
" Honey! "
Suara melengking memecah gendang telinga Lexi. Siapa lagi kalau bukan istrinya. Suara itu kini bak alarm otomatis yang melebihi nyaringnya suara terompet tujuh belas Agustus. Lexi yang tak mau membuang waktu karena sangat berat konsekuensinya, secepat mungkin melangkahkan kaki menuju sumber suara. Marah? tidak! laki-laki itu kini lebih mengkhawatirkan dirinya jika sampai harus mendengar makian istrinya. Selain menyakitkan, perkataan istrinya itu benar-benar selalu mengiang-ngiang di telinganya sepanjang waktu.
" Honey? "
Langkah Lexi semakin melambat saat melihat tubuh istrinya tengah berdiri tegap dengan kedua tangan yang bertolak pinggang. Tatapan marahnya benar-benar memancar bahkan di ruangan yang minim pencahayaan. Lexi menarik nafas dalam-dalam agar tak gugup sembari mengumpulkan keberanian untuk merayu istrinya yang sudah pasti akan memakinya habis-habisan.
" Dari mana saja kau? "
Oh, sungguh sangat lembut nada suara itu. Tapi tidak dengan tatapannya yang seolah seperti belati tajam siap menancap ke dadanya. Lexi menelan salivanya beberapa kali karena sungguh, itu terasa seperti menelan pasir saat manik matanya menatap tajam ke arah tatapan istrinya.
" A aku ada meeting dadakan, Honey. "
Devi menajamkan mencari kejujuran dibalik mimik wajah suaminya yang jelas sekali tidak bisa berbohong. Devi tersenyum miring menatap manik mata suaminya yang nampak tak fokus karena berbohong.
" Berani berbohong, kau tahu apa resikonya kan? "
Lagi, pria malang itu hanya bisa menelan salivanya yang terasa sulit untuk membasahi kerongkongannya. Kalau jujur, sudah pasti dia kan bertanya apa yang dia dan teman-temannya bicarakan? kalau sampai begitu, Dia pasti akan lebih rinci lagi. Dan ujung-ujungnya, dia juga yang akan dimarahi.
" A aku pergi bersama Nath dan Kevin. "
Devi menghela nafasnya. Dia tahu benar jawaban itu sangat jujur. Sedari tadi dia coba menghubungi Lexi tapi tidak bisa. Entah apa maksudnya, tapi melihat Lexi jujur dengan jawabannya, dia tidak mau lagi memarahinya. Sudah cukup lelah juga bibirnya memaki suaminya sedari pagi. Kalau sampai dia memaki lagi malam ini, dia takut bibirnya kejang dan terpaksa puasa mengoceh esok harinya.
" Kau sudah makan? "
" Eh? "
Lexi menatap manik mata istrinya yang tak lagi terlihat marah.
Tumben tidak marah? apa jangan-jangan, dia sedang merencanakan sesuatu?
" Jangan buat aku bertanya sampa dua kali ya! "
Lexi terkesiap menatap kembali istrinya yang mulai lagi terlihat marah.
" Su sudah, Honey. "
" Bagus! mandi dan cepat tidur. "
" Iya. "
Pria itu secepat kilat berlari menuju ke kamar mandi. Dibawah guyuran air dia masih saja bertanya-tanya. Apa yang terjadi hari ini? kenapa istrinya tidak marah? padahal dia pergi sudah cukup lama loh. Kalau di ingat lagi, hampir tiga jam dia bersama teman-temannya. Biasanya dia akan mengamuk seakan siap membombardir bumi beserta alam semesta nya.
Honey, kenapa marah mu seperti hello kitty malam ini? aku harus senang apa harus waspada?
Beberapa saat kemudian.
Lexi membalikkan badannya setelah merasa bersih seluruh tubuhnya untuk meraih handuk yang ia gantung di balik punggungnya.
" Ah! "
Lexi terperanjak hingga tubuhnya mundur beberapa langkah dan bahkan, pria itu hampir saja terjatuh. Tapi untunglah, kedua tangannya dengan cepat mencari pegangan untuk menahan tubuhnya.
" Honey? kenapa ada disini? kenapa juga kau berdiri dengan pakaian begitu? "
Siapa yang tidak akan terkejut melihat penampilan Devi yang berdiri di ujung kamar mandi dengan dress berwarna cream yang hampir menyerupai warna putih. Rambutnya tergerai begitu saja. Apalagi saat dia menyenderkan kepalanya, sebagian rambutnya menutupi wajahnya. Dan lagi, Lexi sama sekali tidak menyadari kapan istrinya masuk ke kamar mandi menyusulnya.
" Kenapa? apa menurutmu aku menyeramkan? "
Kalau aku jawab iya, kau pasti marah kan? dan lagi, aku lebih sayang nyawaku. Jadi mana mungkin aku bilang iya?
" Tidak kok, Honey. Aku hanya terkejut. Ngomong-ngomong, kenapa berdiri disitu? "
Devi berjalan mendekati suaminya yang begitu menggoda dengan tubuh yang masih basah karena guyuran air. Sebenarnya, dia langsung menyusul Lexi saat pria itu baru saja melucuti pakaiannya. Maklum saja, kehamilan yang membuat Devi selalu mendorongnya untuk mengekor kemanapun suaminya pergi. Bahkan tidak terkecuali kamar mandi. Devi yang sedari tadi menelan salivanya melihat tubuh polos suaminya begitu kekar diguyur air, hanya bisa menikmati itu tanpa bisa berkata-kata. Matanya benar-benar tak teralihkan sama sekali.
" Ayo kita coba disini. " Bisik Devi ditelinga Lexi.
