After Married

After Married
BIMBANG



Sepulang kerja, Fadhil menyempatkan membeli makanan permintaan istrinya, ia mampir di sebuah kedai makanan korea untuk membelikan beberapa kudapan kesukaannya.


Entah kenapa ahir-ahir ini ia sering meminta makanan korea, mungkin efek Nisa yang suka menonton drama korea membuatnya sering meminta makanan yang ia lihat disana.


 


Fadhil sama sekali tidak curiga pada Nisa hari ini. Padahal Nisa di rumah sedang kebingungan. Ia bingung bagaimana bercerita pada suaminya tentang keberadaan Zein. Hatinya begitu was-was, ia takut keputusan yang ia ambil tadi salah.


 


Suara mobil di depan rumah membuatnya semakin kebingungan. Zi yang melihat ibunya gelisah segera mendekatinya.


"Mom, are you okay?"


"Iya sayang, mom baik-baik saja."


"Tapi kenapa Mommy keliatan bingung sedari tadi?"


"Gak apa-apa sayang, Mom hanya tidak sabar menunggu makanan pesanan Mommy pada Daddy."


"Oh ya?"


"Hu-um."


Derap langkah Fadhil sudah terdengar dari kamar Nisa, Zi yang mengetahuinya segera menyambut ayah sambungnya itu.


"Daddy...."


"Hi, boy ..."


Fadhil tak menyangka ia akan mendapatkan sambutan dari putranya itu.


"Tumben kamu dikamar Mom?"


"Iya, tadi kebetulan lewat, eh ada Mom di dalam, jadi aku masuk ke kamarnya."


Zi melihat paper bag yang dibawa ayahnya.


"Dad, apa itu makanan pesanan adik bayi?"


Fadhil tertawa, "Iya, kenapa kamu bisa tau?"


"Tadi Moms, cerita di dalam."


"Oke, mari kita pergi menemui Moms dulu ok."


"Oke Daddy."


Lalu mereka berjalan beriringan menuju kamar Nisa. Ternyata seperti yang dibicarakan Zi, Nisa benar-benar menunggu kedatangannya.


Ia sudah merentangkan kedua tangannya untuk mendapat pelukan dari Fadhil dan Zi. Mereka pun berhambur bergantian memeluk Nisa.


Menurut keterangan dokter memang jika minggu depan kondisi Nisa belum stabil maka harus segera dilakukan persalinan dengan segera. Kalau tidak hal itu akan semakin membahayakan bayi dan Nisa.


Bagaimana pun ini adalah hasil karya Nisa dan Fadhil, buah cinta dari keduanya. Ia tidak boleh egois, kebahagiaan Fadhil dan keluarganya amat penting saat ini.


Jikalau nanti ia tidak selamat, setidaknya bayi mereka bisa selamat.


"Mas kok lama banget sih?" ucap Nisa ketika memegang wajah suaminya.


"Maaf sayang, tadi belinya pake antri jadi lama."


Tak lupa Fadhil menyentil hidung Nisa karena saking gemasnya. Entah kenapa sekarang Nisa kelihatan bulat saat hamil keduanya ini. Sehingga membuat Fadhil merasa gemas dengan istrinya itu.


Sedangkan Zi dengan enaknya memakan satu camilan milik Mommy-nya itu. Nisa pun menoleh ketika mendengar paper bag miliknya berbunyi.


"Astaga, Zi ..." teriaknya.


Zi tersenyum dengan polosnya.


"Bisa-bisanya ia memakan makananku... hiks ... hiks... "


Nisa pun berakting seolah-olah dirinya merasa kesal karena Zi mengambil salah satu cemilannya.


Nisa merajuk pada Fadhil. Tiba-tiba Fadhil memijat ujung pangkal hidungnya, ia sejenak merasa pening karena istrinya merajuk.


Sudah lama Nisa tidak bertingkah seperti ini, sepertinya moodnya kembali berubah karena hormon kehamilannya.


"Ya sudah nanti kita keluar lagi bareng-bareng buat beli makanan itu langsung dari tempatnya oke."


"Makasih sayang," ucap Nisa.


Ia pun memelul istrinya dengan penuh kasih sayang, kemudian sesudahnya ia meminta ijin untuk mandi. Tentu saja badannya sudah lengket dimana-mana.


"Bolehkah aku mandi dulu sayang?"


"Ya ampun mas, sampe lupa, biar aku siapkan air untuk mandimu sekarang ya."


"Gak usah sayang, biar nanti aku siapkan sendiri, kamu temenin Zi makan camilan dulu sana."


Nisa mengangguk, lalu Fadhil menuju kamar mandi. Nisa membantu suaminya melucuti pakaiannya satu persatu, lalu menaruhnya pada keranjang pakaian kotor.


Lalu sambil menunggu suaminya ia menemani Zi makan makanan korea itu. Nisa melototi satu persatu makanannya, lalu melihat anaknya yang makan dengan lahap.


"Dari semua makanan ini yang manis dan enak yang mana sayang?"


Zi masih sibuk mengunyah makanannya, baru setelahnya ia memberi tau makanan mana yang menurutnya enak.


"Menurut Zi yang enak makanan yang ini Mom."