After Married

After Married
BERTAMU



...........................


Ia pun menghembuskan nafas dengan kasar sambil terus fokus pada stir kemudinya. Tiga puluh menit kemudian ia pun sampai di rumahnya. Sudah setahun terakhir ini ia tinggal sendiri di rumah kontrakannya ini. Ia sebenarnya sudah membeli sebuah rumah disalah satu sudut kota J, tapi ia masih belum menempatinya. Ia masih nyaman dengan rumah kontrakannya ini.


Tapi mungkin jika ia sudah menemukan tambatan hati atau lebih tepatnya calon istri, ia akan pindah ke rumah barunya itu.


⚘Beberapa hari kemudian.


Malam itu sesuai permintaan Nisa, Fadhil sudah berdiri tepat di depan rumah Nisa. Ia memenuhi undangan jamuan makan malam di rumah itu.


Dengan langkah ragu, ia mulai memasuki halaman rumah Nisa.


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum." Ucapnya setelah mengetuk pintu.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu Nisa dari dalam rumah.


"Nak Fadhil ya?" Tanya ibu setelah mengetahui tamu undangan mereka sudah tiba.


Fadhil mengangguk, "Iya bu." Jawabnya sopan, lalu ia pun menyalami tangan ibu Nisa.


Lalu diajaklah ia masuk ke rumah mereka. Dari arah dalam, Zein datang dan masuk ke ruang tamu.


"Maaf anda mencari siapa?" Tanyanya sesaat.


"Ini nak Fadhil, tamu undangan kita nak."


Fadhil pun bangkit dari duduknya dan menyalami Zein.


"Fadhil."


"Zein, silahkan duduk, maaf saya tidak mengenali anda, tapi terimakasih banyak untuk pertolongannya kapan hari." Ucap Zein.


"Iya, sama-sama, kebetulan saya berada tidak jauh dari lokasi itu, dan maaf saya lancang membawa anda ke rumah sakit."


"Terimakasih juga sudah menolong istri saya."


"Iya."


Dua lelaki tadi pun berbasa-basi mengobrol untuk beberapa saat, sampai Nisa menghampiri mereka berdua.


"Nisa, Fadhil sudah datang." Ucap Zein sambil menggandeng Nisa ke ruang tamu.


"Hai mas, apa kabar?" Sapa Nisa sesaat setelah berjabat tangan dengan Fadhil.


"Alhamdulillah baik," ucapnya, "Bagaimana sudah membaik keadaannya?


"Alhamdulillah seperti yg mas lihat, berkat pertolongan mas, kami berdua baik-baik saja." Ucap Nisa.


"Alhamdulillah kalau begitu."


"Untung dokter Richard mempunyai no kamu, jadi kami bisa berterima kasih kepadamu Fadh." Ucap Zein menimpali.


"Ha, ha, ha iya, sama-sama."


"Alhamdulillah sehat mas, dia makin gembul sekarang," ucap Nisa dengan senyuman.


"Eh makan dulu yuk, keburu dingin nanti engga enak lo."


Lalu Nisa pun mengajak kedua lelaki tadi untuk masuk ke ruang makan. Disana sudah ada kedua orangtuanya dan mertuanya dan juga baby Zi disana.


"Ini Fadhil ma, pa." Ucap Zein memperkenalkan Fadhil di tengah keluarga besarnya.


"Selamat malam om dan tante." Ucap Fadhil seraya membungkukkan badan, tanda hormatnya pada anggota keluarga Nisa dan Zein.


"Ayo duduk nak Fadhil." Ucap Ibu Zein dan Nisa hampir bersamaan.


Lalu mereka berenam segera makan malam, lalu sesudahnya mereka berkumpul di ruang keluarga, mereka berbincang-bincang tentang keseharian mereka sambil menjalin keakraban satu sama lain.


Awalnya Fadhil ragu datang ke rumah itu, tapi setelah datang, ternyata keluarga Nisa maupun Zein sama-sama bisa menerima kedatangannya dengan hangat dan penuh rasa kekeluargaan.


Apalagi dengan jarak seperti ini, ia bisa kembali memandangi wajah Nisa yg tersenyum lepas di depannya, meskipun senyum itu didapatkannya dari orang lain bukan dirinya. Tapi ia ikut berbahagia, apalagi ada baby Zi yg sejak tadi mencuri perhatiannya. Ia kangen menggendong bayi mungil tersebut, tapi ia juga tak berani meminta ijin untuk menggendongnya.



