Touch Me!

Touch Me!
S2- Ada apa?



" Membuat anak? " Bien menatap bingung ke arah Nathan dan Ivi bergantian.


" I itu, kakak salah dengar. " Kilah Ivi yang kini menyesali ucapannya sendiri.


Tadinya Bien sama sekali tidak memperhatikan banyak nya perbedaan yang terjadi kepada Ivi. Gadis yang dulu begitu antusias menyambut kedatangannya, kini hanya sedikit tersenyum. Biasanya juga, Ivi akan berlari ke arahnya lalu mengajak Bien untuk mengobrol hal-hal remeh. Mata Bien akhirnya tak sengaja melihat cincin yang melingkar di jari Ivi. Tadinya dia mencoba untuk mengelak apa yang dia lihat, tapi saat dia melihat jari Nathan yang memiliki cincin sama dengan Ivi, dia semakin kecewa. Cukup lama dia memikirkan apa yang dia lihat. Berharap dia belum terlambat dan bisa membalas perasaan Ivi.


" Ivi, apa yang sebenarnya terjadi? " Tanya lagi Bien.


" Tidak ada, kakak. " Ivi mencoba tersenyum agar tak menimbulkan kecurigaan. Bukanya tidak ingin mengakui Nathan, hanya saja tiba-tiba dia merasa rendah diri karena ucapan Bien tadi. Dia merasa bahwa dia tida pantas untuk menjadi istrinya Nathan.


Nathan terdiam ketika melihat perubahan wajah Ivi. Benar, seharusnya dia tertawa saat istrinya di hina. Tapi tidak tahu lah, tadi itu benar-benar reflek. Melihat tatapan aneh dari Bien yang sedari tadi memperhatikan Ivi, rasanya dia tidak tahan lagi. Nathan melingkarkan lengannya di pundak Ivi.


" Maafkan aku. Tadi itu itu aku hanya keceplosan saja. Wajah seperti ini sangat tidak cocok untuk mu. "


Melihat kemesraan Ivi dan Nathan, Bien menduga jika mereka seperti sepasang suami istri. Tapi mana mungkin, seorang Nathan Refez Chloe menikah dengan Silvi yang hanya dari kalangan bawah?


" Nathan, kondisikan tangan mu! " Bisik Ivi.


" Harus bagaimana? "


" Singkirkan! "


" Tidak mau! "


Suara dering ponsel akhirnya menghentikan cekcok mereka.


" Iya, Bu. Kami ada di luar. Ada apa? Oh,baiklah. " Nathan memasukkan kembali ponselnya setelah berbicara melalui sambungan telepon.


" Ada apa? " Tanya Ivi penasaran.


" Ibu bilang, kau harus membeli baju untuk ke rumah nenek dan kakek nanti malam. " Jawab Nathan.


" Aku ikut? "


" Apa aku harus membawa yang lain? "


" Memang ada yang mau dengan mu selain aku? "


Nathan tersentak mendengar ucapan Ivi.


" Apa itu artinya, kau memang mau dengan ku? "


" Omong kosong! " Ivi memalingkan wajahnya begitu saja.


" Jangan membuang waktu lagi. Ayo. " Nathan tanpa sadar meraih tangan Ivi laku menggandengnya untuk membawanya keluar dari kafe.


Bien hanya bisa terperangah bingung hanya bisa menatap kepergian Ivi dan Nathan dengan tatapan penuh tanya.


buat anak? ibu, nenek dan kakek? apa mereka benar-benar suami istri? tidak tidak! aku harus mencari tahu dulu kebenarannya.


Setelah keluar dari kafe, Nathan dan Ivi melajukan mobilnya menuju sebuah pusat belanja yang berada tak jauh dari rumahnya. Seperti kebanyakan para gadis lainya, Ivi nampak begitu antusias saat melihat banyaknya tas, sepatu, pakaian, aksesoris, dan perlengkapan wanita lainya. Satu persatu Ivi mulai memilih dress yang sudah disediakan oleh pelayan toko.


" Wah, ini bagus sekali. " Ujar Ivi saat menyentuh sala satu dress berwarna pink nude dan sedikit kerutan di bagian pinggangnya. Tapi saat melihat harganya, Ivi membulatkan mata terkejut lalu menelan ludahnya.


" Gila! satu baju harga nya tiga belas juta? ini bahannya dari emas apa? ya ampun! kalau Ibu ku melihat ini, dia pasti akan sibuk mengejar bola matanya yang lompat keluar karena kaget. " Gumam Ivi.


" Ada apa? " Tanya Nathan yang bingung melihat Ivi masih tidak mencoba dress yang sudah ia pilihkan.


" Ada apanya? apa kau tidak lihat? harga baju ini tiga belas juta. Dan yang ini, coba lihat! " Ivi menunjuk satu baju lagi.


" Lihat! Enam belas juta sembilan ratus sembilan puluh delapan rupiah. Orang yang memberi harga pasti sudah gila! itu namanya sama dengan tujuh belas juta. Kalau mahal begini, lebih baik berikan padaku tujuh belas juta, dan aku akan membeli semua baju yang ada di toko langganan ku. "


Nathan menatap pelayan tokonya lalu terpaksa pula dia harus tersenyum karena merasa malu dengan tingkah Ivi yang memalukan itu.


