
Nath menghempaskan tubuhnya di ranjang tidur. tidak memiliki jawaban atas pertanyaan yang beberapa saat lalu menggelayuti hatinya. Nath menghela nafasnya hingga beberapa kali. Masih sukar untuk di ingkari rasa ketertarikannya kepada Vanya. Ia merasa, ada sesuatu yang perlu ia cari tahu. Tapi entah harus dari mana memulainya. Orang yang tadi sangat ia harapkan, tidak mungkin bisa menjawab pertanyaan dalam keadaan stres kan?
Stres? Nath tersenyum membayangkan, betapa stres dan tertekannya Lexi saat ini. Dan tiba-tiba, dia mengingat beberapa hal yang tidak ia ingat akhir-akhir ini.
Benar! Lexi sangat menyukai Gaby kan? bahkan, sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Tapi kenapa aku bertunangan dengan dia? sejak kapan aku begitu jahat? merebut Gaby dan mendorongnya menikahi wanita lain? apakah Lexi sangat membenciku saat ini? kenapa aku begitu bodoh? yang aku ingat, aku adalah kekasihnya Gaby dan bahkan, kami sudah bertunangan. Tapi sejak kapan? aku begitu tidak tahu diri? ya Tuhan!, Lexi. Maaf, maafkan aku untuk tindakan bodohku ini.
Nath merogoh ponsel yang tersimpan di saku celananya. Dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua puluh dua. Nath yang sudah kalang kabut karena hatinya yang begitu gelisah, langsung saja bangkit dan bergegas menuju apartemen Kevin.
***
" Jadi, kau yakin ingin memberi tahu Nath segalanya? " Tanya Kevin. Saat ini, Kevin sengaja berbohong kepada Nath. Dia mengatakan, jika ia sedang tugas malam ini. Tapi, yang sebenarnya adalah, Kevin sedang mendiskusikan sesuatu bersama Vanya. Iya, tentu saja dengan embel-embel. Sherin harus ikut bersama Vanya agar Dia bisa bertemu dengan wanita pujaannya itu kan?
Sungguh, dunia ini benar-benar di penuhi oleh laki-laki yang tidak mau rugi. Batin Vanya menggerutu.
" Menurut mu bagaimana? " Tanya Vanya yang meminta pendapat Kevin balik. Padahal, Kevin sendiri belum mendapatkan apa yang tadi ia tanyakan.
" Terserah saja. Kau tidak perlu lagi takut dengan apapun. " Ujar Kevin yang sudah mengetahui semua yang dilakukan Gaby. Dan terbukti, orang-orang dari KBR Group, sangat melindungi Vanya. Oh, tidak terkecuali Pak Miskana ya, Karena pak Miskana itu adalah orang utusan orang tua Nath. Tugasnya hanya untuk membuntuti dan melaporkan semua yang dilakukan Nath. Dan orang-orang yang menghilang tanpa kabar itu, adalah orang utusan Gaby yang ditugaskan untuk melenyapkan Vanya. Jadi berbeda tugas, berbeda juga resikonya ya kesayangan ku,...
" Apa masih lama? ini sudah hampir dua jam. Apa mulut kalian tidak encok? " Tanya Sherin yang sudah benar-benar muak. Selama beberapa hari terakhir, kepalanya seolah dipenuhi oleh nama Nath. Mau tidur harus mendengarkan Vanya menyebut nama Nath, mau makan pun sama, belum lagi Nathan yang terus saja merengek meminta Ayahnya. Saat buang air besar atau kecil pun, nama Nath juga masih terngiang di otaknya.
" Sayang, kau lelah? " Tanya Kevin lembut. Ah, tatapannya itu membuat Sherin merinding.
Sialan! senyum brengsek macam itu kenapa berani-beraninya dia tunjukan kepadaku?! apa dia tidak pernah berkaca? senyum seperti itu, membuat wajahnya terlihat seperti lalat mabuk! bukan! maksudnya, babi! iya, babi mabuk!
" Wuah... Dokter Kevin benar-benar suka bercanda. Mendengar kata sayang, bulu di tubuhku sudah hampir berlarian meninggalkan kulit ku, loh..." Jawab Sherin dengan wajah yang ia buat tak terlihat marah sedikitpun.
