
Beberapa hari kemudian, mereka sudah kembali ke tanah air. Nisa merasa tidak nyaman kalau sampai ia meninggalkan putranya terlalu lama, oleh karena itu mereka pun mempercepat liburan mereka.
"Mas maaf ya, karena aku semuanya harus dipercepat."
"Iya sayang, ga apa-apa. Semuanya akan aku lakukan asal kamu bahagia."
"Terimakasih sayang."
"Sama-sama."
Ini pertama kalinya Nisa memanggilnya dengan sebutan sayang. Hati Fadhil merasa sangat bahagia. Artinya Nisa sudah mulai membuka hatinya untuknya.
"Apa kamu tidak sabar untuk segera pulang?"
Nisa mengangguk.
"Tapi jika nanti setelah pulang aku menjadi sibuk kerja, kamu jangan marah ya sayang."
"Iya sayang, aku janji sama kamu."
"Ingat pesanku, jika nanti kamu mulai kerja ngantor lagi, jangan lupa untuk tetap menomorsatukan Zi dan aku, aku mengijinkanmu bekerja hanya sebagai pengusir rasa bosan, bukan untuk membebanimu." Ucap Fadhil sungguh-sungguh."
"Iya sayang, terimakasih."
Nisa mencerna setiap perkataan suaminya tersebut dengan hati-hati. Meskipun ia tau kini ia tidak sebebas dulu, ia yakin akan mampu mengemban semua amanah yang sudah diberikan suaminya untuknya.
Sebenarnya Nisa juga ingin di rumah saja, tetapi melihat perkembangan bisnis suaminya yang semakin mengembangkan sayap. Ia tidak mau berdiam diri di rumah. Ia akan membantu sebisanya untuk menghandle salah satu perusahaannya tersebut. Meskipun mungkin waktu yang dihabiskannya tidak seperti dulu lagi.
Kini tanggungjawab utamanya hanya mengurus putranya dan suaminya. Maka dari itu ia pun akan mengikuti semua kemauan dan keinginan suaminya.
Nisa pun menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Kini ia bisa berbagi beban hidupnya bersama-sama suaminya. Ia pun sudah merasa nyaman ketika berada disisi Fadhil. Fadhil pun merasa sangat bahagia karena mulai saat ini ia sudah mulai bisa menguasai hati Nisa.
"I love you my wife, i love you forever."
"Love you to my husband."
Ahirnya mereka pun melewati perjalanan hari itu dengan lancar.
...***...
Beberapa jam kemudian, mereka sudah sampai di bandara Soekarno Hatta. Zi dan Yo pun sudah stand by disana untuk menjemput kedatangan mereka. Zi sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ibu dan ayahnya.
Meskipun mereka honeymoon tetapi kalau lama seperti ini Zi tentu saja merasa iri. Ia tidak pernah berpisah jauh dari ibunya. Karena sejak kecil memang Nisa selalu berada disisi Zi sejak ia bayi.
Rencananya dulu Zi akan dirawat oleh kedua orang tua Zein, tetapi karena Nisa tidak bisa berpisah dengan anaknya, maka ia pun bersikukuh untuk merawat anaknya sendiri tanpa melibatkan kedua orangtuanya ataupun mertuanya.
...***...
Menitipkan anak kepada orang tua bukanlah tindakan yang tepat apalagi mengasuh dan menjaga cucu, bukanlah pekerjaan ringan maka jika hal ini dilakukan justru menjadi kezaliman kepada orang tua.
Apakah bijak membebani orang tua yang sudah uzur dengan tanggung jawab yang membutuhkan kekuatan fisik dan mental seperti itu?
Orang tua yang sudah sepuh sudah seharusnya diperlakukan dengan baik dan lemah lembut.
Sebagaimana yang dipesankan Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:
“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Israa’: 23)
Ayat ini menegaskan bahwa orang tua yang sudah berusia lanjut memerlukan perlakuan khusus, berkata-kata pun harus berhati-hati agar tidak melukai perasaan mereka.
Tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan anak semestinya ada pada pundak orang tuanya, bukan kakek dan neneknya ataupun guru-guru di sekolah.
Inilah yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Kalian semua adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinan kalian. Pemimpin diantara manusia dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga serta anak-anak suaminya dan dia akan ditanya tentang mereka. Budak adalah pemimpin bagi harta tuannya dan dia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah bahwa kalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud dengan pemimpin dalam hadits ini adalah orang yang dipercaya untuk mengurus apa yang dibawah kepemimpinannya dan juga akan melakukan hal-hal yang baik bagi yang dipimpinnya.
Jika orang tua melalaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya yang mengakibatkan terjadinya hal-hal yang kurang baik terhadap anaknya maka orang tualah yang akan dimintai pertanggung jawaban apalagi jika alasan melalaikan tanggung jawab tersebut hanya karena ingin mengejar karir atau ambisi pribadi.
Pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak.
Digambarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Bapak dan ibunyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi.” (HR. Bukhari)
...***...
Meskipun lelah, nyatanya ia bisa membuktikan ia bisa merawat Zi sendiri meskipun Zein sudah lama meninggalkannya. Beruntungnya Zi tumhuh menjadi anak yang baik dan penurut. Hanya saja ia juga mewarisi sikap jelek Nisa yang selalu semaunya sendiri dan terkadang bersikap egois.
Zi memang keras kepala seperti ibunya, tetapi hatinya juga lembut seperti hati Zein. Zi perpaduan yang sempurna antara Nisa dan Zein. Selain tampan dia juga manis. Seandainya saja Zein masih hidup mungkin kehidupan mereka akan lebih baik dari ini.
...***...
"Sayang ... kita sudah sampai lo..."
"Eh iya, alhamdulillah kita sudah sampai." Ucao Nisa senang.
Nisa dan Fadhil pun berjalan keluar bandara dengan bergandengan tangan. Dari kejauhan sudah nampak Zi melambai-lambai tangannya ke arah kedua orangtuanya.
"Mas, itu Zi..." tunjuk Nisa pada suaminya.
"Iya, ayo kita kesana."
Mereka pun segera menuju dimana Zi dan Yo menjemput mereka. Setelah sampai Zi lalu memeluk mamanya dengan erat. Kerinduan yang terpendam kini tercurah pada mamanya seorang.
Meskipun mereka hanya berpisah selama lima hari, tetapi itu terasa lama sekali bagi Zi.
"Sayang, sudah dong peluknya Mommy, masa Daddy engga dipeluk."
Mata Zi pun berpindah pada ayahnya. Ia pun melepaskan pelukannya terhadap mamanya.
"Aku juga rindu Daddy... " ucapnya sambil merentangkan tangan pada ayah sambungnya itu.
Lalu Fadhil pun mengangkat putranya tersebut dan menggendongnya sampai tempat parkir. Kemudian mobil yang menjemput mereka pun segera melaju ke rumah.
Nisa dan Zi ada di kursi belakang, sedangkan Fadhil dan Yo berada di depan. Mereka pun mengobrol dengan hangat di dalam perjalanan menuju rumah. Tidak ada batasan atasan dan bawahan disana. Semuanya menyatu dalam kebersamaan yang tercipta.
...~Bersambung~...
.
.
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...