" Ivi, jangan banyak bicara! pilih lah yang mana saja. Jangan lihat harganya. " Bisik Nathan.


" Tidak mau ah! berikan saja uang itu padaku. Harganya terlalu mahal. Menghitung uang sebanyak itu pasti tangan mereka kram. Lebih baik berikan saja padaku. "


Nathan kembali memaksakan senyumnya. Sebal karena malu, Nathan mengambil semua dress dari tangan Ivi.


" Bungkus semua ini. "


" Kau gila ya?! "


" Aku akan lebih gila lagi kalau terlalu lama mendebatkan Masalah ini. "


Ivi berdecih sebal tanpa bisa berkata-kata lagi.


Setelah selesai membeli baju untuk Ivi, Nathan dan Ivi melanjutkan kegiatan untuk makan siang bersama di sebuah restauran. Ivi masihlah tetap sama. Dia begitu terkejut melihat harga menu makanan yang luar biasa harganya. Tentulah Nathan juga sebal harus mendengar ocehan Ivi yang terus saja menggerutu tidak jelas. Mulai dari harga makanan, lalu porsinya yang kurang banyak. Dan masih banyak lagi ocehan tidak jelas.


Malam hari di ulang tahun nenek atau Nyonya besar Chloe. Seperti yang sudah dijadwalkan, hari ini semua anggota keluarga Chloe sudah hadir di kediaman utama. Begitu juga dengan Nathan dan Ivi yang baru saja sampai disana.


" Selamat malam, Nenek dan kakek? " Sapa Ivi.


" Aku bukan Nenek mu. " Ujar Nyonya besar Chloe.


Ivi tersenyum menatap wajah cemberut Nenek.


" Nenek, sepertinya kerutan di wajah Nenek sudah menghilang ya? wah, aku sangat senang melihatnya. Nenek seperti anak remaja sekarang. "


Cih! tetap saja wajah Nenek sangat menyeramkan. Dari boneka Annabelle, tentu saja masih cantik boneka Anabelle.


" Mata mu kemasukan sampah saat itu. Makanya kau tidak melihat wajah ku dengan benar. " Ketus Nenek.


Heh! hari ini sudah di katai mirip babu, lalu kain pel oleh cucunya, sekarang sampah. Luar biasa! hidup Ivi,....! sebentar lagi kau akan memenangkan rekor muri, cucu menantu yang paling teraniaya.


" Aku malah mengira, mataku ini kemasukan konde nya Nenek. " Ucap Ivi lalu mencoba untuk tersenyum sopan. Tali anggota keluarga yang lainya fokus untuk menahan tawa.


" Jangan menghina konde ku! harga konde ini lebih mahal dari harga diri mu. "


Sialan! Ayah ku bilang, aku adalah gadis paking langka, cantik, manis, dan tidak bisa di beli dengan uang. Sembarangan! tunggu! apa jangan-jangan, Ayah berbohong?


" Kalau begitu, kasihan sekali ya cucu nenek. "


" Kenapa? "


" Karena dia sudah memperkosa barang murah. " Ucap Ivi berbisik dan hanya bisa di dengar oleh Nathan. Nathan sebenarnya ingin sekali menyumpal mulut Ivi, tapi setelah dia pikir-pikir, biarkan saja lah. Toh, pertengkaran dengan nenek nya juga lumayan menarik. Karena baru kali ini, ada orang yang mau membantah nenek selain dia.


" Kenapa kau berbisik begitu? kau sedang menghina ku ya?! "


Ivi kembali tersenyum.


" Nenek penasaran ya? "


" Dasar gadis gila! "


" Kalau aku waras, aku tidak mau berada disini, Nek. "


" Kau bilang apa tadi?! "


" Aku tidak bilang apa-apa kok Nek. Hanya selamat ulang tahun saja. "


Baru saja Nenek ingin kembali memaki Ivi, tapi kehadiran satu keluarga yang juga dia undang mengalihkan fokusnya.


" Nyonya besar? " Sapa wanita paruh baya itu.


Deg....!


Ivi yang tengah memunggunginya perlahan-lahan memutar tubuhnya dan melihat wajah dari si pemilik suara itu.


" Wah, Nyonya Marhen? selamat datang. " Nenek berjalan mendekati Nyonya Marhen dan mulai berbincang setelah mencium pipi kanan dan kiri.


" Lihatlah, Salia. Dia begitu cantik dan anggun. Dia juga lulus dari universitas terbaik di luar negeri. Kau memang kandidat menantu yang sempurna. " Ucap Nenek sembari mengusap pipi Salia pelan.


" Perkenalkan Nyonya, ini adalah putra sulung ku. Namanya Salied. " Pria bertubuh tinggi besar dan memiliki paras tampan itu memberikan salam kepada Nyonya besar Chloe.


Dari kejauhan Ivi mengepalkan tangan. Tanpa dia sadari, kepalan itu begitu kuat hingga gemetar. Matanya menatap tajam tapi entah apa yang dia pikirkan.


To Be Continued.