
Perlahan Ivi menaikkan pandangannya menatap mata Salied yang terlihat begitu tulus. Iya, seperti inilah Salied. Pria itu tidak pernah berubah. Sedari kecil, dia begitu mencintai kedua adiknya. Tak bisa Ivi pungkiri, dia juga merindukan kakak laki-lakinya. Tapi entah bagaimana menghilangkan rasa sakit di hatinya yang selalu mencegahnya untuk lebih dekat dengan kakak nya.
" Silvi, di dunia ini yang tahu bagaimana kakak adalah kau. Kau adalah satu-satunya orang yang paling mencintai kakak. Sedari kecil kau juga merasakannya kan? iya, kakak lebih menyayangi mu karena kakak tahu bagaimana Salia memperlakukan mu. "
Salied berjalan maju mendekati Ivi dan berdiri di hadapannya.
" Silvi, jika kau meminta nyawa kakak, maka dengan senang hati kakak akan memberikannya untuk mu. Tapi kalau kau terus menjauhi kakak seperti ini, kakak benar-benar tidak akan sanggup. "
Ivi mengepalkan tangannya menahan diri. Sungguh dia sendiri tidak ingin menjadi seperti ini, tapi lagi-lagi karena luka itu, dia kesulitan menentukan pilihan.
" Silvi, jika kau membenci kakak, maka kakak juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, tolong jangan tutup hatimu serapat itu. Kakak tahu, kakak bukan orang yang bisa kau percayai saat ini. Tida masalah, karena bagi kakak, kau adalah adik kesayangan ku. Entah itu dulu atau pun sekarang. Kau masih sama bagiku. "
Ivi kembali menatap manik mata Salied yang terus menatapnya sendu. Iya, Ivi bisa dengan jelas melihat kerinduan yang amat dalam di mata kakak laki-lakinya. Entah lah, tiba-tiba hatinya tergerak dan luluh oleh tatapan itu. Ivi tersenyum meski itu sangat tipis.
Salied yang melihat itu semua tentu merasa bahagia hingga matanya tidak tahan dan mengeluarkan air mata. Sungguh dia sangat bahagia melihat senyum itu.
" Kalau begitu, berikan nyawa mu padaku. " Ivi menyodorkan tangannya meminta.
Salied terdiam sesaat mendengarkan Ivi bicara. Benar, ucapan ini juga sudah berkali-kali dia ucapkan.
" Dengan cara apa kakak harus mati? terserah padamu, kakak tidak akan menolak. "
" Aku meminta nyawamu. Kenapa malah ingin mati? "
Salied menatap Ivi dengan tatapan bingung.
" Datanglah padaku dan jadilah kakak ku seperti dulu. Kau harus menyerahkan jiwa dan raga mu untuk melindungi dan membuat ku bahagia mulai sekarang. " Ucap Ivi lalu tersenyum setelahnya.
" Apa? " Salied menatap Ivi karena dia takut akan salah dengar. Tapi sepertinya dia tidak salah dengar karena Ivi kini mengulurkan kedua tangannya untuk menunggu Salied memeluk nya.
Tentu saja Salied dengan langkah cepat langsung memeluk erat tubuh adik bungsunya. Dia juga sampai sesegukan karena merasa sangat bahagia hingga menangis.
***
" Dodi, ayo kita nonton. " Ajak Berly yang sekarang ini masih betah menunggu persetujuan dari Dodi.
Dodi yang saat itu tengah menghitung jumlah barang masuk ke tokonya hari masih tetap fokus dengan pekerjaannya. Jujur dia benar-benar merasa beruntung karena baru beberapa hari tokonya buka, dia sudah mendapat banyak pelanggan.
Mendengar ancaman Berly, tentu saja Dodi langsung bereaksi. Memang luar biasa cara Berly mendekati nya. Sebenarnya Dodi juga merasa heran sekaligus tersentuh. Bagaimana bisa seorang Berly yang cantik, berkulit putih bersih, penampilan yang berkualitas, memiliki banyak harta, tapi mau mengikutinya ke pasar, menunggu Dodi seharian berjualan karena dia belum mampu kalau harus merekrut karyawan. Bahkan Berly tidak keberatan sepatu mahal nya terkena noda lumpur dari jalanan pasar.
