Touch Me!

Touch Me!
S2- Masih memiliki rasa



Setelah kedatangan Salia dan Salied, Nathan menyelesaikan separuh pekerjaannya agar bisa menemani istrinya mengobrol, oh! bukan, maksudnya membicarakan hal penting pastinya. Ivi sebenarnya tidak terlihat marah lagi, tapi lebih jelas kalau dia malas untuk berbicara dengan dua orang yang sebenarnya adalah kakak nya.


Disebuah restauran yang cukup mewah kini mereka berada. Nathan juga sengaja memesan ruang VVIP agar lebih leluasa ketika ingin membicarakan hal yang sangat pribadi tentang hubungan kekeluargaan.


Mata Salied sama sekali tak pernah lepas dari Ivi. Dia terus saja menatapnya meski yang di tatap sama sekali tidak perduli. Karena Ivi justru sibuk melihat kembali harga menu makanan yang lebih mahal dari pada perhiasan Ibunya.


" Apa kau jatuh cinta dengan buku menu itu? " Tanya Nathan yang merasa sebal melihat Ivi terus memandangi buku menu.


Ivi yang sontak menutup buku menu itu lalu menatap nya.


" Usus ku benar-benar di manjakan selama dua bulan ini ya? setiap hari aku makan makanan enak dan mahal. Apalagi makanan hari ini. Harga satu menu makanan saja, seharga satu bulan jatah beras keluarga ku. "


Nathan tersenyum lalu merangkul pundak Ivi. Iya, pria itu mulai bisa menjadi mesra tanpa mengenal tempat.


" Jika kau ingin makanan yang tadi pagi kau maksud, pulang nanti kita akan membelinya. "


Ivi menyipitkan matanya dengan bibir yang tersenyum.


" Kau pasti sedang merayuku ya? "


" Kenapa itu di sebut merayu? " Tanya Nathan bingung.


" Karena kau menuruti apa mau ku saat malam hari. Aku jadi berpikir, kalau kau pasti menginginkan sesuatu sebagai balasannya kan? " Ivi tersenyum sembari menatap Nathan dengan tatapan menyelidik.


Nathan menghela nafas nya. Sungguh bukan itu maksud nya. Tapi kalau Ivi menganggapnya begitu, dia bisa apa? toh memang akhir-akhir ini dia kesulitan menahan diri saat malam. Hah! bahkan bukan hanya malam. Tapi setiap waktu saat bersama Ivi.


Salia dan Salied terdiam degan pemikirannya masing-masing. Salied yang merasa bahagia karena melihat Ivi bahagia bersama Nathan, dan Salia yang masih tidak bisa menghilangkan rasa dihatinya untuk Nathan. Sungguh dia tahu kalau dia tidak boleh seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? tentang hati tentu saja tidak mudah di kontrol.


Beberapa saat setelah itu, makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Semua kompak menikmati makanan mereka terlebih dahulu, baru kemudian membicarakan hal yang ingin disampaikan oleh Salied dan Salia.


Ivi yang saat itu tertarik dengan menu makanan Nathan, dia tanpa ragu mengambil makanan yang ada di piring Nathan. Untunglah Nathan tidak terlalu banyak saat makan jadi dia membiarkan saja makanannya di habiskan oleh Ivi. Bukan hanya makanan, tapi Ivi juga menengguk habis air minum Nathan karena miliknya sudah habis sedari tadi.


" Kau mau lagi? " Tanya Nathan yang merasa jika Ivi masih belum merasa kenyang.


" Tidak mau. Tapi aku mau minum saja. Aku mau jus strawberry ya? "


" Iya. " Jawab Nathan lalu menenggak sisa air bekas Ivi yang masih sedikit tersisa.


Salia mengepalkan kedua tangannya yang tersimpan di bawah meja. Entahlah, rasanya masih tidak rela melihat Nathan dan Ivi yang luwes sebagai suami istri. Bahkan pria yang terkenal dingin dan anti sosial itu dengan tidak ragu bergantian gelas dan juga sendok dengan Ivi. Tahu, sungguh dia tahu dan juga sadar jika Ivi adalah adik kandungnya. Tapi dia masih kesulitan merelakan Nathan untuk Ivi. Tak bisa juga di pungkiri kalau hatinya terus merasa sakit melihat Nathan dan Ivi yang terlihat begitu cocok. Bahkan Nathan juga tidak terlihat jijik melihat cara makan Ivi yang seperti preman kelaparan.


