
Lexi masih mematung karena terkejut, tapi dia juga tengah mencerna empat kata yang terdengar ambigu. Ayo kita buat anak? Lexi yang sedari tadi hanya diam menatap Devi tidak bisa memberikan respon apapun.
Kaget? ya iyalah, masa tidak! Lexi yang mulai kembali tersadar menepuk dadanya pelan sembari menggelengkan kepala. Dia mengira, jika dia dia mabuk hanya karena satu gelas alkohol.
" Kenapa kau diam?! " Tanya Devi dengan nada yang sedikit meninggi.
" Barusan kau mengajakku apa? " Lexi bertanya lagi, karena merasa tidak percaya dengan yang tadi ia dengar.
Devi menelan salivanya lalu mengalihkan pandangan.
" Ayo buat anak! "
Lexi kini terperangah karena yang dia dengar pasti tidak salah. Pria itu hanya bisa kebingungan saat perempuan bermulut kubangan, atau kini lebih tepatnya istrinya mengajaknya membuat anak. Lexi menatap manik mata Devi yang kini mulai menatapnya. Gadis itu tegas menatapnya, tentu saja Lexi kebingungan, mana ada mengajak membuat anak dengan tatapan begitu? bukankah harusnya dia menggoda atau memberikan rangsangan-rangsangan seperti di film anu? kenapa terkesan memerintah? memangnya membuat anak tidak membutuhkan proses? Lexi malah ketakutan dibuatnya. Dia berpikir, kalau sekarang dia melakukan anu, alias kikuk kikuk, trs nanti gagal, lalu si mulut kubangan itu marah, bagaimana? dia kan bukan tipe penyabar batinnya.
" Mu mulut kubangan! apa yang kau bicarakan? " Lexi mencoba menguasai dirinya yang memang tergoda. Seolah ada dua mahkluk yang berbisik di telinganya. Yang satu mendukungnya, dan yang satu menahannya.
" kenapa memangnya?! kita kan suami istri! memang apa salahnya?! " Tanya Devi yang mulai merasa kesal. Kalau bukan karena takut Lexi akan mencari wanita lain, mana sudi dia begini. Batinnya menggerutu.
Ya ampun! kenapa dia memaksa? apa dia tidak bisa lembut sedikit? seharusnya dia kan menggodaku? bukannya mengancam.
" Hei! mulut kubangan, apa kau tau caranya membuat anak? " Tanya Lexi sembari menyeringai.
Sialan! tahu lah! Vanya sudah memberi tahu, termasuk juga memberikan video yang sudah aku tonton. Aku memang belum tahu rasanya, tapi kalau melihat dari cara mereka mendesah, sepertinya..... Eh! apa-apaan sih! fokus! fokus saja! sialan!! ini gara-gara Vanya menunjukkan video cabul itu, otakku jadi terbayang-bayang tentang itu.
" Apa kau sedang mengulur waktu? " Tanya Devi yang tak terbaca maksud ucapannya, karena dia masih membelakangi lampu tidur.
What?! dia ini benar-benar serius ya?.
" Aku hanya memastikan, kau hanya mengajak membuat anak, tapi, apa kau tahu proses pembuatan anak? " Tanya Lexi yang kini sudah mulai serius.
Sialan! tahu lah! aku sudah menonton video pembuatan anak.
" Tentu aku tahu. " Ujar Devi.
Lexi menatap Devi sembari membenahi posisinya dan duduk dengan menyenderkan tubuhnya di senderan tempat tidur.
" Apa kau yakin? " Tanya Lexi yang mulai antusias. Ya iyalah, namanya juga namanya juga kucing, kalau dikasih ikan mana ada nolaknya?
" Aku kan harus memastikan dulu. "
" Memastikan apa? apa kau takut tongkat ajaibmu tidak bisa berdiri karena aku perempuan? ingat ya, kau hanya bisa menghamili perempuan! mau tidak mau kau harus mengesampingkan sifat homo mu itu! "
Lexi yang tidak terima akhirnya tidak tahan untuk tidak membela diri. " Aku tidak hom- "
Devi tanpa aba-aba memberikan kecupan singkat di bibir Lexi, meski merasa sedikit kaku, gadis itu perlahan melepaskan bibirnya tanpa menjauhkan wajahnya. Lexi yang merasa terkejut hanya bisa menatap Devi yang tiba-tiba ada didekatnya.
