
Hallo para Reader ku tersayang❤️❤️❤️❤️❤️....
Di part ini, aku menyelipkan jawaban untuk kalian yang banyak bertanya. " Bagaimana Nath bisa ereksi? 🤭 padahal sedang koma?
STAR.....
Phak...! Phak....! Phak.....!
Suara beberapa dokumen yang Lexi jatuhkan dengan kasar di hadapan Devi.
Kesal yang menyelimuti otak dan hatinya, benar-benar sudah di ujung garis kesabarannya. Ingin marah, tapi tidak berani melawan titah Nath. Jadi ya, lebih baik bersikap seperti itu dihadapan Devi. Hitung-hitung, melampiaskan kekesalan yang ditimbulkan oleh Nath.
Devi menarik dan menghembuskan nafas kasarnya. Kesal! rasanya, ia benar-benar ingin mencekik mati Sekretaris Homo yang tidak memiliki perasaan itu.
" Kenapa hanya menatapnya begitu?! cepat pelajari! " Titahnya dengan wajah angkuh.
" Sekretaris Lexi, kenapa aku harus mempelajari dokumen tiga tahun yang lalu? " Devi mengontrol mulutnya agar berbicara dengan nada yang sopan. Untuk apa lagi? tentu saja untuk menunjukkan kepada Presdir Nath, bahwa dia adalah karyawan yang berdedikasi dan memiliki kinerja unggul. Jadi, mau tidak mau, dia harus mencoba akur dengan manusia anti ladies itu.
" Jangan bertanya! kau harus ingat peraturan saat bekerja denganku! Pertama, jangan berani bertanya untuk apa yang aku perintahkan. Kedua, kau dilarang berbicara jika aku tidak bertanya. " Lexi membenahi posisi duduknya sembari menatap Devi serius.
" Aku juga tidak berharap banyak bicara dengan anda. " Devi tersenyum sinis tapi tatapan matanya menatap dokumen-dokumen yang sudah menumpuk di mejanya.
" Baguslah! aku juga tidak suka banyak bicara denganmu. Setiap kali aku berbicara denganmu, kepala ku terasa ingin meledak. Aku rasa, tekanan darahku naik saat melihatmu. Aku hanya berharap, Tuhan mengasihi hidupku dengan menjauhkan wajah serta tubuhmu dariku. Aku bahkan akan berdoa,.
" Sstthhhhh! " Devi meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
" Anda bilang, tidak suka banyak bicara kan? kenapa anda terlihat menghianati ucapan anda?
" Aku tidak begitu!
" Anda terlalu banyak bicara dari tadi. Sekarang, kepalaku yang sakit. Bukan anda.
" Kau?! " Lexi bangkit dari posisinya karena merasa kesal. Tapi, dia hanya bisa bangkit tanpa bisa melanjutkan kata-katanya. Setelah ia pikirkan lagi, apa yang diucapkan Devi memang benar. Kenapa malah tanpa dia sadari, sedari tadi dialah yang selalu banyak bicara. Seolah tidak ingin ada keheningan diantara mereka.
Lexi kembali duduk dengan wajah menahan kesal.
" Cepat kembali bekerja!
" Saya sedang bekerja loh, malahan dari tadi, anda yang sibuk memaki sampai melupakan file di meja anda.
Lexi terkesiap untuk melihat mejanya yang masih dihiasi dokumen-dokumen yang belum rampung. Benar, dari tadi, dia hanya sibuk berbicara dan melupakan pekerjaannya. Dia sendiri bingung. Kenapa fokusnya bisa teralihkan hanya karena seorang wanita bermulut kubangan sampah? Lexi menggelengkan kepala mengusir keheranan itu agar cepat mengambil kembali kesadarannya dan bisa fokus untuk pekerjaannya. Dari pada, nanti lembur lagi. Batinnya.
Waktu terus berjalan. Semua orang juga sibuk berkutat dengan aktivitasnya masing-masing. Begitu juga dengan pasangan pengantin baru. Yaitu, Nath dan Vanya.