" Senang mendengarnya. " Ujar Kevin. Masih dengan senyum yang begitu manis.
Menjijikkan sekali mereka ini. Kesal Vanya yang melihat Kevin dan Sherin berargumen.
***
" Ikuti kemanapun Nath pergi! dan laporkan semuanya. Ingat! kau harus memberitahuku terlebih dulu. Sebelum kau memberi tahu orang tua Nath. Kau paham?! " Gaby membentak mengingatkan kepada seseorang diseberang teleponnya.
Gaby menghempaskan ponselnya dengan kasar di atas tempat tidurnya. Perasaan marah, hanya itu lah yang selalu ia rasakan saat menyangkut nama Nath.
Cinta kah? atau hanya obsesi?
Gaby menatap pantulan dirinya di cermin.
" Jika bukan aku? lalu siapa? Vanya? tidak! hanya aku! karena aku yang pantas. Dan aku Nath, kau harus segera sadar. Aku, adalah teman hidup yang paling tepat untukmu. Tepat bukan berarti cocok kan? aku mengartikan kata tepat menurut ku sendiri. Dan aku, tidak buta dengan perasaanku Nath. Aku cukup paham dengan apa yang aku rasakan saat ini. Jika kau begitu menderita, maka salahkan saja kedua orang tuamu. "
Gaby mengepalkan kedua tangannya erat. Wajahnya menatap marah mengingat apa yang terjadi Lima belas tahun lalu.
Flashback On.
" Ibu, Ibu, Ayah, kakak..... Bangun! jangan tinggalkan aku! bangun! kakak! Ibu! Ayah! bawa aku! aku ingin pergi bersama kalian. " Gaby kecil berteriak histeris sembari menggoyangkan tiga tubuh yang tergeletak tak bernyawa. Yaitu, Ayah, Ibu dan kakak perempuannya.
" Nak, sabat dan relakan mereka ya? doakan mereka tenang di surga. " Ucap salah satu pelayat.
" Tidak! aku mau Ayah! Aku mau Ibu! kakakku! aku mau mereka! mereka jahat! kenapa meninggalkan aku? " Gaby kembali menangis sejadi-jadinya. Hatinya hancur. Seorang remaja berusia dua belas tahun, harus menghadapinya. Kehilangan Ayah,Ibu, serta kakaknya dalam waktu bersamaan.
" Rose,.... tenanglah. " Seorang kakek berjalan mendekatinya. Dia memberikan tepukan-tepukan ringan di punggung Gaby untuk membuatnya lebih kuat dan bersabar dengan garis yang telah ditentukan Tuhan meski terasa menyakitkan.
Rose, adalah nama Gaby lima belas tahun lalu.
" Ikutlah bersamaku. Aku akan merawat mu. Aku akan membantumu dalam segala hal. " Ucap Kakek tua itu sembari tersenyum penuh kasih.
" Anda siapa? kenapa mau merawat saya? apa anda keluarga Ayah dan Ibu? " Mata remaja itu menatap kakek dengan tatapan polosnya.
" Aku hanya rekan bisnis Ayah dan Ibumu. " Jawabnya.
" Kenapa anda mau merawat ku? " Tanya Gaby.
" Karena, ada hal yang harus kau lakukan di suatu hari nanti saat kau dewasa.
Mata gadis polos itu nampak menerawang. Entah apa yang saat itu otaknya tangkap mendengar ucapan seorang kakek yang baru ia kenal. Tapi, seiring berjalannya waktu, kasih sayang serta beberapa fakta ia temukan. Dan hari demi hari, ia lalui dengan dendam yang semakin membesar setiap harinya.
Flashback Of.
" Aku sudah sejauh ini. Maka tidak mungkin aku kembali. Meski aku kembali, aku harus kembali dengan rasa bangga akan keberhasilanku melakukan apa yang sudah hatiku dan otakku rencanakan.
" Aku, tidak akan mengalah Nath, terlebih tentang mu. Meski kau tidak memilihku nantinya, maka Tidak juga dengan Vanya. Kau tidak boleh bersamanya. Karena, orang tuamu harus membayar apa yang telah mereka lakukan kepada keluargaku. Mereka, dan kau. Harus hancur!.
Gaby tersenyum jahat menatap dirinya sendiri.
To Be Continued.