
" Yes!!!! " Berly bertepuk tangan bahagia memandangi sebuah benda kecil yang membuatnya begitu penasaran akhir-akhir ini. Setelah menunggu satu minggu untuk bersabar, akhirnya hasil bahagia itu dia dapatkan sekarang. Berly menghentikan tepuk tangannya lalu menjalankan tangannya ke perut ratanya. Di rabanya perut itu lalu mengusap pelan dengan perasaan bahagia. Iya, benda yang di maksud adalah alat uni kehamilan yang memberikan hasil positif. Tiga bulan sudah hubungan asmaranya bersama Dodi berlangsung. Memnag begitu cepat kalau harus adanya bayi. Tapi rasa cinta yang luar biasa tidak terbendung di hati Berly, dia dengan mudahnya meyakini apa yang membuatnya bahagia sekarang. Bukan tanpa alasan, sebagai bintang besar, tentu lah dia banyak menemui pria tampan dan berhubungan baik dengan mereka. Tapi, yang bisa membuat hatinya berdebar begitu tak terkendali adalah Dodi seorang. Iya, rasa cinta Dodi mungkin belum sebesar apa yang dia rasakan. Tapi seiring berjalannya waktu, Dodi pasti akan sangat mencintainya terlebih adanya bayi di perut Berly.
" Baby, kau harus sehat ya? karena kau adalah satu-satu nya alasan bisa memaksa Ayah mu menikah dengan Ibu sekarang. Kalau menunggu Ayah mu sukses, nanti Ibu sudah memiliki keriput kan? " Berly tersenyum malu sendiri memikirkan apa yang selama ini ia pikirkan. Selain Berly lebih tua tiga tahun dari Dodi, dia juga merasa was-was karena Dodi masih saja tidak percaya diri dengan keadaannya meski Berly sering mengatakan bahwa kekhawatirannya itu tidak lah benar. Bukan hanya menolak bantuan dari nya, tapi dia juga menolak bantuan dari Nathan ataupun Ivi. Dia laki-laki yang begitu ingin sukses dengan caranya sendiri. Sekarang untunglah usaha Dodi semakin maju dan bulan depan Dodi berencana membuka toko baru di salah satu pusat belanja yang ada di pusat Ibu kota.
" Sayang, aku benar-benar bahagia karena mengandung anak mu. Kau pasti bahagia juga kan? " Berly masih sibuk mengusap perut ratanya sembari membayangkan wajah bahagia Dodi. Tak mau menahan lebih lama kabar bahagia ini, Berly dengan cepat meraih ponselnya untuk menghubungi Dodi.
" Sayang? " Ucap Berly saat panggilan teleponnya terhubung.
Iya, Be?
" Kau sedang sibuk? "
Tidak. Hanya sedang melihat-lihat stok bahan baju saja. Ada apa?
" Aku ingin memberi tahu kabar bahagia. "
Kabar bahagia apa?
" Coba tebak. "
Kau, memiliki projek film baru?
" Salah. "
Kau akan merilis singel lagu terbaru?
" Salah juga. "
Em, kau memang lotre?
" Ih,...! salah! salah! "
Lalu?
Berly menarik nafas dalam-dalam laku menghembuskan nafasnya perlahan.
" Aku hamil. "
Oh? apa?!!
" Iya, aku hamil. Kau bahagia kan? "
Hamil?! matilah aku.
***
Setelah mendengar berita tentang kehamilan Berly, Dodi kini tengah kebingungan. Bukan bingung karena kehamilan Berly, tapi bingung bagaimana menjelaskan kepada orang tuanya terlebih Ibunya yang super bawel dan galak itu.
Sayang, aku yang akan mengabari Ibu dan Ayah mu.
Dodi tersentak karena lupa kalau sambungan teleponnya masih tersambung dengan Berly. Ah, malu lah sudah.
" Bu bukan begitu, Be. Aku bukan tidak bahagia, hanya saja aku bingung. "
Aku tahu, aku kan tidak mengatakan atau bertanya tentang itu. Kita temui Ayah dan Ibu mu bersama-sama ya?