Vanya berjalan menuju mejanya kembali setelah mengantarkan beberapa desain yang sudah rampung milik Divisinya.
" Lihat dia! Apa kau melihatnya? kenapa dia memiliki tanda merah dilehernya? benar-benar memalukan. " Sindir salah satu teman kerjanya. Vanya hanya bisa menghela nafas kasarnya. Wanita yang selalu bergosip dan selalu memberikan racun kebencian kepada seluruh anggota Divisi, adalah keponakan dari Manager Nimi. Yaitu Seta. Awalnya, Vanya membiarkan saja mulut Seta berceloteh kesana kemari karena perasaan bersalah kepada Manager Nimi. Tapi, sepertinya tindakannya sangat salah. Seta justru semakin berani hingga tak lagi memperdulikan benar atau salah asumsinya.
Vanya menatap Seta yang sedang meliriknya sembari berbisik. Iya, apalagi kalau bukan sedang menghasut karyawan yang lainya agar ikut membenci Vanya.
" Apa kau di anugerahi mulut berbisa? " Tanya Vanya seraya berjalan mendekati Seta yang menatapnya kesal.
" Iya. Sama sepertimu yang di anugerahi sifat murahan. " Jawab Seta ketus.
Bukan hanya Vanya. Tapi seluruh teman kerja mereka bisa dengan jelas perkataan yang keluar dari mulut Seta. Mereka hanya bisa saling menatap bingung. Sebagian dari mereka juga bukan orang yang mudah dipengaruhi. Karena mereka memilih fokus dengan pekerjaan. Tapi kali ini, mereka tidak bisa mengalihkan perhatian dari dua wanita yang saling berhadapan dengan tatapan tajam.
" Murahan? " Tanya Vanya sembari menyunggingkan senyum dinginnya.
Iya aku memang murahan! tapi hanya saat melihat Nath.
" Iya! memang kenapa?! kalau bukan karena sifat murahan mu itu, mana mungkin Kakak Nimi akan di pecat?! " Protesnya seraya bangkit dari duduknya dan berdiri tegak menyamai Vanya yang juga sedang berdiri dan menatapnya tajam.
" Kakakmu, Manager Nimi, jika dia tidak murahan, maka dia tidak akan dipecat dengan tidak hormat asal kau tahu!
" Pembohong!
" Mau ku panggil Presdir Nath dan bertanya langsung?
" Berani sekali kau mengancam ku?!
Vanya menyilangkan kedua lengannya dan meletakkannya di dada. " Aku hanya menawarkan sebuah kebenaran. Bukan ancaman. Tapi, kenapa kau merasa terancam?
" Kau?! " Seta mengacungkan jari telunjuknya dengan wajah kesal.
" Gunakan mulutmu untuk berucap hal baik. Jika masih saja seperti itu, kau juga akan merasakan apa yang sepupumu alami.
Seta terdiam dengan jutaan kekesalan yang bergerumuh di dadanya. Dan Vanya, dia kembali menuju mejanya dan memulai kembali pekerjaannya yang sempat tertunda gara-gara mulut beracun itu.
Nath menatap seorang gadis yang kini berada di hadapannya. Dia masuk tanpa izin ataupun mengetuk pintu. Kesal yang dirasakan Nath. Hidupnya sudah terasa damai akhir-akhir ini karena tidak bertemu dengannya. Eh, sepertinya mood nya hari ini akan sedikit memburuk batinnya.
" Apa yang membawamu kesini? " Tanya Nath kepada gadis yang kini sedang berdiri menatapnya.
" Ayo kita bicara, Nath. " Pintanya dengan nada bicara yang begitu lemah lembut.
" Tidak mau! " Tolaknya tegas.
" Sebentar saja.
" Aku sedang sibuk, Gaby. Tolong pergilah sebelum aku memanggil pihak keamanan. Kau tidak mau malu karena diseret keluar dengan paksa kan?