Tatapan mata baby Zi, sungguh membuatnya gemas, dan merasakan rindu yg berkali-kali lipat.


"Wah, baby Zi terus memandangi kamu lo mas, kayaknya ia kangen sama pamannya." Ucap Nisa yg terus memandangi putranya yg dari tadi menoleh ke arah Fadhil saat ia gendong.


"Wah, sepertinya iya, kamu kangen paman ganteng ya nak." Ucap Ibu Zein sembari mengelus puncak kepala baby Zi.


Fadhil tersenyum, "Apa boleh saya menggendongnya Nisa, Zein?" Tanya Fadhil.


"Tentu boleh." Jawab Zein.


Lalu nanti Zi pun dipindah tangan kan ke dalam gendongan Fadhil.


"Hmm, antengnya cucu nenek, pinter banget si digendong paman langsung anteng." Ucap Ibu Nisa.


Fadhil pun tersenyum menanggapinya. Entah kenapa ia bahagia sekali bisa menggendong baby Zi. Dan begitu pula dengan Baby Zi, yg sangat nyaman dalam gendongan Fadhil.


Lalu mereka pun melanjutkan obrolan mereka, sampai ahirnya hari pun semakin larut. Lalu Fadhil pun segera undur diri. Sedangkan Baby Zi sudah 30 menit yg lalu digendong Nisa untuk disusui di kamarnya.


Fadhil pun segera berpamitan. Tak lupa ia mengucapkan banyak terimakasih pada keluarga Nisa dan Zein yg sudah menerima dan menjamu kedatangannya dengan sangat baik.


⚘ Beberapa bulan kemudian.


Sekarang usia Baby Zi sudah menginjak enam bulan. Nisa pun sudah kembali bekerja sejak sebulan yg lalu. Selama bekerja Baby Zi diasuh oleh pengasuhnya. Ia dan Zein sepakat untuk mempekerjakan satu pengasuh bayi di rumahnya.


Namanya Mbok Iyem, beliau adalah tetangga Nisa di desa, ia juga teman dekat ibu Nisa saat di kampung. Karena Mbok Iyem, sudah tidak ada suami dan anak-anaknya sudah besar, maka ia pun tinggal sendiri, oleh karena itu, beliau diajak bekerja di rumah Nisa.


Baby Zi tampak menyukai Mbok Iyem sejak awal kedatangannya, dan ia juga tidak rewel, maka dari itu, Zein dan Nisa pun sangat menyukai kedatangan Mbok Iyem. Dan Nisa juga menjadi lebih nyaman saat meninggalkannya untuk bekerja.


Untung saja Nisa dan Zein satu tempat kerja, jadi mereka pun saling melengkapi satu sama lain. Nisa juga sudah mendapatkan ijin dari suaminya untuk bisa kembali bekerja. Tapi kali ini ia tidak satu kantor dengan Zein, melainkan ia satu kantor dengan Fadhil.


Setelah melahirkan Nisa mengundurkan diri dari tempat kerja Zein, karena ia tak mau merepotkan suaminya, terlebih kalau mereka satu tempat kerja akan banyak gunjingan yg ada, meskipun Nisa sangat berprestasi dalam pekerjaannya, tapi omongan miring tentangnya tidak pernah surut.


Zein pun memakluminya dan mengijinkan Nisa untuk pindah tempat kerja. Beruntung sekali perusahaan tempat Fadhil bekerja sedang membutuhkan sekretaris dan Nisa pun diterima dengan baik disana. Fadhil pun sudah naik jabatan, kini ia menjabat menjadi wakil CEO. Dan Nisa menjadi sekretaris Fadhil.


Jadi waktu untuk bertemu mereka semakin banyak. Fadhil yg awalnya ragu, ahirnya membiarkan rasa di hatinya kembali untuk tumbuh, meskipun itu sebenarnya salah. Sedangkan Nisa yg tidak tau menau, biasa saja. Selama ini ia hanya menganggap Fadhil sebagai kakaknya saja, sama seperti saat mereka masih di kota X dulu.


Dan Zein tak menaruh curiga apapun pada Fadhil, karena Fadhil sudah dianggap teman dan keluarga olehnya.