
" Sebenarnya, nama ku saat kecil adalah, Silvia Marhen. "
Bukan hanya Nyonya Marhen, tapi juga ada Salia dan Salied yang menatap Ivi tidak percaya. Nyonya Marhen menggelengkan kepalanya karena tidak percaya sama sekali ucapan Ivi.
" Bohong! putriku Silvia tinggal bersama Ayah kandungnya. Bagaimana mungkin kau adalah putriku. Kau, jangan berani-beraninya mempermainkan kan ku! "
Ivi kembali menatap Nyonya Marhen setelah tersenyum mengejek mendengar ucapan Nyonya Marhen.
" Dengar Nyonya Marhen. Saat kau dan juga Ayah kandung ku bercerai, kau hanya membawa dua anak mu pergi. Saat kalian pergi, kalian juga sama sekali tidak pernah menoleh ke belakang untuk melihat ku. Bagiamana aku menangisi kepergian kalian, bagaimana aku memberontak untuk melepaskan diri dari Ayah kandung ku. Saat kalian ingin memasuki mobil, aku sempat berdoa di dalam hati. Tuhan, jika Ibuku tidak mau membawa ku juga, tolong ijinkan aku melihat wajah Ibu dan juga kedua kakak ku. "
Ivi kembali menatap ke arah Nyonya Marhen yang sudah mulai memerah matanya.
" Tapi tidak ada dari kalian yang mau melihat ku. Tidak ada dari kalian bertiga yang melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Tidak ada dari kalian yang perduli bagaimana aku hidup bersama Ayah dan juga Ibu tiri. "
Ivi menatap Nyonya Marhen, Salia dan Salied bergantian.
" Sampai suatu hari, aku melihat kalian di pusat belanja. Aku berlari mengejar kalian tapi tidak ada dari kalian yang mendengar ku meski aku berteriak sekuat tenaga. Aku terus mengikuti kalian sampai kalian masuk ke dalam mobil dan mulai menjauh. Aku masih terus berharap dan berlari dengan sisa tenaga yang aku punya. Tapi sayang, sebuah motor menabrak ku. "
Nyonya Marhen mulai menangis sembari menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya. Tatapannya begitu pilu hingga ia hanya bisa menangis dan menggeleng pelan.
Nathan yang lainya juga menatap Ivi dengan tatapan yang begitu terluka.
Ivi kembali tersenyum meski matanya masih bercucuran air mata.
" Tapi tenang saja. Aku hanya mengalami patah kaki dan gegar otak ringan. Dan setelah itu, aku kembali bersama Ayah dan juga Ibu tiri. Tapi tidak lama dari itu, bisnis Ayah mengalami goncangan. Dengan alasan memperbaiki ekonomi, Ayah menitipkan ku bersama paman dan juga bibi. Tapi apa yang aku dapat? bibi terus memukuli ku karena merasa aku adalah sebab dari susahnya hidup mereka. Aku adalah beban dan juga sumber masalah bagi mereka. Untuk menyelamatkan hidupku, Paman membawa ku kesebuah keluarga yang tidak memiliki anak. Tapi apa anda tahu Nyonya Marhen? " Ivi kembali menatap Nyonya Marhen dengan bibir yang bergetar karena menangis.