Sementara Salied terus menatap Ivi dengan perasaan sedih. Dari pertama kali Ivi menyebutkan harga satu menu setara dengan jatah beras satu bulan keluarganya, hatinya serasa teriris perih mendengarnya. Dia sama sekali tidak tahu seberapa berat dan seberapa banyak lagi kesulitan Ivi selama ini. Salied hanya bisa memandangi Ivi lalu memandangi makanannya tanpa niat sedikitpun untuk memakan nya. Tapi ketika melihat Nathan, dia sedikit tergerak dan memaksakan diri untuk memakannya.


Setelah makan siang selesai, Nathan menanyakan maksud kedatangan Salia dan Salied hari ini.


" Jadi, Tuan muda Salied, apa yang membuat anda datang ke kantor? "


" Aku dengar, besok kalian akan pergi berlibur. Jadi aku ingin meminta izin kepada kalian terutama Ivi. "


" Bisakah Ivi ikut bersama ku? ada ha yang ingin sekali aku tunjukkan kepadanya. "


Natha menatap Ivi yang justru sibuk melihat ponsel ya.


" Kau mau ikut? "


" Untuk apa? " Tanya Ivi dingin.


" Tolong, Silvi. Beri kan kakak waktu sebentar saja. "


Nathan menatap Salied yang begitu tulus kepada Ivi. Begitu jauh dengan cara Salia menatap Ivi yang seolah masih menyimpan iri dan kecemburuan yang entah apa itu.


" Ivi, pergilah. Setidaknya biarkan kakak ku menunjukkan apa yang ingin ia tunjukkan. Aku akan menjemput mu saat selesai nanti. " Bujuk Nathan.


Ivi menatap mata Nathan. Sungguh dia ingin tahu apa benar-benar Nathan ingin dia pergi?


" Serius nih? "


" Iya. Aku akan menjemput mu kalau sudah selesai nanti. "


Ivi menghela nafasnya. Rasanya dia juga tidak bisa menolak karena Nathan juga yakin kalau dia harus pergi.


" Baiklah. " Salied tersenyum bahagia lalu mengucapkan beberapa kali terimakasih.


Didalam perjalanan, Ivi, Salia dan Salied tidak ada yang berbicara. Salied yang tentu menghargai Ivi karena terlihat jelas jika Ivi tidak ingin bicara. Sedangkan Salia, gadis itu tadinya berniat untuk meminta maaf kepada Ivi dan memeluknya erat. Tapi saat melihat dia dan Nathan begitu bahagia, di jadi merasa enggan untuk melakukannya.


Sesampainya di sebuah rumah yang berukuran sedang, Salied memarkirkan mobilnya di halaman rumah itu. Ivi juga menyusul turun dari mobil. Sementara Salia, gadis itu tiba-tiba meminta untuk berhenti di tengah jalan karena ada hal mendesak yang harus ia lakukan. Yah, itu hanya alasan dia saja.


" Ayo, masuk. " Ajak Salied yang sudah mulai melangkah kan kaki menuju pintu rumah yang di desain klasik seperti rumah yang Ivi inginkan saat kecil.


Perlahan Ivi mulai memasuki rumah itu. Matanya menelusur ke setiap sudut ruangan. Ivi terdiam karena tidak tahu harus mengatakan apa. Semua warna perabotan di rumah itu adalah warna kesukaan Ivi. Photo-photo mereka bertiga juga banyak sekali terpampang di tiap sudut ruangan.


" Ivi, masuk lah kesini. " Ajak Salied sembari memegang handle pintu dan membukanya.


Salied tersenyum melihat Ivi memasuki kamar yang sudah ia siapkan dari belasan tahun lalu. Rumah, perabotan, dan semua hal ini adalah hasil kerja keras Salied selama ini.


Ivi menatap banyaknya photo-photo kebersamaan mereka saat kecil. Tempat tidur kesukaannya, boneka, dan masih banyak benda yang semuanya adalah warna kesukaan Ivi.


Salied membuka sebuah kemari yang berukuran besar. Dia membuka semua penutupnya agar Ivi bisa melihat itu semua.


" Silvi, satu ruang lemari besar ini adalah beberapa pakaian dan barang kesukaan mu yang kakak beli setiap tahunnya. Kakak tahu, semua ini mungkin tidak ada artinya bagi mu. Tapi percayalah, Silvi. Penyesalan terbesar kakak adalah kegagalan untuk menemukan mu. Kau tahu, di kamar ini lah kakak menangis setiap malam. Di kamar ini juga Ibu menangis. Rumah ini adalah rumah yang kakak sediakan untuk mu. Apa kau masih ingat? dulu kau sangat menyukai mode rumah seperti ini. " Salied berbalik arah menatap Ivi.


" Silvi, katakan kepada kakak. Beritahu kakak, bagaimana caranya agar kau mau menerima kakak sebagai kakak mu? "


To Be Continued.