Touch Me!

Touch Me!
Dia Anakku



Nathan termangu sembari memangku wajahnya. Dia masih saja memikirkan ajakan Ayahnya. Tidak mungkin juga menolaknya.


" Hem... sudahlah, aku ikut saja apa yang Ayah minta.


Pagi harinya.....


Nath mengesampingkan urusan kerjanya. Padahal, pekerjaan di kantornya benar-benar menumpuk.


Nath menjemput Nathan dari sekolah dengan alasan-alasan yang sudah Nath dan Nathan pikirkan matang-matang.


" Ayah, kita sudah sampai disini. Bisa beri tahu aku, siapa yang akan kita temui?


" Secret. " Nath meletakkan jari telunjuk dibibirnya.


Secret?! kenapa aku sangat familiar dengan kata itu ya? Nathan bergumam di dalam hati.


" Ayah, apa itu Kakek dan Nenek?


Nath menanggapinya dengan senyum. " Minumlah milkshake mu. Sebentar lagi dia akan datang. Jadi tunggu saja. " Nath menyodorkan segelas Milkshake dihadapan Nathan yang kini sedang mendengus kesal.


Ah,.. Ibu. Maaf ya? sebenarnya aku tidak berniat menghianatimu. Tapi, ini semua karena Ayah yang memaksaku. Wajahnya sangat tampan dan lembut saat meminta aku menemui seseorang. Jadi, ya aku mana bisa menolaknya.


" Nath?


Nath dan Nathan menoleh ke arah yang sama.


" Mage? " Nath menatap heran wanita yang akhir-akhir ini selalu muncul di manapun Nath berada.


Bibi centil ini lagi? kenapa aku merasa, Bibi ini selalu mengikuti ku dan Ayah? apa dia berniat menjadi Ibu tiriku? yah,.... sayang sekali. Aku tidak butuh Ibu tiri. Ibuku tidak akan tergantikan. Ibuku yang paling baik, lucu, manis, cantik di alam semesta ini. Sedangkan bi


Bibi? selain kaki yang panjang, sepertinya tidak memiliki kelebihan yang lain. Sangat tidak bisa dibandingkan dengan Ibuku.


" Apa yang kau lakukan disini?


Mage tersenyum sembari menarik bangku agar leluasa untuk duduk. Dia mengambil posisi duduk tepat disamping Nath.


" Ayah, maksut nya, orang spesial itu, Bibi ini? " Nath menatap Nathan sebal.


" Bukan. " Jawab Nath tegas.


" Kalian sedang menunggu seseorang? " Tanya Mage sembari menatap Nath dan Nathan bergantian.


" Iya. " Nath dan Nathan menjawab secara kompak. Bahkan, tatapan mata yang tegas juga benar-benar terlihat kompak. Tidak mungkin ada orang yang akan meragukan ikatan darah di antara mereka. Batin Mage.


" Boleh aku bergabung? " Tanya Mage dengan tatapan polosnya tapi masih terlihat memohon.


" Tidak! " Nath menjawab dengan tegas. Kalau sampai Mage ada di sini, bisa-bisa acara penting hari ini kacau balau. Atau lebih tepatnya, dia akan mengalami banyak problem setelahnya. Mau tidak mau, demi kelancaran hal yang penting itu, Nath dengan tegas menolaknya.


" Biarkan saja dia ikut, Ayah. " Ujar Nathan yang terlihat tak keberatan. Batinnya bergumam, jika nanti Nathan bertemu dengan anggota keluarganya Nath, dia kan menggunakan Mage untuk berpura-pura menjadi Ibunya. Bukan tanpa sebab, dia hanya ingin melindungi Ibu aslinya.


Biarkan saja? yang benar saja?! aku bisa mati berdiri kalau ada Mage disini. Baiklah, Ayo cari akal Nath!


" Nath, kau tenang saja. Aku tidak akan mengganggu kalian nanti.


" Iya. Tidak masalah bibi. " Nathan menimpali.