" Apa sebagai seorang wanita yang melahirkan ku tidak ada firasat sedikit pun tentang ku? saat aku di pukuli hingga berdarah-darah, aku selalu menyebut nama kalian bertiga. Tapi tidak ada keajaiban. Tidak ada dari kalian yang mencari ku. Aku putus asa setiap waktu. Aku selalu berdoa kepada Tuhan. Tuhan, ini sangat sakit. Boleh buat aku mati saja? aku tidak ingin hidup. Anak berumur sepuluh tahun yang begitu putus asa itu akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup. Tapi saat itu Tuhan belum memperbolehkan aku mati. Seseorang membawaku pergi dari gedung tinggi yang akan aku gunakan untuk bunuh diri. Dia dengan tangan gemetar membawa ku ke panti asuhan. Aku pikir, semua akan berakhir bahagia. Aku tidak perlu di pukuli lagi. Tapi semua itu hanya bertahan enam bulan. Karena setelah nya, aku di adopsi oleh sepasang suami istri. Istri nya memang baik padaku. Tapi suaminya selalu menatap ku penuh *****. Bukan hanya sekali dua kali dia mencoba melecehkan ku. Hingga puncaknya terjadi saat istrinya pergi dari rumah untuk bekerja. Dia memaksaku untuk melucuti pakaian ku. Padahal, dia tahu sendiri kalau aku sudah mandi hari itu. Aku ketakutan dan berlari. Aku sangat takut hingga tida berani melihat kebelakang. Dan Tuhan mempertemukan ku dengan pria itu. " Ivi menunjuk Ayah yang kini tengah duduk di kursi roda sembari menangis.
" Ayah bodoh itu menyelamat ku saat tubuh ku di seret untuk di bawa kembali ke rumah. Dengan panik dia mengambil batu tajam dan menusuk orang mesum itu. Aku memang melihat pria itu tersungkur dengan banyak darah di tubuhnya. Aku takut, tapi bukan takut pria mesum itu mati. Aku hanya takut Ayah ku celaka karena aku. Tapi dengan wajah sok berani, dia tersenyum padaku dan berkata, Anak manis, jangan takut. Pria itu sudah diberi pelajaran. Percayalah, aku tidak akan jahat padamu. " Ivi tersenyum setelah mengikuti kata-kata Ayahnya saat itu.
" Pria yang begitu mencintaiku, bahkan melebihi Ayah kandung ku sendiri, bahkan aku masih merasa semua seperti mimpi sampai saat ini. Saat pertama kali bertemu dengannya, aku bisa merasakan bahwa dia tidak akan menyakiti ku. Tapi, " Ivi kembali terisak-isak.
" Tapi, karena aku, dia juga di penjara. Dua tahun dia hidup di sarang besi sebelum paman datang dan menjamin Ayah ku. Tapi yang membuat ku semakin merasa bersalah adalah Ibu dan kakak ku, Dodi. Mereka tidak pernah menyalahkan ku. Mereka bilang bahwa, " Ivi menjeda ucapannya karena kembali menangis tersedu-sedu. Ibu yang sudah tidak tahan akhirnya berlari dan mendekap putrinya. Putri yang selama ini ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri.
" Kau adalah putriku. Entah dari siapa kau lahir, kau adalah putriku, kau adalah Ivi ku. " Ibu memeluk erat tubuh ivi sembari menangis.
" Ibu ku bilang, aku adalah putrinya. Aku lahir dari hatinya. Ibu juga diam-diam selalu menangis saat mengoles kan obat ke semua luka yang ada di tubuh ku. "
" Si, Silvia,... " Panggil Nyonya Marhen dengan tangis yang tidak bisa ia bendung lagi. Salia juga tak tahu sudah berapa banyak air mata yang jatuh karena mengetahui kebenarannya. Ditambah lagi, dianjuga sudah memukul adik kandungnya sendiri hingga berkali-kali. Sementara Salied, pria gagah itu hanya bisa membiarkan saja air matanya lolos. Dia tidak tahu lagi bagaimana menghadapi kenyataan ini. Terjawab sudah apa arti rasa sakit saat melihat kebencian dari mata Ivi saat itu.
Dengan tubuh yang gemetar, Nyonya Marhen berjalan hendak menghampiri Ivi.
" Berhenti, Nyonya Marhen. " Cegah Ivi dengan tatapan dingin.
" Silvi, maaf.... " Ucap Nyonya Marhen yang telak tak bisa kerkata-kata lagi. Tangis nya seolah mengambil alih tenggorokannya dan tidak membiarkan dia menjelaskan apa yang ingin dia jelaskan.
" Maaf dari mu, aku sudah tidak membutuhkannya lagi, Nyonya Marhen. Aku, tidak ingin berurusan dengan keluarga Marhen. "
To Be Continued.