Touch Me!

Touch Me!
S2- Gara-gara Ingus



Ibu menatap wajah Nyonya Marhen dengan tatapan yang nanar. Jujur, ingin sekali dia memberikan tamparan jutaan kali untuk membalas semua rasa sakit yang putrinya rasakan. Tapi bahkan sampai jutaan kali pun, tidak akan ada rasa sakit yang bisa di samakan dengan apa yang dirasakan oleh putrinya. Hancur, sakit, kecewa, marah, semua rasa itu menjadi satu lalu berubah menjadi tombak tajam yang menusuk dadanya. Sedih dan kecewa karena pada kenyataannya Ivi bukanlah anak yang ia lahiran dari rahimnya. Marah karena merasa kesal dengan seorang Ibu yang bisa meninggalkan anaknya begitu saja. Memang benar, Ivi ditinggalkan bersama dengan Ayah kandungnya. Tapi coba lihat apa yang terjadi sekarang? laki-laki yang tak lain adalah Ayah kandungnya menelantarkan putri kandungnya begitu saja hidup bahagia dengan istri barunya tanpa beban.


" Sekarang, tolong biarkan putriku hidup dengan tenang. Jangan lagi mengusiknya. Aku juga berharap, setelah ini kalian yang katanya anggota keluarga Marhen, jangan lagi menemui putriku. Kalian sudah biasa hidup tanpa putriku kan? Oh ya satu lagi. Nama putriku adalah Silvia Larasati. Jangan menggunakan nama kecil nya yang jelek itu. "


Nyonya Marhen tentulah begitu hancur. Walau bagaimana pun, dia adalah Ibu kandung dari Ivi. Dia sendiri juga begitu tersiksa harus jauh dari putri bungsunya. Sebuah alasan yang sebenarnya lebih menjurus ke arah keegoisan ke dua orang tua Ivi, ternyata pada akhirnya menghancurkan satu putri yang seharusnya mereka jaga dengan baik. Pada awalanya, Nyonya Marhen akan memiliki kesempatan untuk rujuk kembali dengan suaminya kalau dia meninggalkan Ivi. Tapi perkiraannya sungguh di luar dugaan. Suaminya lebih memilih wanita yang baru dibanding mempertimbangkan kembali hubungan mereka demi anak-anak. Naas, sesuatu terjadi dan entah apa itu, tiba-tiba Suaminya membawa Ivi pergi dan tida pernah kembali. Dia pikir, Ivi sudah hidup bahagia bersama Ayah dan Ibu tirinya, dia pikir Ivi sudah sangat berlimpah kasih sayang sehingga tidak sekalipun mencari kabar tentang Ibu dan kedua kakak nya.


Nyonya Marhen meremas kain yang menutupi bagian dadanya. Sungguh sangat sakit rasa hatinya hingga ia tidak bisa mengeluarkan satu patah katapun. Rasanya dia ikut tertarik menyaksikan semua penderitaan yang di alami oleh putrinya. Apalagi saat Ivi menatapnya dan berkata, Aku menderita, Nyonya Marhen. Tatapan yang penuh penderitaan itu jelas sekali terlihat nyata. Da tahu, bahkan sangat tahu, jutaan kata maaf dan miliaran air mata yang ia teteskan untuk menyesali perbuatannya, tentu tidak akan cukup untuk mengobati rasa sakit yang Ivi alami.


" Sudah cukup! " Ucap Nathan lalu menatap Ivi. Dia berjalan mendekati Ivi. Meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Nathan menghapus air mata Ivi.


" Wajah mu sudah jelek jangan menambah nya lagi. Bagaimana aku akan menghadapi banyak orang dengan istri yang super jelek seperti mu? "


Ivi menatap Nathan kesal. Tapi sepertinya ucapan Nathan yang lebih ke arah menghina itu sedikit membuat hatinya merasa lega.


" Nathan, boleh aku menjahit mulut sialan mu? "


" Repot sekali, kau bisa membungkamnya dengan cara lain. " Sungguh mereka benar-benar tidak melihat situasi dan tidak perduli banyak nya orang yang mengamati mereka.


" Ayo kita kabur bersama? " Ajak Nathan.


" Kemana? "


" Ke tempat yang bagus dan sepi. " Jawab Nathan.


Ivi mencebik kesal mendengar jawaban Nathan.


