Touch Me!

Touch Me!
S2- Aku, Istrimu!



Seperti yang sudah di jadwalkan, pagi Nathan dan Ivi akan datang ke tempat Ivi dulu bekerja. Sebenarnya, Ivi sangat malas harus pergi bersama Nathan. Tapi karena pria yang sudah menjadi suaminya itu berkata hanya mengantar, akhirnya Ivi membiarkan saja apa yang di inginkan Nathan. Tidak ada obrolan, hanya suara hembusan nafas dan juga helaan nafas saja selama perjalanan menuju ke sana. Kenapa? karena baik Ivi ataupun Nathan, mereka sama-sama tidak bisa menghilangkan bayangan-bayangan perbuatan mesum mereka semalam. Ditambah lagi, pagi ini Ivi juga melihat tongkat ajaibnya Nathan. Tambah sudah rasa malunya. Padahal dia berniat datang ke kios untuk menangkan diri, tapi sudahlah. Hanya tinggal menunggu beberapa menit lagi sampai ke kios, dan Nathan juga pasti akan pergi setelah nya.


Beberapa saat kemudian, Ivi dan Nathan sudah sampai ke kios atau kafe kekinian yang bertuliskan Hot Chicken. Seperti biasa, tempat itu memang selalu ramai pengunjung. Bukan hanya karena tempatnya yang begitu bersih dan ke kinian, tapi rasa masakan disana juga terbilang lezat. Bahkan, banyak pelanggan dari kelas atas yang sering makan atau memesan makanan disana.


" Nathan, terimakasih sudah mengantar ku. " Ucap Ivi tanpa berani menatap Nathan. Gadis itu membuka pintu dengan cepat dan langsung meninggalkan Nathan disana tanpa mau mendengar apa yang ingin Nathan katakan.


" Tu tunggu! " Nathan hanya bisa menghela nafas kesal nya.


" Dia benar-benar tidak menginginkan ku ikut? apa dia hanya menganggap ku sebagai sopir nya saja? "


Satu menit, dua menit, tiga menit.


" Sialan! lama sekali sih?! apa dia tidak tahu? tiga menit itu sudah menghabiskan banyak detik. Dia ini mau berapa lama lagi disana? "


Nathan tersentak tiba-tiba. Dia memikirkan segala kemungkinan buruk yang sedang dilakukan oleh Ivi. Belum juga sirna pemikiran itu, tiba-tiba datang lah manusia terkutuk yang tak lain adalah curut mabuk alias Kakak Bien. Nathan semakin kesal hingga tanpa sadar, sisi bibirnya naik turun dengan tatapan layaknya singa tengah mengintai seekor rusa.


" Curut mabuk kenapa tiba-tiba datang? apa dia sengaja datang karena Ivi ada didalam? meskipun Ivi itu pendek, galak, menyebalkan, tubuhnya terlalu kurus, tapi dia cukup menggemaskan. Tidak bisa dibiarkan, curut mabuk ini bisa jadi kucing liar kalau menyadari ke imutan Ivi. "


Nathan memutuskan untuk turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki Bien dari jarak yang lumayan jauh. Dan disinilah jiwa narsis Nathan tegah mendewakan fisiknya sendiri. Dia melihat bahu Bien lalu membandingkan dengannya, tinggi Bien, tatanan rambut Bien, kemeja serta celana yang dikenakan Bien, sepatu, cara Bien berjalan, bahkan tanda lahir Bien yang bertengger di tengkuknya begitu menganggu baginya.


Heh! tentulah fisik ku yang paling sempurna. Cih! lihat cara dia berjalan. Sudah seperti bebek saja.


Nathan sempat menghentikan langkahnya untuk sebentar mengamati apa yang sedang dilakukan oleh Ivi.


" Kakak Bien? " Sapa Ivi setelah menyadari kehadiran Bien disana.


" Ivi? "


" Selamat pagi kak. Aku ingin bertemu dengan Bos Ira. Apa dia tidak datang bersama kakak? " Tanya Ivi. Sebenarnya ini aga aneh. Biasanya, Ivi akan berdebar-debar saat dekat dengan Bien. Tapi anehnya, hari ini sungguh berbeda. Dia memang tidak bisa dengan mudah menghilangkan rasa kekagumannya kepada Kakak Bien dengan mudah, tapi posisi Ivi sekarang ini memaksanya untuk cepat melupakan kakak Bien nya.


" Selamat pagi juga, Ivi. " Jawab Bien lalu tersenyum manis.


" Kakak ku akan datang sebentar lagi. Aku kesini hanya untuk mengantar beberapa draft pesanan untuk hari ini. Oh iya, kau sudah beberapa hari tidak datang ke kafe. Apa kau baik-baik saja? "


Ivi tersenyum pilu. Ini adalah kali pertama Bien tersenyum ramah padanya. Bukan seperti beberapa waktu lalu yang terlihat begitu enggan hanya untuk berdekatan dengan Ivi. Ini juga kali pertama Bien mengucapkan lebih dari tga kata seperti biasanya. Maaf, sedang buru-buru. Hanya itu lah yang sering kali Ivi dengar.


" Iya, ada beberapa hal yang terjadi secara tiba-tiba. Kalau begitu, aku akan menunggu Bos Ira disini saja. " Ucap Ivi seraya menunjuk salah satu kursi tamu yang berada di sana.


Bien mengeryit bingung menatap Ivi.


" Kau tidak bekerja? "


" Tidak kak. Itu sebabnya aku ingin meminta Izin kepada Bos Ira. " Ivi tersenyum setelah memberi tahu maksudnya.