Gaby mengepalkan tangannya kuat.
Baiklah, aku akan keluar kali ini. Tapi ingatlah Nath. Sebentar lagi, kau akan memintaku untuk ada didekatmu terus menerus.
Hari semakin cepat berlalu. Malam yang tiba mengakhiri aktivitas para anak manusia agar beristirahat dan mengumpulkan tenaga untuk mengawali hari esok.
" Nath, " Panggil Vanya seraya mendongakkan kepalanya agar bertatapan langsung dengan suaminya itu.
" Iya. Kau mau lagi?
Vanya terperangah mendengar pertanyaan Nath.
Kali ini pinggangku sudah tidak bisa di kondisikan. Kita sudah mengulangnya beberapa kali. Bukannya aku tidak mau Nath ku sayang. Tapi pinggang sialan ini tidak menginginkannya lagi.
" Bukan itu. " Jawab Vanya yang kini wajahnya sudah merona karena malu.
Nath kembali memeluknya dan menjatuhkan wajah istrinya di dadanya. " Lalu? apa yang ingin kau katakan?
" Aku ingin bertanya. Tapi kita jangan saling menatap ya?
Nath mengerutkan dahinya bingung. " Kenapa?
" Itu, aku, iya aku, aku malu. Tapi aku penasaran.
Nath tersenyum geli menyadari istrinya yang kini sedang malu-malu meong.. eh kucing ya? kucing.
" Katakan sayangku.
" Itu, saat kau koma, kenapa itu mu bisa berdiri?
Blush....
Untung saja batin Nath. Untung mereka tidak saling menatap. Nath kini terlihat sedikit gugup. Wajahnya benar-benar merah karena malu.
" Nath,kenapa kau diam? " Lama sudah Vanya menunggu jawabannya, Nath malah diam tanpa melakukan apa-apa.
" Apa yang membuatmu begitu penasaran?
" Jawab saja.
Nath menarik nafas fan menghembuskannya perlahan.
" Aku tidak tahu kenapa. Tapi, saat itu, aku seperti sedang bermimpi. Ada seorang gadis yang mengajakku berbicara. Mengajakku berjabat tangan lalu memperkenalkan dirinya. Aku lupa siapa dia. Aku seperti merasa, dia sedang menceritakan banyak hal yang aku juga lupa. Apa yang dia bicarakan. Saat itu, aku benar-benar merasa sentuhan itu nyata. Aku yang merasa seperti ada didalam mimpi, tidak tahu kenapa tubuhku terpancing oleh sentuhannya. Tapi yang sulit aku mengerti, sentuhan itu benar-benar terasa sangat nyata. Diwaktu yang sama, mataku masih terpejam seolah enggan untuk membukanya. Aku hanya menikmati sentuhan demi sentuhan darinya. Yang baru aku tahu, wanita itu adalah istriku ini.
Sialan! kesannya aku ini benar-benar sangat tidak tahu malu ya?
Vanya menelan salivanya sendiri. Rasanya, tubuhnya benar-benar panas dingin mendengar penuturan Nath.
" Lalu apa lagi?
" Lalu, saat aku membuka mata, aku tidak melihat siapapun. Tapi beberapa saat setelah itu, Kevin datang. " Nath tersenyum mengingat tampang bodoh Kevin saat melihatnya sadar.
" Pukul berapa kau membuka mata?
" Kurang lebih, pukul Lima belas. Lebih tepatnya, beberapa menit setelah kau melakukan tindakan cabul terhadapku.
" Apa?! " Vanya menjauhkan tubuhnya dan sontak menatap Nath yang kini sedang tersenyum. Entah apa arti dari senyum bodoh itu. Batin Vanya.
" Itu memang benar kan sayang?
" Tidak! kau juga bersalah! kenapa itu mu berdiri! jelas-jelas, kau yang sangat cabul! setengah sadar saja, itu mu merespon seperti itu.
To Be Continued.