Touch Me!

Touch Me!
S2- Pembicaraan Tentang Masa Lalu



Ivi mengepal kuat dan semakin kuat hingga Nathan merasakan sakit tangannya karena terus di tekan. Padangan matanya tajam menatap Silvi yang sedari tadi mengatakan semua hal yang menjurus ke pengakuan atas kesalahannya. Marah, tentu saja Ivi sangat marah. Padahal sebagai seorang adik, dia selalu mencoba semua cara agar kakak perempuannya merasa puas. Tapi sepertinya memang tidak pernah terjadi sekalipun. Ivi kembali menatap manik mata Salia dengan tatapan marah. Masih sama seperti beberapa saat lalu. Seperti itulah cara Ivi menatapnya. Seolah benci, kecewa, kesedihan menjadi satu dan terpancar dari tajamnya mata Ivi saat ini. Ivi masih terus menatap Salia dengan tatapan yang sama hingga Salia yang tidak tahan lagi akhirnya menitikkan air matanya. Dia tahu dan tentu juga sangat sadar akan kesalahan yang ia lakukan. Tapi dia juga tidak bisa mengontrol jiwa anak-anak nya saat itu.


" Silvi, aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku. Saat itu aku benar-brnar takut kalau rasa sayang Ibu akan terbagi jika kau kembali. " Salia tertunduk lesu karena tentu dia tidak akan sanggup menghadapi wajah Ibu dan juga kakaknya. Iya, dia tahu jika mereka pasti sangat kecewa. Tapi sungguh, dia menyesal karena melakukan hal itu.


" Salia, kenapa? kenapa kau seperti itu? " Tanya Salied dengan tatapan tidak percaya. Sebagai seorang kakak tentulah dia merasa begitu kecewa. Padahal dia tahu benar bagaimana Ivi mencintai dan menyayangi ke dua kakaknya. Tapi bagaimana bisa Salia menjadi seperti itu?


" Kakak, saat itu aku merasa begitu di cintai setelah Ivi tidak ada bersama kita. Aku hanya tidak ingin kasih sayang dari ibu terbagi. Maaf, maaf karena sifat egois ku ini semua terjadi. Tapi sungguh, aku tidak menyangka kalau akan menjadi seperti ini. Kalau aku tahu semua kejadian buruk itu terjadi, aku pasti tida akan melakukan hal itu. "


" Apa gunanya membicarakan masa lalu? aku tidak perduli apapun yang akan kalian katakan. Sekarang bagiku, Keluarga ku tentu saja Ayah dan Ibuku. Kakak ku hanya Dodi seorang. Aku tidak mau lagi membahas hal yang sudah lalu. Karena rasanya sangat menyakitkan. Dan asal kalian tahu, tidak semua kejadian menyakitkan aku ceritakan saat itu. Sekarang bersikaplah biasa saja. Jangan terlalu menunjukkan banyak air mata padaku. "


Ibu yang terdiam kini mulai kembali menatap Ivi. Tatapannya melas seolah begitu sedih mendengar ucapan Ivi. Sebagai seorang Ibu tentu saja dia berharap untuk bisa dekat, berbagi suka duka bersama, menceritakan banyak hal dan mencari solusinya bersama. Tapi semua hanyalah keinginan yang sepertinya akan sulit untuk dikabulkan. Menunjukkan betapa menyesal dirinya juga tidak bisa mengubah ataupun sedikit menyetuh hati Ivi. Sekarang Ivi justru semakin membentengi diri dan membangun tembok pembatas yang begitu tebal.


" Silvi, bolehkah Ibu sering mengunjungi mu? boleh kah Ibu memberikan kasih sayang seperti yang seharusnya? " Tanya Nyonya Marhen.


" Tidak perlu. Aku sudah menerima banyak kasih sayang. Aku akui, Ibu ku sangat cerewet dan galak. Tapi dia adalah Ibu terbaik di dunia. Dia sama sekali tidak akan membiarkan ku menangis apalagi sampai di hina orang. Dia tidak pernah memaksa ku memasak karena aku tidak menyukainya. Dia sama sekali tidak pernah memaksa apapun yang tida aku suka. Ayah ku, dia memang Ayah yang cengeng dan pengecut. Tapi, dia selalu mencintai ku bahkan melebihi anak kandungnya sendiri. Dia selalu menggendongku saat aku merasa lelah berjalan tidak perduli meski aku sudah sekolah menengah atas. Kakak ku, dia memang memiliki mulut yang sangat pedas dan suka sekali mengadu. Tapi dia selalu membuat ku kuat dengan caranya. Dia selalu menyemangati ku melalui celaannya. Lalu aku memiliki mertua yang begitu baik padaku. Asik ipar yang juga sayang padaku. Dan yang paling penting, aku memiliki Nathan yang akan terus bersamaku. Jadi, mendapat banyak kasih sayang seperti itu, aku rasa tidak membutuhkan kasih sayang dari anda. "


Nathan menatap kagum Ivi yang terlihat sangat berbeda saat berbicara dengan keluarga Marhen. Ivi seperti gadis yang amat dewasa, dingin, dan terlihat sangat pintar. Tapi kalau bisa jangan sampai Ivi bersikap begitu juga padanya. Batik Nathan.


" Apakah kau benar-benar tidak bisa memaafkan Ibu? " Tanya lagi Nyonya Marhen dengan suara yang terdengar bergetar. Tentu saja hatinya patah karena lagi-lagi dengan jelas Ivi menolak untuk bisa dekat dengannya.


Ivi tersenyum dengan wajah dinginnya.


Nathan tersenyum tipis. Tidak tahu kenapa? pada saat ketiga orang dihadapannya terlihat berduka, dia justru bahagia dan bangga dengan sikap Ivi yang luar biasa elegan.


Istriku hebat ya? hebat dalam berkata. Tapi tida tahu bagaimana praktiknya.


" Kakak tahu, tapi bagaimana dengan kakak yang terus mencari mu selama bertahun-tahun? apakah tidak bisa kita mulai dari berteman dulu? "


Ivi tersenyum menatap Salied.


" Tidak. Mungkin anda tidak tahu, tapi aku tidak memiliki teman selama hidup ku. "


Salied kembali terdiam. Matanya yang menatap ke bawah tapi otaknya terus berpikir, bagaimana caranya agar jarak di antara dia dan adik bungsunya bisa terkikis? bagaimana caranya agar Ivi sedikit saja menerima kehadirannya. Benar, beberapa waktu lalu dia memang hidup tanpa adik bungsunya. Tapi tidak sehari pun dia tidak memikirkan adik bungsunya. Pada intinya, dia memang terbiasa hidup dengan terus memikirkan adiknya. Tapi, apakah tiga belas tahun belum cukup? apakah masih harus kembali mengalaminya lagi?


" Silvi, kakak tahu. Dekat dengan kami mungkin akan mengingatkan mu tentang rasa sakit itu. Tapi biarkan kami sedikit saja untuk lebih dekat dengan mu. "


Ivi kembali tersenyum. Mungkin ada benarnya apa yang Salied katakan. Tapi saat ini hatinya begitu kacau dan sulit menerima semua dengan lapang dada. Tidak tahu apa yang harus dilakukan karena kemarahan masih saja menguasai hatinya.


" Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Saat ini aku tidak dalam suasana hati yang baik. Kalian membicarakan masa lalu hanya menambah perasaan tidak nyaman saja di hatiku. Sepertinya sampai disini saja pembicaraan ini. Aku tidak ingin membahas ini sekarang. "


To Be Continued.