" Kalau begitu, aku duduk di sini ya kaka Bien. Tenang saja, aku sudah memesan kopi dan roti bakar kok. " Ivi kembali tersenyum ramah.


Bien terdiam sesaat sembari memikirkan sesuatu. Karena penasaran, Bien akhirnya ikut duduk di tempat yang sana dengan Ivi. Tentu saja, Nathan melihat itu semua dengan tatapan kesal. Tapi untunglah, pria tampan itu masih bisa menahannya agar tidak terprovokasi sekarang.


" Ivi, apa kau dalam kesulitan? "


Ivi tersenyum lalu menggeleng.


Kakak Bien, kenapa baru sekarang kakak begitu perhatian dan ramah? padahal, aku sudah mengikuti kemana pun kakak Bien dan pacar kakak pergi. Aku melakukan segala macam cara untuk bersama kakak Bien dan menjadi tipe kakak. Tapi Tuhan memberiku jalan takdir yang lain. Kakak, ku mohon jangan terlalu baik, nanti kalau aku tidak rela bagaimana? kalau kakak jatuh cinta dengan ku sekarang, apa boleh aku punya dua suami?


" Ivi, kenapa kau terlihat berbeda? " Tanya lagi Bien yang semakin membuat Ivi bingung. Padahal dulu dia sangat enggan berbosa-basi.


" Ah, itu hanya perasaan kakak saja. "


Bien mengangguk meski masih terlihat curiga dengan Ivi.


" Kalau boleh tahu, kenapa kau berhenti bekerja? bukankah kau sangat membutuhkan pekerjaan? "


Sebenarnya, aku bisa saja bekerja ditempat lain. Tapi hanya demi kakak loh aku kerja disini.


" Itu, ada suatu hal yang tidak bisa aku jelaskan. "


Bien kembali menatap Ivi lalu meraih tangannya.


" Ivi, coba pikirkan lagi. Aku tidak ingin kau menyesali keputusan mu ini. "


" Oh, sepertinya kau sedang sibuk ya, Ivi? "


Kompak, Ivi dan Bien menoleh ke arah yang sama. Iya, tentu saja itu Nathan. Memang siapa lagi? melihat tangan Ivi di sentuh oleh curut mabuk, tentulah dia tidak terima.


" Ke kenapa kau ada disini? " Ivi menarik tangannya dari genggaman Bien. Dan tentunya, itu membuat Bien sedikit terkejut.


" Tentu saja untuk mengajak mu pu- " Belum sempat Nathan menyelesaikan kalimatnya, Ivi sudah bangkit dan langsung membungkam mulut Nathan.


Bien memang terkejut, tapi dia memilih untuk tenang lalu bangkit untuk menuju Ivi dan Nathan.


" Apa kita pernah bertemu? " Tanya Bien sembari mengingat-ingat.


" Kau tidak mengenal ku? " Tanya balik Nathan.


" Aku seperti pernah bertemu dengan anda. " Ujar Bien yang masih terlihat mengingat-ingat.


" Aku Nathan Rezef Chloe. " Pria tampan yang tidak bisa dibandingkan dengan curut mabuk seperti mu.


" Jadi, anda adalah putra dari keluarga besar Chloe dan KRR yang terkenal itu ya? pantas saja wajah anda familiar sekali. "


Nathan tersenyum.


" Kau dengar itu? kakak Bien mu saja mengakui kalau wajah ku familiar. Itu berarti, aku jauh berjuta-juta kali lipat lebih tampan dari curut mabuk ini. " Bisik Nathan kepada Ivi.


" Hentikan omong kosong mu! " Bisik juga Ivi.


" Apa, anda Bos barunya Ivi? " Tanya Bien.


" Eh? " Ivi menatap Bien kaget.


Sialan! kakak Bien, aku sangat mengagumi mu selama dua tahun. Tapi tidak disangka, bagimu aku hanya akan menjadi babu saja? rupanya aku harus menjadi seperti Nathan yang sombong ini.


" Lihatlah, dia saja sampai berkata begitu, jangan-jangan di mata curut mabuk ini, wajah mu sama seperti kain pel. " Bisik lagi Nathan.


" Diam kau! jangan lupa, semalam kau memperkosa kain pel ini. "


" Siapa yang kau sebut memperkosa? "


" Memang siapa lagi? "


" Apa yang sedang kalian bicarakan? " Tanya Bien penasaran.


" Kami sedang cekcok! " Jawab Nathan dan Ivi bersamaan.


" Cekcok? " Bien semakin menatap heran Nathan dan Ivi secara bergantian.


" Ivi, kau baru mulai bekerja, tidak baik kalau sudah cekcok. " Ujar Bien yang sebenarnya hanya menasehati.


" Pft ....! " Nathan menahan tawanya karena lagi-lagi Bien menyangka Ivi hanyalah seorang karyawan.


Melihat Nathan yang seperti tidak tahan lagi untuk tertawa, Ivi semakin kesal di buatnya. Padahal, dia banyak menonton drama romantis yang kebanyakan kisahnya tokoh pria akan murka saat ada yang menghina dan menyakiti wanitanya. Tapi ini, apa-apaan? Ivi semakin meradang dibuatnya.


" Dengar kakak Bien. Aku bukan karyawan. Dan kau juga jangan menertawai ku begitu. " Tunjuk Ivi kepada Nathan.


" Aku adalah istrimu! seharusnya kau membela ku saat ada yang menghina ku! kalau kau begini terus, lebih baik tidak usah membuat anak lagi! aku akan bicara kepada Ibu. "


To Be Continued.