Mage dan Nathan tersenyum kompak agar di beri Izin.


Apa-apaan sih? aku pusing! ah!!! iya. Iya. Lexi. Dia harus membantuku mengusir Mage.


" Nathan, tetaplah di sini. Ayah ke toilet sebentar.


" Baiklah.


Nath berjalan dengan cepat menuju toilet. Sesampainya disana, dia langsung menghubungi Lexi.


' Kau masih ingat tentang diriku? ' Lexi.


' Ingat! aku sangat ingat. ' Nath.


' Ah,... Nath, kau membuatku terharu. Pekerjaanmu di kantor benar-benar menumpuk. Cepatlah datang. ' Lexi.


' Diam! tinggalkan pekerjaan kantor! ' Nath.


' Apa?!!!! ' Lexi.


' Ada pekerjaan yang lebih darurat. ' Nath.


' Apa kerja sama kita dengan perusahan luar negeri kemarin gagal? atau perusahaan mengalami krisis? ' Lexi.


' Lebih parah dari itu. ' Nath.


' Apa?! kenapa begitu mendadak?! apa aku perlu mengadakan rapat dewan direksi? ' Lexi.


' Tidak. ' Nath.


' Datang ke mini cafe dan bawa pergi Mage. ' Nath.


' Mage? ' Lexi.


' Iya. Dia akan menghancurkan segalanya jika tetap ada disini. ' Nath.


***


" What the Fu*ck! " Umpat Lexi setelah sambungan telepon yang terhubung dengan Nath sudah terputus.


" Sejak kapan urusan percintaan lebih penting dari perusahaan mu?!!! Dan sekarang, kau bukan hanya menghukum ku dengan segudang pekerjaan. Kau juga menyeret ku dalan masalah percintaan mu?! benar-benar tidak bisa di maafkan!!!! " Lexi benar-benar kesal dengan tingkah Nath yang semakin sembrono. Apalagi, semenjak dia mengetahui tentang Nathan. Semuanya seolah menjadi tanggung jawab Lexi. Kalau saja, Lexi adalah atasannya Nath, sudah pasti Lexi akan menggunduli rambut Nath dan memakaikan popok sebagai penutup tubuhnya. Hah! jadilah tuyul Nath.


" Tunggulah sampai kau botak sariawan. Aku tidak akan membantumu sama sekali. " Lexi menonaktifkan teleponnya sembari menyeringai jahat. Enak saja batinnya,.. lagi-lagi memerintah seenaknya saja. Apa belum juga sadar? Lexi adalah jomblo menahun. Dia kan juga ingin memiliki teman yang senasib. Siapa tahu Nath akan menjadi temannya dan tidak bisa lagi menghinanya seperti kemarin-kemarin.


***


" Bibi, tentang tadi kau setuju kan? " Nathan memastikan kembali apa yang sempat mereka rundingkan selama kepergian Nath.


" Baiklah. Tidak masalah. " Mage tersenyum sembari mengangguk tanda menyetujui.


" Kau?! apa yang kau lakukan di tempat ini?!


Suara seorang wanita yang membuat Nathan tersedak saat menyedot milkshake miliknya. Nathan menatap sosok wanita yang tak lain adalah Ibunya. Dia menelan ludahnya sendiri. Kebingungan? iya tentu saja bingung. Bagaimana Ibunya ada ditempat ini? dan kenapa Ibu nya terlihat sangat marah? batinnya menebak-nebak.


" Nathan, kau mengenalnya? " Tanya Mage yang menatap Nathan dan Vanya bergantian.


Nathan hanya bisa menatap Ibunya ngeri. Dia bahkan sulit mengalihkan pandangan dari Ibunya yang berdiri dihadapannya.


Mage menyadari, jika Nathan terlihat terintimidasi dengan tatapan Vanya yang seolah mengancam. Mage bangkit dari posisinya dan menatap tajam Vanya. " Kau tidak berhak bertanya dengan nada membentak! kau pikir kau siapa?! pergi dari sini! kau akan menyesal telah menatap Nathan ku begitu!


