Touch Me!

Touch Me!
Tidak Masalah Menjadi Egois



Nathan terdiam mendengar Mage yang semakin menuntut jawaban darinya.


Mata Nath tertuju kepada Mage yang sedari tadi tak henti menatapnya memohon jawaban.


" Aku tidak membohongimu soal anakku. Aku memang sudah memiliki anak. " Nath seketika mengalihkan tatapannya. Dia sadar, jika semakin menatap Mage yang bersedih terus menerus, dia tidak akan bisa menahan diri untuk tidak perduli.


" Dia anak kandungmu?


Nath kembali menatap Mage. Bukan untuk melihat kesedihan yang tersirat diwajah wanita itu. Tapi, untuk mempertegas situasi yang sebenarnya memalui sorot matanya. " Iya. Dia adalah anak kandungku.


Mage menjatuhkan tas belanjaannya. Tangannya menutup mulutnya yang terperangah tak percaya. Lagi, air matanya juga langsung saja terjatuh.


Nath menghela nafasnya. Bukan kasihan kali ini, dia merasa risih melihat air mata Mage yang sebentar sebentar jatuh.


" Ayah! " Nathan berlari ke arah Nath. " Bagaimana dengan ini? apa pakaian ini mirip seseorang yang misterius? " Nathan memamerkan gaya berpakaiannya. Dia mengenakan jaket hitam dengan penutup kepala yang kini menutupi kepalanya. Matanya juga tertutup oleh kaca mata hitam yang sedari tadi bertengger menutupi sebagian wajahnya.


" Misterius? iya, ini terlihat sedikit mirip. " Nath menyentuh kepala Nathan sembari melemparkan senyum penuh kasih sayang.


" Ayah, Bibi ini siapa? " Nathan menatap sosok wanita yang ia yakin belum pernah melihat sebelumnya.


" Dia temen Ayah. Namanya Bibi Magdalena. " Nath menatap Mage sesaat lagi berganti pada Nathan.


" Nath, apa yang sebenarnya terjadi? kau belum menikah semenjak kita berpisah. Bagaimana kau bisa memiliki anak? apa dia anak adopsi? apa dia anak yang kau gunakan untuk menghibur diri?


Nath menatap Mage kesal. " Jagalah bicaramu Mage. Aku tidak mau kau mengatakan hal-hal bodoh itu lagi.


" Nath, kenapa kau begitu menyedihkan?


" Apa?! " Nath semakin heran dengan arah pembicaraan Mage yang tidak jelas ujung pangkalnya.


" Kau begitu menderita kah saat kita berpisah? kau bahkan memungut seorang anak agar tidak kesepian?


" Aku bukan anak pungut! " Kesal Nathan.


Nath menghela nafasnya. Dia membuka kaca nata hitam yang menutupi sebagian wajah Nathan. " Lihat wajahnya. Apa kau masih ingin mengatai anakku sebagai ana adopsi atau anak pungut?


Mage terdiam saat dengan jelas melihat wajah bocah kecil dihadapannya itu. Dia, benar-benar sangat mirip. Kenapa? aku pikir, Nath sama menderitanya denganku saat kami berpisah. Tapi, dia malah sudah memiliki anak? aku bahkan mengira, Nath tidak bisa hidup tanpa ku. Ini, benar-benar menyakitkan. Ternyata akulah yang paling tidak beruntung.


Mage menghapus air matanya. Dia mencoba tersenyum senatural mungkin. " Nak, maaf ya... Aku bersalah padamu. Apa kau mau memberiku maaf?


Mage menunduk menyesuaikan dengan tinggi tubuh Nathan. " Apa kau sangat marah? tidak bisakah kau mengampuniku?


Iya aku sangat marah! bukan karena kau mengataiku. Tapi, kau dan Ayahku pa hubungannya?! kenapa kau begitu menyedihkan saat berbicara pada Ayahku. Heh...! maaf Bibi. Ayahku ya hanya untuk Ibuku.


Nathan tersenyum dan mengangguk. " Baiklah,... aku memaafkan Bibi.


Mage tersenyum sembari mengusap wajah Nathan. " Terimakasih. Oh iya, siapa namamu anak tampan?


" Nathan.


" Hah?


" Namaku, Nathan.


" Begitu ya? " Mage memaksakan wajahnya seolah tidak ingin terkejut.


Nathan? wanita yang mengandung anaknya Nath, benar-benat tidak kreatif. Bagaimana bisa dia memberi nama anak sama dengan nama Ayahnya. Aku penasaran, kira-kira siapa Ibu dari anak ini?


Tak jauh dari mereka. Dua orang wanita sedang menatap mereka diam-diam.


" Vanya? " Panggil Devi yang sepertinya menyadari jika Vanya terlihat tida baik-baik saja.


" Aku tidak apa-apa. Aku hanya, sedikit terkejut saja. Ternyata benar, Nath dan mantan kekasihnya sudah memiliki anak.


