
Lexi menatap bingung sepasang kekasih yang kini menatapnya kesal. Dia menggaruk tengkuknya beberapa kali karena bingung. Didalam hatinya bergumam sejuta pertanyaan.
Kenapa sih menatapku begitu? apa mereka ingin berterimakasih? tapi, kenapa tatapan mata mereka, seolah ingin mencekik leherku hingga putus. Oh tidak, tidak. Nath bahkan lebih bengis kelihatannya. Apa dia sedang marah? tapi kenapa? memang apa salahku? apa dia baru menyadari ketampanan ku? lalu dia cemburu begitu?
" Dengar, bujang lapuk... pilihlah,.. Antartika atau Afrika?
Lexi mengerutkan keningnya bingung. " Kenapa aku harus memilih?
" Antartika atau Afrika? " Tanya Nath lagi. Tapi kali ini, tatapan matanya lebih tajam dari sebelumnya.
Kenapa sih? Antartika identik dengan salju, Afrika identik dengan terik matahari. Sebenarnya kenapa sih?
" Tidak mau memilih. Aku tidak menyukai kedua tempat itu. " Ujar Lexi melengos. Bukanya berterimakasih, malah mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. Batinnya bergumam kesal.
Brak.......!
Lexi terperanjak sembari memegangi dadanya.
" Nath! jangan menggebrak meja ini. Apa salah meja ku? " Protes Lexi sembari memegangi dan sesekali mengelus meja kerjanya.
" Bawalah mejamu saat kau pergi ke salah satu tempat yang tadi ku sebutkan. " Ujar Nath yang masih menatapnya kesal.
Setelah terdiam beberapa saat, Lexi baru menyadari jika, Nath sedang kesal padanya. " Nath, kesalahan apa yang aku buat?
" Kau lebih tahu apa yang kau lakukan. " Ketus Nath.
Rasakan itu! berani-beraninya mengompori ku.
Batin Vanya.
" Apa yang aku lakukan? aku kan membantumu menghindari Mage. Kalau aku tidak meminta Vanya datang, kau pasti akan terpesona oleh Mage kan? " Protes Lexi.
Eh? jadi itu maksutnya ya? aku salah paham ya?
Nath sedikit merubah ekspresinya. " Tapi kau menyuruh Vanya datang di waktu yang salah! " Sangkal Nath yang masih kesal. Apapun itu alasannya, Vanya harus melihat Mage dan dia berciuman kan?
" Apa maksut mu Nath? " Tanya Vanya yang merasa kesal mendengar pernyataan Nath.
Nath terdiam sembari mengingat kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya. Memang apa yang dia katakan? batinnya.
" Maksutmu, kalau aku tidak datang kau akan melakukan yang lebih dari itu? begitu?! " Vanya menatap Nath kesal.
" Mana mungkin Sayang. Tidak. Bukan begitu maksutku. " Nath mencoba meraih tangan Vanya untuk menenangkan pujaan hatinya. Tapi sayang, Vanya menepis tangannya dan berlalu dengan wajah kesal.
" Jangan berani-beraninya mengikuti ku! " Vanya mengacungkan jari telunjuknya untuk memperingati Nath yang mencoba mengikuti langkahnya.
" Ta, tapi Sayang, kau salah paham. Mana mungkin aku begitu. Vanya! Vanya!
Vanya berlalu begitu saja. Sementara Nath hanya bisa meneriaki nama Vanya tanpa bisa mengejarnya. Maklum saja, dia terlalu tunduk dengan kekasihnya itu. Jadi, dia hanya bisa mengikuti apa yang Vanya inginkan.
Pft......!
Lexi menahan tawanya. Dia benar-benar puas. Akhirnya dia selamat dari Antartika dan Afrika. Tapi juga mendapatkan bonus. Yaitu, pertengkaran Nath dan Vanya yang lumayan seru.
Vanya kembali ke meja kerjanya dengan wajah kesal. Dia tahu sih, bukan itu maksut Nath. Tapi entahlah, dia hanya merasa kesal tanpa alasan yang jelas.
***
Nath kembali ke duduk di meja kerjanya. Dia hanya bisa mendengus kesal sendiri. Kerjaan yang harusnya sudah berkurang separuh, justru masih asyik bertumpuk di mejanya. Angan-angan akan mengantar Vanya pulang kerja, hanya bisa ia relakan sirna begitu saja.
" Cih! sialan! " Umpat Nath sembari mengusap wajahnya.
Mage, kau sudah mengacaukan hidupku lima tahun lalu. Tidak untuk sekarang ini. Aku sangat menginginkan Vanya. Aku tidak pernah segila ini terhadap wanita. Aku harap, kau bisa memahami dan menjauhlah. Aku tidak ingin menyakitimu. Meski kau sudah menyakitiku dengan alasan konyol mu.
