia memilih untuk istirahat, begitu pula dengan Fadhil. Ia pun memilih untuk melanjutkan istirahatnya dikursi tunggu.


🍃 Keesokan harinya.


Nisa mengerjab, ia membuka matanya. Disampingnya sudah ada ibu dan ayah Nisa.


"Ayah, ibu?"


"Iya sayang, oh ya ... nak Fadhil tadi pagi ijin karena ada rapat penting di kantornya yg tidak bisa ditunda, makanya tadi pagi-pagi sekali sudah menjemput ayah dan ibu kesini."


"Oh ..."


"Bagaimana sayang, apa sudah baikan?"


"Alhamdulilah sudah bu, semalam Richard juga membolehkan untuk aku segera pulang."


Ceklek


Dari arah pintu sudah muncul dokter Richard, ia tersenyum ramah seperti biasanya.


"Pagi bu, pagi pak?" sapanya ramah.


"Pagi ..." jawab mereka serempak.


"Bagaimana Nisa? sudah sehat?"


"Seperti yg dokter lihat."


"Ok, aku periksa keadaanmu sebentar ya."


Lalu dokter melakukan chek up rutin. Ia pun tersenyum. "Alhamdulillah, seperti yg aku katakan semalam, hari ini kamu boleh pulang. Kamu siap-siap dahulu, biar aku ke bagian administrasi."


"Terimakasih dok."


"Sama-sama," jawabnya ramah, "Saya permisi dulu pak, bu ..."


"Iya dok, terimakasih."


Lalu mereka pun mempersiapkan kepulangan Nisa.


🍃 Sementara itu di kantor Fadhil


"Pagi pak," ucap asisten Jo.


"Pagi," jawab Fadhil.


"Ini copyan laporan proyek dari perusahan "D Company" dan ada sedikit kendala didalamnya."


"Sejak kepergian Tuan Zein sempat terjadi kekacauan di perusahaannya, dan untuk menghindari hal itu, sebaiknya saham beliau anda ambil semuanya."


"Tidak bisa begitu, masih ada Nisa dan anaknya yg berhak atas perusahaan itu."


"Tapi saya dengar istri beliau masih dalam pemulihan."


"Ya aku tau itu."


"Jam berapa rapat dimulai."


"Lima belas menit lagi pak."


"Ok, ayo kita kesana."


Lalu mereka pun beranjak ke ruang rapat. Dan setelah semua direksi dan para pemegang saham muncul maka rapat pun dimulai. Rapat kali ini adalah pembahasan tentang penurunan saham yg mereka tanam di perusahaan Zein.


Sejak kepergian Zein seminggu lalu, perusahaan mereka mengalami kekacauan intern. Karena menurut assisten Jo, ada orang dalam yg bermain cantik kali ini. Dan karena kepergian Zein yg mendadak membuatnya semakin gila untuk menguasai perusahaan itu.


Dan salah satu cara untuk menghentikan hal itu. Fadhil harus mengambil alih semua saham Nisa dan Zein disana. Karena saham mereka paling besar dan jika ia bisa mengambil alih saham mereka. Maka ia akan mengendalikan perusahaan mereka sepenuhnya.


Hasil rapat kali ini cukup alot, karena banyak sebagian orang dalam perusahaan Fadhil yg ingin menarik saham mereka dari perusahaan Zein. Maka dengan segera Fadhil pun memutuskan untuk membeli semua saham Nisa dan Zein disana.


Dia juga mengutus assisten Jo untuk segera membereskan semua masalah ini. Karena sementara waktu ia tidak bisa menghandle 2 perusahaan secara langsung. Dan ia hanya percaya akan kinerja assisten Jo.


Akhirnya rapat siang itu selesai dan semua para pemegang saham tidak jadi menarik saham mereka dari perusahaan Zein. Dan semua setuju untuk selalu mendukung semua keputusan CEO mereka, siapa lagi kalau bukan Fadhil. Perusahaan yg Fadhil bangun sudah menunjukkan kinerja yg sangat bagus. Terbukti dalam 2 tahun belakangan perusahaan mereka semakin maju dan berkembang pesat.