" Nona Berly, apa anda tidak bisa sayang terhadap diri anda sendiri? " Tanya Dodi menatap mata Berly dengan serius.
" Maksudnya? " Berly menatap bingung manik mata Dodi.
" Kau kan seorang artis terkenal, kau juga memiliki banyak penggemar laki-laki yang pasti salah satu di antara mereka yang masuk ke daftar tipe mu. Kenapa tidak mencoba nya saja? "
" Ini aku sedang berusaha mencoba. Tapi kau kan masih tidak mau." Jawab Berly ringan.
" Maksud ku bukan begitu, Nona Berly. Jujur, kau sangat cantik dan - "
" Terimakasih. " Ucap Berly menyela ucapan Dodi.
" Tapi Nona Berly, aku tidak punya apa-apa yang bisa di banggakan. Jika dekat dengan mu, aku tidak akan sanggup menerima konsekuensinya. " Dodi kembali melihat lembaran kertas yang bertuliskan banyaknya barang dan juga berapa banyak barang yang terjual hari ini.
Berly menghela nafas panjangnya. Tentu saja di tahu kalau Dodi merasa tidak seimbang dengan masalah perekonomian. Tapi sungguh, Berly sama sekali tidak perduli itu. Saat usianya delapan belas tahun, dia memutuskan untuk tidak berkuliah karena ingin lebih cepat masuk ke dalam dunia model. Dia sudah memiliki tabungan untuknya, bahkan untuk membuka usaha bersama tentu saja dia sangat mampu. Untuk hidup berdua bersama Dodi sampai tua juga sudah pasti cukup. Tapi harus Berly akui, Dodi adalah pria yang tidak sama seperti pria lainnya di luaran sana.
" Dengar, aku kan sudah bilang. Kau tidak perlu memikirkan masa depan kita. Aku janji, aku akan menanggung biaya hidup kita. "
Dodi menghela nafas nya. Dia memang menyukai Berly, tapi status sosial ini benar-benar membuatnya tidak berkutik dan hanya bisa meminta Berly menjauh sebelum rasa dihatinya semakin besar dan tak teratasi.
'' Nona Berly, kita ini sungguh jauh dari kata cocok. Aku tidak bisa- "
Ucapan Dodi terhenti seketika saat bibir Berly mendarat di sana. Tadinya dia yang terkejut ingin menjauhkan wajahnya, tapi Berly sudah lebih dulu menahan wajah Dodi. Gadis itu juga tanpa ragu memperdalam ciumannya.
Sungguh membingungkan sekali, dia ingin menjauh, tapi saya g juga kalau di lewatkan. Kapan lagi kan di cium oleh gadis cantik? Dodi akhirnya memejamkan mata mengikuti saja kemana hatinya berkeinginan. Tidak tahu kenapa, ciuman itu semakin lama semakin mengganas. Dodi juga terbawa suasana hingga tanpa sadar kini dialah yang begitu semangat melakukannya. Dia meraih pinggul Berly dan sebelah tangannya lagi menahan tengkuk Berly. Mereka begitu semangat hingga tanpa sadar hampir melakukan apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan.
" Tunggu, Nona Berly! " Dodi menahan kedua tangan Berly yang sudah membuka beberapa kancing bajunya.
Berly menatap Dodi penuh tanya. Jujur, dia juga terbawa suasana. Habis mau bagaimana lagi? tadi Dodi begitu bersemangat. Jadi dia mengikuti saja kemana hatinya ingin. Tapi siapa yang sangka juga kalau dia akan begitu mendominasi.
" Nona, ini benar-benar salah. " Dodi menjauhkan tubuhnya dari Berly. Sungguh dia kesulitan menahan diri saat ini. Tapi Berly yang sudah merasa tanggung, akhirnya tanpa aba-aba kembali mencium bibir Dodi. Entah seberapa kali pun Dodi menolaknya, dia sama sekali tidak akan perduli. Berly adalah Berly yang tidak akan pernah menyerah dalam banyak hal. Apalagi, saat ini dia sedang jatuh cinta, bahkan sampai mati pun dia akan terus berjuang untuk mendapatkan pria pujaannya itu.
To Be Continued.