" Maksud mu, supaya tidak lebih konsentrasi dalam pembuatan anak? "


" Tepat sekali. "


Mereka berjalan cepat dengan tangan yang saling menggandeng menuju arah luar. Suasana yang tadinya tegang dan penuh air mata, kini berubah riuh dengan apa yang dilakukan Nathan dan Ivi barusan. Mendengar Nathan sudah menikah saja, semua orang sudah sangat heboh dan tidak percaya. Ditambah lagi sekarang Nathan begitu romantis dengan istrinya. Hah?! tentu saja ada beberapa orang yang sedang kegirangan. Siapa lagi kalau bukan Vanya dan Marlina. Dua Ibu yang begitu merasa bahagia itu hanya bisa saling memegang tangan dengan perasaan yang kini sudah berubah menjadi senang.


" Semoga mereka segera melahirkan cucu ya untuk kita ya? " Ucap Vanya.


" Ah, tentu saja. "


Nathan membawa Ivi untuk masuk ke dalan mobil dan langsung membawanya pergi meninggalkan tempat yang membuat Istrinya menangis sesegukan sampai tidak sadar kalau ingusnya bleweran kemana-mana.


" Ambil ini dan hapus ingus mu itu! " Titah Nathan setelah menyerahkan beberapa lembar tisu kepada Ivi.


" Sialan! bukankah seharusnya menghapus air mata? "


Nathan menghela nafas nya. Memang ia melihat Ivi menangis dia juga merasa begitu sakit. Tapi mana mungkin dia mengungkapkan semua itu secara langsung? sampai lebaran kingkong juga tidak akan mungkin.


" Ingus mu lebih mengganggu. Kasihan wajah jelek mu ditambah ingus mu yang mirip anak sekolah dasar. Belepotan ke sana ke sini. Coba lihat lah di kaca, rambut mu saja sampai ada ingusnya. "


Ivi terperangah kesal mendengar tiap kata yang di ucapkan Nathan. Sungguh luar biasa pria yang berstatus suaminya itu. Biasanya kalau suami lain di luar sana, sudah pasti akan memeluk istrinya lalu membuatnya merasa tenang. Tapi coba lihat siluman kera itu, dia bahkan lebih suka memaki tiada henti.


" Nathan? " Panggil Ivi.


" Em? " Jawab Nathan karena dia sedang fokus mengemudi.


Ivi mendekatkan wajahnya dan menggosok hidungnya di pipi Nathan. Tentu saja pria itu memberontak dan berteriak agar Ivi segera menghentikan aksi gilanya. Bukanya menjauh, Ivi justru memegangi wajah Nathan agar tidak bisa lagi menghindar. Takut jika akan menyebabkan kecelakaan, Nathan segera segera menepikan mobilnya. Setelah mobilnya berhenti, barulah Nathan diam dan tidak memberontak sama sekali.


" Kenapa kau jadi diam? apa setelah terkena ingus ku, kau jadi sadar bahwa ternyata ingus ini adalah milik gadis cantik? "


Nathan tidak menjawab apapun melainkan bibirnya yang bergerak menyergap bibir Ivi yang sedari tadi mengomel tidak jelas. Tentu saja Ivi terkejut, tapi tidak tahu kenapa, bibir Nathan saat itu terasa begitu lembut. Ivi yang terbawa suasana akhirnya menikmati apa yang sedang Nathan lakukan. Lama, hingga ciuman ganas akhirnya tidak bisa mereka kontrol. Tentulah ciuman itu membutuhkan sesuatu yang lebih. Tapi mobil sport yang Nathan gunakan saat ini sepertinya kurang nyaman untuk melanjutkan kegiatan indah itu. Nathan segera mengakhiri ciumannya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Lima belas menit setelah itu, sampailah mereka di sebuah rumah kecil tapi terlihat kokoh dan indah yang berada di pesisir pantai.


" Ayo! " Ajak Nathan sembari menarik tangan Ivi dan menuntunnya untuk masuk. Awalnya memang begitu gelap, tapi saat Nathan menyalakan lampu, barulah nampak seluruh ruangan yang begitu indah meski minimalis.


Nathan kembali menyerbu bibir Ivi dan mengulangi apa yang tadi terjeda.


" Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi kau duluan yang menggoda ku. "


Nathan kembali menyesap bibir Ivi pelan tapi kelamaan menjadi semakin bringas dan tentu saja Ivi tahu kemana arah nya.


Jujur, Ivi memang tidak dalam mood yang cocok untuk melakukan ini. Tapi seakan terkena sihir dari Nathan, dia seolah lupa apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Masa bodoh dan biarkan saja masalah yang tadi, sekarang ini dia sedang berubah menjadi mesum dan mulai menikmati apa yang sedang mereka lakukan.


To Be Continued.