Touch Me!

Touch Me!
Serangan



Sherin, Vanya dan Devi, kini sedang berkumpul sembari menikmati acara komedi kesukaan mereka. Devi dan Sherin terus saja terbahak-bahak. Tapi, tidak dengan Vanya. Semakin lama malah semakin kesal saja wajahnya.


" Uh! dasar sialan! kenapa siluman ular ini banyak sekali ulahnya?! " Maki Vanya sembari menatap layar ponselnya.


" Tenangkan dirimu! aku pusing mendengarnya. " Sherin mengingatkan sahabatnya yang kumat lagi gilanya. Mengganggu mood nya saja batinnya.


" Aku rasa, mereka pasti sudah melakukan adegan dua puluh satu plus. " Timpal Devi yang merasa lebih senang melihat amarah di wajah Vanya. Lumayan lucu dari pada menonton komedi.


Vanya menatap Devi tajam. " Jangan mengada-ada!


" Aku hanya mengutarakan pendapat. Lagi pula siapa yang tidak akan berpikir begitu? siang dan malam mereka bersama. Memang kau pikir, laki-laki mana yang tidak tergoda oleh tubuh Gaby? apalagi, dia kan cantik.


" Suamiku tidak akan tergoda! meskipun tubuhku tidak sebagus dia, tapi aku kan lebih gurih. " Bantah Vanya dengan sombongnya.


" Gurih?! " Tanya Sherin dan Devi berbarengan.


" Iya! apa? kenapa? keberatan? " Tanya Vanya dengan wajah kesal.


" Kenapa kau melampiaskan kemarahan mu kepada kami?! " Protes Devi.


" Cih! siapa juga yang begitu? " Gumam Vanya sembari kembali menatap layar ponselnya.


" Dasar kurang ajar! kenapa dia mengunggah photo tiap dua menit sekali! tidak tahu malu! dasar kecebong busuk! rasanya aku ingin mencakar-cakar muka tidak tahu malunya itu. " Maki Vanya yang kesal melihat Gaby mengunggah photo nya bersama dengan Nath hampir di tiap menit.


Kali ini, Gaby mengunggah photo sedang menyenderkan kepalanya di pundak Nath. Gaby nampak bahagia. Tapi, hampir seluruh pohoto memperlihatkan wajah datar Nath yang terlihat tidak tertarik untuk diphoto.


Vanya tersenyum sinis.


" Woi teman sejati,.. " Panggil Vanya kepada dua sahabatnya yang kembali fokus ke layar televisi.


Mereka kompak menoleh dengan tatapan yang sama. Ada apa? itu yang tersirat dari wajah mereka.


Vanya tersenyum hingga memperlihatkan susunan giginya yang putih dan rapih.


" Bantu aku ya? " Pinta Vanya.


Mereka kompak menghela nafas.


" Kenapa kau melibatkan kami dalam pertempuran mu, Nona KBR? " Tanya Sherin yang terlihat keberatan.


" Ayolah, aku akan mengajak kalian berlibur ke Maldives setelah berhasil membawa suamiku kembali.


Mimik wajah mereka mulai terlihat tergoda.


" Tapi, bukan hanya tiket yang gratis. Hotel, oleh-oleh, dan belanja kami. Bagaimana?


" Setuju.


Sherin dan Devi kompak mengangguk siap setelah mendengarnya.


" Apa yang harus kami lakukan? " Tanya Devi yang mulai antusias.


" Gampang. Gunakan ponsel kalian untuk memaki. " Ucap Vanya sembari tersenyum dan memperlihatkan Akun Instagram Gaby yang banyak mengunggah photo nya bersama Nath.


Sherin dan Devi mengusap kilat hidungnya. " Ini masalah gampang.


Dan akhirnya, Mereka memenuhi kolom komentar photo Gaby dengan komentar jahat mereka.


* Uh,....! aku sangat terganggu dengan lubang hidung wanita itu.


* Sangat tidak cocok!


* Aku merasa iba dengan wajah prianya. Sepertinya dia tidak rela satu frame dengan mu!


* Ya ampun! wajah mu seperti pantat babi.


* Aku rasa, besar dada mu tidak sama.


* Pasangan yang tidak cocok 😀


Dan masih banyak lagi.


( Guys, ini hanya untuk menghibur ya? jangan dilakukan di dunia nyata. Terkadang, tanpa kita sadari, jemari kita bisa menyakiti atau melukai perasaan orang lain. Bahkan, jemari kita juga bisa membawa kita ke dalam masalah. Bijak dalam berkomentar ya?☺️ ) kecuali di lapak othor dah, terserah mau komen apa. Suka-suka lu pada😋


Dua jam kemudian.


" Argh........! jempol ku hampir patah! " Pekik Devi.


" Aku juga! aku lebih baik menyuntik jutaan pasien kalau begini. " Gerutu Sherin.


Akhirnya, mereka menjatuhkan tubuhnya bersamaan di karpet yang tersedia di depan televisi.


Ting...Tong...


Suara bel pintu terdengar. Sherin beranjak bangun untuk membuka pintu Apartemennya.


Dia terdiam sesaat memandangi dua orang yang berdiri di depannya?


" Lexi? ada apa? " Tanya Sherin bingung. Lebih bingung lagi saat melihat wanita paruh baya yang ia ketahui adalah Ibunya Devi.


" Bibi juga ada apa? " Tanya lagi Sherin sembari menatap ke dua orang itu bergantian.