Vanya terperangah tak percaya. Nathan ku? ku?! sejak kapan Natan miliknya batin Vanya.


" Kau yang diam! kau tidak tahu apapun tentang bocah menyebalkan ini.


" Kau gila atau apa?! kau lah orang yang paling menyebalkan yang pernah aku temui. " Mage menunjuk dadanya Vanya dengan jari telunjuknya dan mendorongnya beberapa kali.


Vanya menepis tangan itu dengan kasar. " Aku tidak ada urusan denganmu. Menyingkirlah! " Vanya menggeser tubuh Mage lalu berjalan mendekati Nathan.


" Kau bocah nakal! apa yang kau lakukan disini? aku akan memukul mu! kau lihat saja nanti! aku benar-benar akan menghukum mu! " Vanya meraih pipi Nathan dan memberikan sedikit tekanan. Meski itu tidak terasa sakit, tapi Nathan yang ketakutan hanya bisa pasrah dengan wajah yang sedih.


Mage menarik lengan Vanya dan mendorongnya hingga Vanya mundur beberapa langkah. " Singkirkan tangan kotor mu dari anakku! " Bentak Mage lalu memeluk tubuh Nathan.


" A, anakmu? " Vanya menatap Nathan. Dia mengepalkan tangannya kuat. Kemarahan karena mendengar kata-kata itu, membuat Vanya menjatuhkan air mata dengan tatapan yang nanar.


Nathan semakin terisak. Bukan karena takut. Tapi dia tahu, Ibunya sangat terluka saat ini. Dia benar-benar tidak menyangka. Jika rencananya justru menghancurkan hati Ibunya sendiri.


Ibu,.. maafkan aku. Ibu maaf.....


Kata-kata itulah yang ingin sekali Nathan ucapkan. Tapi sayang, bahkan suaranya saja seolah menghilang entah kemana.


" Kau bilang, dia anakmu? " Vanya menatap Mage marah.


" Iya. Apa itu masalah bagimu?


Vanya tersenyum yang seolah merendahkan. " Anakmu? apa kau tahu rasanya saat mengandung? apa kau tahu rasanya melewati kehamilan seorang diri? apa kau tahu rasanya mengalami pendarahan hebat di usia tujuh bulan? apa kau pernah mengemudi disaat kau hampir kritis karena kehilangan banyak darah? apa kau pernah menyaksikan bayimu lahir dengan tubuh yang sangat kecil dan kau terus mengatakan, Nak, Ibu mencintaimu sembari menangis? apa kau pernah begitu tersiksa hingga ingin mati saat melihat banyaknya alat yang terpasang di tubuh bayi kecilmu?


Mage mengerutkan dahinya bingung. " Apa yang kau bicarakan?


" Jika kau tidak paham, bagaimana bisa kau mengakui anak itu sebagai anakmu?


" Apa maksut mu?


Dengan bibir yang gemetar dan derai air mata yang mulai membasahi pipinya. Vanya dengan tegas mengatakan, " Anak yang kau akui sebagai anakmu, dia adalah ANAK KU!


" Ibu maaf....." Ucap Nathan lirih. Akhirnya, dia mendapati suaranya lagi.


Mage membulatkan matanya. Tangan yang tadinya erat memeluk pundak Nathan, kini lemas dan terjatuh begitu saja.


" Vanya? apa yang kau katakan?


Deg......


Vanya tidak bisa lagi berbicara saat suara itu terdengar di telinganya.


To Be Continued.


Hallo para Reader... sebelumya, aku mau ngucapin, banyak terimakasih atas like, coment, Vote serta hadiahnya.


jangan lupa untuk terus dukung author ya.. tinggalkan like dan komennya juga. Supaya authornya tambah semangat.


Salam hangat dan cinta untuk para Readerku terasayang..❤️❤️❤️ semoga kita dalam keadaan sehat selalu ya...


Jangan lupa like dan komennya lagi 🤭🤭🤭😍😍😍