" Tapi aku takut kau jatuh. Disini licin. Kita ke kamar saja ya? "
" Ok ok. Disini ya? baiklah. "
Dengan hati-hati Lexi mulai memeluk tubuh istrinya sembari membenamkan bibirnya. Perlahan dia melucuti pakaian yang menutupi tubuh istrinya. Sungguh, ini memang di luar dugaan. Tapi tunggu! Semenjak hamil, Lexi begitu kewalahan melayani istrinya diranjang. Terkadang, dia harus makan di tengah malam karena terkurasnya semua energi di dalam tubuhnya. Memang tidak setiap malam, tapi sekali Devi yang meminta, Lexi harus siap-siap kehilangan seluruh energinya.
***
" Sayang,... "
Vanya yang setiap tengah malam akan terus memanggil suaminya dengan nada menyedihkan. Hari ini, Nath yang sudah sangat kelelahan, melakukan kesalahan dengan tidak mendengar istrinya memanggil.
Menyadari jika suaminya tak menyahut, Vanya mulai menangis pelan hingga terdengar isak tangisnya.
" Kau pasti sangat marah ya? aku kan tidak sengaja. Aku sangat mencintaimu loh, suamiku. Tapi kenapa kau tega mendiamkan aku? "
Nath yang terganggu dengan suara isak tangis, perlahan-lahan membuka matanya. Dia mengeryit melihat istrinya meringkuk sembari terisak. Nath melihat jam yang sudah menunjukkan pukul satu malam. Dia langsung bangkit dan memeluk istrinya.
" Sayang, maaf ya? kau pasti memanggilku ya? aku tidak dengar. Jangan menangis lagi. " Nath mengusap punggung Vanya pelan.
Vanya mengeratkan dekapan suaminya itu. Sungguh dia juga tidak memahami apa yang sebenarnya di inginkan oleh tubuhnya yang tengah mengandung itu. Sedikit-sefikit sia selalu marah kepada Nath. Tapi saa tengah malam, dia seperti anak anjing yang mencari induknya. Tapi sungguh, apapun yang dia lakukan, cintanya kepada Nath tidak pernah berkurang sedikitpun.
" Sayang? " Panggil Vanya pelan.
" Em? " Jawab Nath yang sudah kembali mengantuk.
" Ayo kita anu. " Nath langsung membuka matanya lebar-lebar. Huh! dia bahkan sudah beberapa hari menahannya. Finally, dia bisa juga membuang cairan yang menumpuk di alat pembuat benih perkembang biakan manusia itu.
" Serius? " Vanya mengangguk.
" Tapi Jangan terlalu lelah ya Sayang? besok kita harus ke dokter kandungan. "
" Ok, Sayang.
Skip aja adegan anu anunya ya? kasian yang jomblo. Lagian entar Othor otaknya kejang gara-gara ngehalu yang ngeres-ngeres mulu. heee
***
Pagi harinya.
Ketiga pasutri itu kompak memeriksakan kandungan nya. Dari awal periksa kandungan, mereka selalu bersama dengan dokter yang sama. Bahkan, periksa pun harus bersama-sama di dalam satu ruangan. Untungnya, Kevin adalah pemilik rumah sakit itu. Dia sudah menyediakan tempat khusus bagi mereka untuk memeriksa kandungan.
Ketiga wanita hamil itu tengah berbaring untuk melakukan USG. Ketiga dokter yang menangani mereka juga begitu telaten dan hati-hati. Baik dalam berucap juga bertindak. Maklum saja, tiga pasutri yang mereka layani adalah orang yang berpengaruh dan salah satunya adalah pemilik rumah sakit.
" Selamat, Nyonya. Bayi anda sehat. Jenis kelaminnya laki-laki. " Ucap Dokter itu kepada Sherin. Tentu saja Kevin dan Sherin tersenyum bahagia.
" Selamat untuk anda, Nyonya. Bayi anda sehat dan jenis kelaminnya laki-laki. " Lexi dan Devi juga tak kalah bahagia. Mereka saling memeluk mengucap syukur.
" Bagaiman dengan bayi kami Dok? " Tanya Nath yang nampak tak sabar melihat Dokter begitu lama memeriksa Vanya dan bayinya.
" Selamat, Tuan dan Nyonya. Bayi anda perempuan keduanya. " Vanya tersenyum bahagia menatap suaminya. Nath juga bahagia. Yah, meskipun mereka adalah bayi iblis yang kurang ajar, tapi tetaplah Nath Ayahnya. Membayangkan ada dua bayi cantik membuatnya bahagia hingga tak sadar jika matanya kini berair karena rasa haru.
Lexi dan Kevin tersenyum miring menatap Nath. Nath yang tak sengaja melihat ke arah mereka, menatapnya balik dengan tatapan penuh tanya.
" Apa maksud dari tatapan menjijikkan itu? "
Kevin dan Lexi saling bertatapan dengan senyum penuh arti. Nath yang bisa menebak apa maksud tatapan mereka, dengan lantangnya mengatakan apa yang seharusnya.
" Jangan bermimpi! aku tidak akan menjodohkan kedua putriku dengan anak kalian! aku tidak mau berbesanan dengan kalian! "
Lexi dan Kevin berdecih sebal.
***
" Benarkah? " Nathan berloncat-loncatan karena merasa bahagia akan mendapatkan dua adik perempuan. Sungguh bagus batinnya. Anak perempuan kan cenderung manja dan tidak bisa jauh dari Ibunya, ini akan semakin membuatnya bahagia karena menemukan partner untuk merebut perhatian Ibunya.
Anak ini kenapa begitu bahagia? apa yang dia pikirkan? aku seperti mengendus bau busuk dari tingkah bahagianya itu. Batin Nath sembari menatap putranya, Nathan.
To Be Continued.