Dodi tak menjawab dan kini beringsut dengan perasaan bingung. Sejujurnya bukan takut Ibunya akan memarahi nya, hanya saja dia tidak menepati janjinya untuk menjaga wanita nya dengan baik dan menghormati pasangannya kelak. Menikah masih belum, tapi sudah ada bayi. Huh....! mau bagaimana lagi? setiap kali ada kesempatan, Berly selalu saja menyerang nya dengan buas. Tidak perduli ada do mobil atau di rumah, pokoknya selama kesempatan itu ada, itu selalu saja terjadi. Sebagai seorang laki-laki normal, tentulah sulit bagi Dodi menahan dirinya. Terlebih, Berly kan sangat cantik, tubuhnya bagus dan mulus serta proporsional. Jadi kalau di pikir-pikir, ini semua salah Berly kan?
" Be, kalau nanti Ayah dan Ibu ku marah dan ingin memukul ku, tolong kau lindungi aku ya? selain aku takut di pukul, aku juga takut sakit tapi aku juga tidak berani menghindar. " Dodi bermuka swsih dan bersuara pilu. Iya, tidak munafik, dia antara semua yang menyeramkan, dia hanya takut amarah kedua orang tuanya yang biasanya akan meluap-luap saat dia membuat kesalahan. Sungguh sangat berbeda dengan Ivi. Asik perempuannya itu paling akan di ceramahi selama lima menit lalu dimanja-manja setelahnya. Sementara Dodi, hanya pulang terlambat saja, sudah harus tidur di teras rumah yang banyak nyamuk.
Tenang saja, Sayang. Jangan kan Ayah dan Ibu mu, raja iblis, bahkan dewa matahari pun tidak akan ku biarkan menyentuh mu.
" Be, berhentilah untuk menjadi puitis. Aku benar-benar serius. "
Aku juga serius kok, sayang. Kau mau aku membuktikannya bagaimana? menyeberangi lautan? mendaki gunung? melewati lembah? mau yang mana?
" Ya Tuhan, setiap kali kau membicarakan Tetang cinta, entah kenapa aku malu sendiri mendengarnya. "
Sayang, aku ini sangat serius kok. Pokoknya, aku akan melakukan apapun asalkan rasa cintamu semakin bertambah dan semakin besar.
Dodi menghela nafasnya. Sebenarnya dia juga sangat mencintai Berly. Tapi karena keadaan keuangannya yang jauh dibandingkan dengan Berly, entah mengapa dia seperti tidak bisa mencurahkan seberapa besar rasa cinta yang dia miliki. Tapi sekarang, ada bayi yang harus di prioritaskan. Tidak perlu memikirkan berapa banyak uang yang dia miliki. Dia hanya perlu berusaha sebisa mungkin dan sekuat tenaga agar Berly dan anaknya nanti tidak akan pernah merasakan kelaparan dan tidak perlu menggunakan baju compang camping.
" Be, tidakkah kau berpikir jika akulah yang lebih pantas untuk merayu mu seperti itu? "
Benarkah? lalu kapan kau akan merayu ku?
Heh! memang Berly paling bisa membuat Dodi tidak bisa berkata-kata. Menurut Nathan dan Sammy, Berly memang seperti itu saat kecil. Dia begitu menyukai Nathan hingga tidak perduli dengan yang lain dan terus merayu Nathan dengan kata-katanya. Tapi siapa sangka, kalau saat dewasa dia malah memilih untuk melajang sebelum bertemu dengan Dodi. Sebenarnya ini juga lah yang membuat Didi ragu-ragu. Tapi dengan adanya bayi di perut Berly, pemikiran itu sudah tida lagi ia pedulikan.
Setelah kesepakatan untuk menemui orang tua Dodi, tibalah mereka siang hari ini di rumah sakit. Sungguh ini seperti tengah menaiki Rolercoaster. Dodi bahkan hampir tidak bisa bernafas dengan baik karena merasa gugup dan sesak di dadanya.
" Selamat siang, Paman dan Bibi? " Sapa Berly setelah memasuki ruangan.
" Selamat siang, Be. " Jawab Ayah dan Ibu.
Ibu yang merasa sedikit aneh dengan putranya, dia terus menatap Dodi dengan tatapan curiga.
" Kenapa kau pendiam sekali? biasanya kau Langung membuat Ibu naik darah setiap kali kita bertemu. "
Sebentar lagi, darah Ibu akan naik kok.
" Kau, jangan bilang kau membuat kesalahan. " Tuduh Ibu dengan tatapan tajam dan juga menyelidik.
To Be Continued.