Waktu terus berlalu. Tidak ada makan siang yang seperti biasanya. Vanya, lebih memilih menghabiskan makan siangnya di meja kerjanya. Begitu juga Nath. Dia masih berharap, pekerjaannya cepat selesai dan memiliki sedikit waktu untuk menemui pujaan hatinya itu.
Vanya menaikkan kedua tangan yang saling mengait degan telapak tangan terbalik ke atas. Menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
" Huh.....! akhirnya, aku bisa pulang. " Ujar Vanya sembari menyimpan hasil Desainnya. Lalu menyambar tas selempang yang ia letakkan tak jauh dari mejanya.
" Sial! mereka buta atau rabun sih?! kenapa bisa kelebihan memberikan angka nol?! kenapa bisa ada kesalahan ketik yang bukan hanya satu atau dua kata?! mereka ini makan nasi atau maka tanah sih? apa otak mereka tidak memiliki suplai nutrisi? kenapa mereka begitu bodoh?!
Nath terus saja bergumam kesal sendirian. " Ah,...! sial! kemana sih Asisten Sekretaris itu?! kenapa aku harus repot-repot mengerjakan ini sendiri?!
" Nath, kau sudah selesai? " Lexi masuk setelah mengetuk pintu.
" Bagus sekali. Kau datang di saat yang tepat.
Lexi menelan ludahnya sediri melihat kertas yang berserakan di lantai.
Firasat ku berkata, aku datang diwaktu yang salah.
" Apa yang kau tunggu?!
" Eh?..
" Selesaikan ini. Aku harus pulang. " Nath meraih kasnya dan meninggalkan Lexi sendiri.
" Sialan! " Lexi meninju udara di hadapannya. Iya, tentu saja udara, kan tidak berani kalau memukul Nath.
" Kenapa begini nasibku? jika reinkarnasi itu memang ada, aku yakin. Dulu aku pasti pernah mengobrak abrik galaxi bima sakti. Dan sekarang, ini adalah hukuman untukku.
Lexi bergumam kesal sembari memungut lembaran-lembaran kertas yang berserakan di lantai.
Setelah selesai dengan kertas-kertasnya, Lexi memutuskan untuk pulang kerumah. " Nath, kau benar-benar terkutuk. Aku harus bertahan disini sampai pukul Dua puluh.
Nath berjalan keluar dan menuju lift. Berbarengan dengan itu, Lexi yang sudah keluar dari lift bertabrakan dengan seorang wanita yang juga keluar dari divisinya menuju lobby.
" Aw....! " Pekik gadis itu sembari memegangi kepalanya.
" Maaf, " Lexi menatap wanita yang kini sedang menatap ke bawah sembari mengusap-usap kepalanya.
" Tidak apa-ap..
" Kau?! " Lexi terkejut melihat sosok yang membuatnya terus dihantui kata-kata 'Homo'.
" Oh, anda ya Sekretaris ho,..
" Diam! " Lexi menatap gadis itu kesal. Sudah pasti mau mengatai homo kan batinnya.
" Oh ya ampun,... dibanding membentak ku, bukankah anda harus memastikan keadaan ku. Aku jadi memiliki trauma karena anda. " Ujar Gadis itu.
" Apa?!
" Iya. Aku trauma karena anda. Setiap kali aku bertemu anda, kepala ku pasti dalam masalah. Tidak mungkinkan? saya harus membawa helm setiap berpapasan dengan anda.
" Ku,kurang ajar sekali mulutmu.
" Iya. Tapi aku memiliki kinerja yang baik. Jadi, Presdir tidak akan memecat ku hanya karena ini kan? " Gadis itu tersenyum percaya diri.
" Dasar gadis aneh. Kalau begitu, aku batalkan permintaan maaf ku tadi. Aku batal minta maaf! jangan mengharap maaf dariku.
" Cih! siapa juga yang butuh. Lagi pula, aku yang salah kok. " Ujar Gadis itu sembari berlalu meninggalkan Lexi yang masih menatapnya kesal.
" Tunggu!
Gadis itu mengentikan langkahnya. " Ada apa?
Lexi meraih kartu pekerja yang tergantung dilehernya untuk melihat nama dari gadis menyebalkan itu.
" Devi? " Ucapnya setelah melihat kartu anggota pekerja.
" Iya! kenapa?! mau memecat ku?! aku tidak takut! lakukan saja kalau anda bisa! " Devi berlalu sembari menjulurkan lidahnya.
Gadis sialan! berani-beraninya dia membentak ku! Harga diriku rasanya hancur gara-gara gadis menyebalkan itu. Awas saja kau. Aku akan membuat kesombongan mu hancur dan berlutut memohon ampun padaku. Haha.. membayangkan saja, rasanya sudah sangat menyenangkan.
To Be Contonued.