After Married

After Married
NAMA INDAH UNTUKMU



...🍃~🍃~🍃...


...Rumah sakit...


Setelah Nisa melahirkan dan bayi yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki sesuai hasil USG ia pun menyematkan sebuah nama indah untuknya.


Aaron Eckhart Athafariz atau dipanggil Aaron atau Azzam. Fadhil sengaja memilih nama itu agar putranya kelak bisa memiliki kedudukan tinggi nantinya.


Sedangkan Eckhart diambil dari bahasa Jerman, artinya berdasarkan kalkulasi numerologi mempunyai nilai tiga.


 


Angka tiga mempunyai karakteristik ekspresif, mudah berbicara, bersosialisasi, seni dan menikmati hidup. Ia berharap anaknya mempunyai sifat-sifat yang baik itu.


 


Sedangkan arti nama bayi Athafariz dalam bahasa Islami artinya anugerah berupa kharisma. Orang dengan nama Athafariz tergolong percaya diri. Ia memimpin dengan berwibawa dan selalu mencari petualangan. 


 


Ia sangat tertarik dengan kehidupan dan memiliki sifat mandiri. Orang ini juga bicara apa adanya dan tertarik secara fisik pada orang lain.


 


Saat Fadhil menyematkan nama itu untuk putra mereka, Nisa sangat bahagia. Ada kebahagiaan tersendiri ketika sang suami bisa menemani semua proses saat ia melahirkan buah hati mereka. Senyumnya tak pernah pudar ketika melihat suaminya siap siaga disisinya.


 


Tetapi sesaat kemudian ada sesuatu yang terasa sesak di dadanya. Ia teringat suaminya Zein, entah bagaimana kabarnya saat ini. Ia bahkan belum menghubungi orang di rumahnya untuk menanyakan kabarnya.


 


“Lagi mikirin apa sih yang?”


 


Nisa tersentak ketika suaminya tiba-tiba berada di sisinya.


 


“Eh gak ada mas, aku hanya teringat Zi, apa dia sudah tau kalau adiknya telah lahir?”


 


“Alhamdulillah ia sangat bahagia sayang, tadi saat aku membawa pulang ari-ari Aaron ia sempat bertanya padaku ...”


 


“Bertanya apa mas?”


 


“Bertanya apa adiknya sudah lahir atau belum?”


 


“Betapa bahagianya ketika ia tau bahwa kamu telah melahirkan adiknya dengan selamat, begitu pula saat mengetahui kalau ibunya juga selamat."


"Ia bahkan tidak sabar untuk segera bertemu dengan adiknya dan juga dirimu.”


"Alhamdulillah, lalu kapan aku boleh pulang mas, aku sudah sangat merindukannya?"


"Setelah keadaan kamu pulih sayang," ucapnya lembut sambil membelai kepala sang istri.


"Bolehkah aku kesana sekarang mas?"


Dahi Fadhil berkerut, menandakan ia bingung dengan kemauan istrinya itu, Nisa pun menunjuk pada kedua bukit kembarnya yang terasa penuh. Ahirnya ia paham akan kode yang diberikan istrinya.


"Boleh, aku ambilkan kursi roda untukmu sebentar ya sayang."


Nisa mengangguk, sesaat kemudian ahirnya ia pun sudah membawa kursi itu ke samping brankar Nisa.


Dengan dibantu suaminya ia pun menuju lantai dua untuk menemui bayinya. Pa****ranya sudah terasa penuh dan mungkin saja bayinya sudah lapar. Entah itu feeling sang ibu, atau memang seperti itulah adanya.


Jika tidak segera diberikan kepada bayinya, ia takut kalau nanti pa****ranya jadi bengkak dan sakit. Jadi ia pun berinisiatif untuk menemui bayinya dan memberinya ASI.


Lagipula ia hawatir kalau sang putra sudah diberi susu formula, daripada diberi susu formula, ia lebih baik memberinya ASI. Tentu saja karena kandungan nutrisi yang berada dalam ASI sudah sangat lengkap ketimbang susu formula.


Setelah sampai di depan lift, Fadhil segera menekan tombol angka nomor dua, tempat dimana bayinya berada.


Ting ... lift terbuka lebar.


Fadhil segera mendorong kursi roda Nisa untuk masuk ke dalam lift. Setelah masuk ke dalam lift, ia pun segera menekan angka yang sama untuk kedua kalinya. Tak lama kemudian kedua orangtua baru itu pun sampai di lantai dua.


Setelah pintu terbuka ia segera mendorong kursi roda Nisa menunu ke depan ruang jaga Laktasi.


"Permisi sus..."


"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Istri saya Ibu Anisa Faiha ingin menyusui bayinya boleh sus?"


"Oh boleh, mari saya antar ibu ke dalam," ucap suster itu ramah.


"Terimakasih sus."


"Eh, bapak mau kemana?"


"Ikut istri saya masuk sus."


"Maaf pak, ruangan didalam khusus untuk ibu dan bayinya saja, bapak silahkan menunggu di luar saja."


"Hah ....!!!!" ucapnya tidak percaya.


Suster itu hanya tersenyum dan membenarkan perkataannya barusan. Dengan sangat terpaksa ia pun menunggu Nisa di depan ruang Laktasi.


Sambil menunggu sang istri ia pun memainkan ponselnya sembari mengechek beberapa laporan pekerjaan di perusahaannya.


.


.


.


Bersambung


.


.


Maaf ya, bila othor telat up dalam beberapa hari ini. Dikarenakan kesehatan othor yang naik turun menjadikan othor mengurangi frekuensi dalam menulis. Mohon maaf sebelumnya, semoga readers kesayangan Fany tetep setia menanti kelanjutan novel ini ya, terimakasih banyak🙏