Apa yang Vanya katakan memang benar rupanya, gunakan sentuhan mesra atau ciuman yang mampu melumpuhkan lawan kita saat di ranjang. Dan masih mengikuti instruksi Vanya, gadis itu menghirup aroma tubuh Lexi yang benar-benar maskulin, hingga tanpa sadar tangannya menyentuh dada bidang Lexi. Mendapat serangan mendadak, Lexi memang cukup terkejut, tapi dia juga tidak bisa membohongi dirinya karena dia juga merasakan gairah yang tidak biasa. Perlahan tangan Lexi melingkar di pinggang Devi lalu membuat gadis itu berpindah posisinya menjadi berada di pangkuannya, dan gadis itu, kini sudah menjalankan tangannya hingga memeluk tengkuk Lexi. Perlahan mereka kembali menautkan bibir. Untunglah, para jomblo menahun ini memiliki pengalaman menonton Video anu anu, jadi mereka bisa sedikit mempraktekkannya sekarang. Ciuman itu perlahan menjadi dalam dan semakin menuntut. Entah dari mana juga keberanian mereka berasal, mereka saling menyergap seperti singa kelaparan.
Perlahan, Lexi bergerak untuk mengubah posisi tanpa melepas panggutan mereka, Lexi mulai membuka kancing baju Devi lalu mulai menurunkan ciumannya hingga kebagian leher dan menyisakan tanda merah disana, Lexi benar-benar sudah tidak tahan lagi ketika wajahnya sudah berada di bagian dada Devi. Ukurannya memang kecil, tapi entahlah, itu tidak menjadi masalah untuk Lexi. Karena pada nyatanya, pria itu tetap bergairah tanpa perduli ukuran. Lexi melanjutkan kegiatannya sembari memiringkan tubuh Devi agar lebih leluasa membuka pengait bra nya. Saat Devi kembali pada posisi awal, Lexi semakin tidak bisa menahan hasratnya yang sudah di ubun-ubun melihat kedua gundukan itu. Baru dia kan menyergapnya,.
" Lex, " Panggil Ibunya Lexi yang langsung membuka pintu. Sontak, Lexi dan Devi menjadi gelagapan. Devi meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang bagian atasnya sudah polos.
" Ma maaf.... " Ibunya Lexi menutup matanya seketika saat pintu itu terbuka.
Sialan! Ibu, aku benar-benar membencimu! Batin Lexi kesal.
" Maaf ya? Ibu salah karena tidak mengetuk pintu. Lanjutkan saja, Ibu akan meminta bantuan adikmu saja deh." Ibu yang masih menutup matanya menggunakan telapak tangan, mencoba untuk memutar tubuhnya agar bisa keluar dari kamar Lexi.
Pergilah nenek lampir! mengganggu aku yang mau mengakhiri keperjakaan ku saja.
" Tidak Ibu, katakan ada apa? " Tanya Devi yamg sudah kembali mengenakan baju.
" Tidak perlu sayang. Ibu akan mencari Levi saja. " Ujar Ibu yang benar-benar merasa tida enak.
" Tidak apa-apa Ibu. Katakan saja. Dan, Ibu sudah boleh membuka mata. " Ujar Devi sedikit canggung.
Lexi menatap Devi kesal. Sialan! kenapa kau mengatakan itu, mulut kubangan? itu sedikit lagi aku kan tidak menyandang perjaka lapuk. Meskipun aku benci mengakui kalau aku selalu menggunakan tangan, tapi kan tetap saja rasanya beda. Kevin dan Nath bilang, rasanya dari ujung kepala hingga ujung kaki akan merasakannya juga! kau tega ya membuat itu ku berdiri? kau pikir dia butuh upacara? dia itu butuh ditidurkan!!! sialan! ini semua gara-gara nenek lampir ini!
Ibunya Lexi hanya bisa meringis pasrah, dia paham benar jika anak sulungnya itu pasti tengah memaki dirinya. Tapi bagaimana lagi? jujur saja dia lupa kalau Lexi sudah menikah, jadi langsung saja buka pintu seperti biasanya. Eh, tidak! bukan hanya salah Ibunya Lexi kan? ini adalah kesalahan Lexi yang tidak mengunci pintu.
Maaf anakku sayang, Ibu tidak sengaja loh mengganggu mu. Padahal, tadi itu pasti masih hot hot nya. Ya ampun, aku masih tidak percaya jika Lexi bisa begitu.
To Be Continued.