" Kami ingin menemui Devi.Dia bilang, akan menginap di tempat mu. " Ujar Bibi yang entah mengapa, selalu tersenyum. Padahal, beberapa waktu lalu, Ibunya Devi selalu terlihat marah saat mencari keberadaan anaknya. Oh, bahkan biasanya dia kan mengoceh dan mengumpat Devi se enaknya.


" Kami? " Tanya Sherin yang masih kebingungan.


Kami? dia dan ibunya Devi? ambigu sekali.


" Iya. Kita tidak sengaja bertemu. Tapi Bibi tahu, dia juga sedang mencari Devi juga kan? iya kan nak Lexi? " Tanya Ibunya Devi sembari menatap Lexi dengan senyum diwajahnya.


Tidak! tadinya aku kan mau menemui Kevin. Kenapa malah bertemu dengan Bibi aneh ini?! Dasar Kevin bodoh! kenapa harus tinggal di sini sih?


" Begitu ya? " Sherin hanya bisa menanggapi begitu. Sudahlah batinnya. Dari pada nanti dia yang kena semburan air liur saat Ibunya Devi mengoceh. Lebih baik kalau Ibunya Devi banyak tersenyum.


Dengan wajah yang masih kebingungan, Sherin mempersilahkan Lexi dan Ibunya Devi untuk masuk kedalam.


" Devi, Ibumu dan calon suamimu sudah datang. " Ucap Sherin sembari menepuk bokong Devi beberapa kali.


" Ibuku? calon suami? " Tanya Devi yang ikut kebingungan.


" Iya. Lexi yang tampan itu datang bersama calon Ibu mertuanya.


" Apa?! " Devi sontak bangkit dari posisinya.


" Ckckck.... Aku benar-benar berduka cita untuk Lexi. " Ujar Sherin sembari menggelengkan kepalanya.


" Apa maksud mu?! " Tanya Devi yang merasa tersinggung.


" Huh....! jika menikah dengan mu, dia pasti tidak akan pernah tidur dengan nyenyak. " Saut Vanya yang merasa tertarik dengan obrolan mereka.


" Apa-apaan kalian ini?! " Protes Devi kesal.


" Lexi itu tampan. Tubuhnya juga kekar dan atletis. Kau pasti tidak akan membiarkan dia menganggur barang sebentar kan? " Goda Sherin sembari menahan tawanya.


" Gila! kalian benar-benar gila! " Umpat Devi kesal sembari meninggalkan Vanya dan Sherin yang masih cekikikan menertawakannya.


" Oh, anak gadis ku yang cantik. Kau terlihat agak lusuh ya? padahal, biasanya kau sangat segar dan cantik. " Sapa Ibunya Devi sembari berjalan ke arah Devi dan membenahi rambut putrinya itu.


Anak gadis ku yang cantik? dasar tukang akting! biasanya kau memaki ku kan? ' Dasar bocah sialan! kemana saja kau?! dasar bocah tengik! jangan membantah! cepat pulang! Mau ku potong kakimu agar tidak bisa kabur lagi?! '


Aduh! akting mu ini, benar-benar membuat hidungku serasa ingin mimisan.


Lexi hanya bisa memasang wajah tak berdayanya. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Berniat menghindari gadis cantik, malah harus berurusan dengan Induk dan anak singa laut. Benar-benar apes! batinnya.


" Ayo duduk nak. " Ajak Ibunya Devi sembari menuntun tangan putrinya menuju sofa.


Hei....! Nyonya tua! jangan sok berkuasa! sadar, ini bukan rumah mu! Batin Devi.


" Jadi, kapan kalian akan menikah?


What?! menikah? Lexi masih saja terkejut. Dia benar-benar tidak mengira kalau Ibunya Devi sangat serius tentang pernikahan. Lexi memang mau menikah, tapi kan tidak juga dengan si mulut kubangan kan? batinnya menggerutu.


" Ibu! " Bentak Devi yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Ibunya. Sudah seperti akan terjadi kiamat saja kalau mereka tidak segera menikah.


" Mau kalian apa?! kalau kalian masih mau menolak, aku akan menemui orang tua mu! " Tunjuk Ibunya Devi ke wajah Lexi.


" Bibi, tunggu dulu. " Bisa gawat batin Lexi. Kalau sampai Ibunya Devi benar-benar menemui Ibunya, bukan tidak mungkin mereka akan langsung dinikahkan.


" Apa lagi?! " Tanya Ibunya Devi dengan nada mebentak. Bukan marah, tapi trik. Trik loh ya, ini juga bisa jadi pelajaran buat para bu ibu. Kadang, mengekang seseorang itu juga perlu kok 🤭 apalagi mengekang calon memantu seperti Lexi agar cepat-cepat menikahi anaknya.


" Em, begini Bibi. Sebenarnya,.." Lexi nampak ragu-ragu. Melihat wajah Ibunya Devi yang kini berubah seperti Devil, padahal, beberapa saat lalu, wajahnya sebelas dua belas dengan Angel.


" Sebenarnya, dia bukan kekasih ku! kita hanya rekan kerja! tidak ada hubungan apapun diantara kami! hanya kebencian! benci sekali aku pada si homo gila itu! " Keluar sudah semua yang Devi tahan selama ini. Percuma saja menunda-nundanya. Semakin lama, akan semakin berbahaya mengingat sifat Ibunya yang mudah sekali bertindak frontal.


Mulut kubangan! kau mau membunuh ku ya?!


To Be continued.