Vanya menarik tangan Devi agar mengikuti kemana langkah kakinya akan membawa sahabatnya. Mereka terus berjalan hingga sampai ke parkiran mobil. Vanya membuka pintu dan langsung duduk.


" Ini. " Devi menyerahkan sebotol air mineral untuk Vanya. Dia tahu benar, sahabat dekatnya itu kini sedang galau. Baru melihat begitu saja sudah terkejut begitu. Apalagi kalau dia melihat Nath dan wanita itu sedang membuat anak mereka batinnya.


" Kenapa kau langsung pergi? kau kan bisa menyapa mereka. Dan, kau juga bisa berkenalan dengan anaknya Nath kan? sayang sekali kita hanya bisa melihat punggungnya. Padahal, aku ingin membandingkan kadar ketampanan Nathan kecilku dengan bocah itu. " Ujar Devi yang terlihat sedikit kecewa.


" Entah lah, aku hanya merasa sedikit iri melihat mereka bertiga.


Devi menatap sahabat karibnya yang kini terlihat murung. Ia paham benar, Vanya adalah wanita yang mudah dipengaruhi suasana. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menghibur dan menguatkan sahabatnya itu.


" Jangan iri dengan hal yang hanya terlihat indah di matamu. " Devi tersenyum sembari menepuk pelan pundak Vanya.


" Apa maksut mu?


" Terkadang, sesuatu yabg nampak indah di mata kita, justru terasa menyakitkan. Lebih baik, kau fokus untuk hidupmu dan keponakan tercintaku. Raihlah kebahagiaanmu. Dan ingat, tidak masalah kau menjadi egois dan mementingkan kebahagiaan mu dan anakmu. Kalau kau tidak egois, maka orang lain yang akan egois. Dan kau, akan semakin jauh dari kebahagiaanmu.


Vanya menatap Devi dengan air mata yang membendung di pelupuk matanya. Dia memeluk erat sahabat karibnya itu. Disaat begini, memang suntikan semangat dan nasehat dari sahabatnya yang paling Vanya butuhkan.


" Jadi, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?


Vanya melepas pelukannya dan mengusap matanya yang berair. Dia menarik nafas dan menghembuskan dengan mimik wajah yang terlihat semangat dan percaya diri.


" Tentu saja. Aku tidak perduli apapun. Entah itu Ibu dari anaknya Nath atau siapapun. Karena sekarang, aku adalah kekasihnya Nath. Kalau dia menyombongkan putranya, heh! aku juga bisa. Memang dia saja yang punya anak dari Nath? aku juga punya. Dia tampan dan pintar. Anakku pasti lebih baik dari anak Nath yang lain.


Devi hanya bisa meringis sembari menggaruk tengkuknya. Dia hanya bisa menahan pendapatnya didalam hati. Memang dia saja yang punya anak dari Nath?! kata- kata ini terasa menggelitik di telinganya. Bukankah Nath terlihat seperti seorang brengsek? bagaimana dia punya anak disana, disini juga punya anak? ya ampun... batin Devi keheranan.


***


" Ayah, ayo kita pulang. Ini sudah mulai sore. " Ajak Nathan yang sudah tidak tahan lagi berpura-pura ramah dihadapan Bibi genit yang terus menatapnya dan Ayahnya terus menerus.


" Baiklah,... Ayah akan membayar belanjaan mu dulu. Duduklah disini. " Nath menuntun Nathan untuk duduk setelah itu dia menuju meja kasir untuk membayar belanjaan Nathan.


" Nathan, boleh Bibi bertanya? " Tanya Mage dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


" Iya. Tentang apa?


" Em,... Boleh bibi tahu? siapa Ibumu?


" Secret.


Apa?! kenapa sih anak ini? aku cuma ingin tahu saja. Benar-benar anaknya Nath. Mereka sama-sama selalu bersikap waspada. Memangnya aku terlihat seperti mafia apa? cih! aku benar-benar penasaran sekali.


Diperjalanan pulang.


" Nathan, em,... sebenarnya, Ayah ingin mengenalkan mu pada seseorang. " Ucap Nath sembari fokus mengemudi.


Seseorang? siapa?


" Apa keluarga Ayah?


" Iya. Bagaimana?


" Aku, " Nathan terlihat berpikir keras untuk menjawab pertanyaan ini. Dilain sisi, ada Ibu yang harus ia hormati keputusannya. Dia paham benar, Ibunya masih ingin menyembunyikan keberadaanya. Jika tiba-tiba keluarga Ayahnya mengetahui keberadaanya, bukankah sama halnya Nathan menghianati sosok Ibu yang selalu mencintai dan membesarkannya selama ini?


Nath meraih tangan Nathan dan menggenggamnya erat. " Baiklah, Ayah akan membocorkan sedikit rahasia tentang dia. Dia adalah orang yang baik dan lucu. Kau pasti akan menyukainya.


Heh....! baik, lucu, cantik, semua itu hanya milik Ibuku. Aku penasaran, siapa orang yang dengan beraninya menyamai sifat Ibuku itu.


To Be Continued.