
" Ah! sakit.....! " Pekik Dodi karena Ibunya menarik kupingnya dengan kuat. Setelah Berly mengatakan semuanya, Ibunya Dodi dan Juga Ayahnya memang terlihat terkejut. Tapi itu tidak berlangsung lama karena mereka tersenyum setelah itu. Dengan sopan mereka meminta Berly untuk keluar sebentar karena ada yang ingin di diskusikan oleh Orang tua Dodi dan juga Dodi sendiri. Saat itu ya g dipikirkan Berly adalah kemungkinan besar, Dodi dan juga orang tuanya akan membicarakan mengenai pernikahan mereka nantinya. Dengan perasaan lega dan bahagia, Berly meninggalkan ruangan itu meski Dodi memberinya kode lewat mata agar jangan meninggalkannya. Tapi mau bagaimana lagi? perasaan Bahagia karena dugaannya, dia malah sama sekali tidak mengerti maksud dari tatapan Dodi.
" Kau! siapa yang mengajari mu menjadi begitu hah? " Ibu terus menarik kuat telinga Dodi. Ayah yang merasa terwakilkan kekesalannya hanya bisa menyemangati istrinya agar lebih semangat menghajar anaknya sendiri.
" Ibu, itu bukan salah ku. Berly yang memaksaku. " Dodi menahan tangan Ibunya agar tidak lagi menambah tenaga di tangannya untuk menarik kupingnya lebih keras lagi.
" Berly kau bilang?! dia itu gadis yang cantik, baik, lugu, sopan dan lembut. Bagaimana bisa dia memaksa mu?! kau pasti sengaja menghamilinya agar dia mau menikah dengan mu kan?! " Kesal Ibu yang tidak dapat ia tahan saat ini.
" Tidak, Ibu. Aku bersumpah. Aku tidak memaksa nya. Sumpah Ibu demi apapun, bukan aku yang memaksanya. Dia selalu menyerang ku setiap saat ketika ada kesempatan. Kalau Ibu mau marah, marah saja padanya. " Hah! maaf Berly. Batin Dodi. Kalau Ibu dan Ayahnya percaya kan tidak mungkin mereka akan memarahi Berly.
" Tidak mungkin! pukul saja kepala anak mu itu. Kurang ajar sekali, berani-beraninya menghamili gadis secantik Berly. Apalagi dia adalah orang kaya dan dia juga selebriti. Dasar anak sialan! seharusnya dulu aku seberuntung dirimu. " Gumam Ayah yang tak sengaja di dengar oleh Ibu dengan jelas. Ibu dan Dodi terperangah menatap Ayah dengan tatapan tak percaya. Jadi, Ayah marah kepada Dodi karena merasa iri? Ibu melepaskan tangannya dari kuping Dodi. Dia menaikkan kedua lengan bajunya. Dengan tatapan marah dia berjalan mendekati Ayah dan bertolak pinggang.
" I Ibu, ta tadi itu hanya asal bicara saja kok. "
Ibu mengambil bantal dari Brangkar Ayah lalu memukulinya karena tidak mungkin dia memukuli Ayah dengan keadaan nya yang masih dalam perawatan.
" Dasar laki-laki tidak tahu malu. Lihat saja kalau kau sudah sembuh nanti. Aku akan menyunat tongkat ajaib mu itu. Oh, kalau tidak, akan cincang dan akan ku buat perkedel untuk lauk makan mu. "
Bugh....! Bugh....!
Begitu terus sampai beberapa saat. SSebenarnya Dodi merasa begitu lega karena dia tidak lagi merasakan sakit di telinganya. Tapi melihat kekesalan Ibunya yang begitu mengerikan cukup membuatnya ngilu, tidak bisa dibayangkan kalau ucapan Ibunya terealisasikan. Barang kebanggaan alias bagian tubuh terpenting sebagai seorang laki-laki akan dicincang, dibuat perkedel, lalu di suguhkan untuk lauk makannya sendiri. Hah....? sudahlah! tida mau membayangkan hal mengerikan semacam itu.
Ayah yang merasakan hal sama seperti yang dirasakan Dodi juga hanya bisa menahan dirinya yang merasa ngilu. Dia bahkan sampai memegangi miliknya dengan erat.
" I Ibu, setelah aku keluar dari rumah sakit, aku berjanji akan mengabdikan seluruh jiwa raga ku untuk mu. " Ucap Ayah.
" Ngo ngomong-ngomong aku keluar sebentar ya Bu, Yah. " Waktunya melarikan diri dan mencari aman agar keluar dari suasana mencekam semacam ini.
" Tetap disitu! " Ibu sontak mengentikan kegiatannya dan kembali menatap Dodi dengan tatapan marah.
Sialan! kalau tahu begini, bagus tadi langsung saja kabur tanpa meminta izin dulu.
Dengan langkah yang begitu terlihat marah, Ibu kembali berjalan menghampiri Dodi. Tetu saja pria itu kembali beringsut takut. Dia memegangi kedua telinganya yang biasanya akan menjadi sasaran Ibu saat Ibu kesal padanya.
" Eh? " Dodi menatap Ibunya bingung.
" Lebih baik memberikan pelajaran kepada anggota tubuh mu yang bersalah. "
" Hah?! " Dodi sontak memegangi miliknya dengan kedua tangannya.
" Ibu, Berly kan sudah hamil. Kalau nanti aku menikah, bagaimana aku bisa menghadapi Berly kalau punyaku tidak berfungsi lagi? "
" Kau begitu takut akan hukuman dari Ibu, tapi kau tidak memikirkan apa yang kau lakukan saat akan melakukanya?! kalau kau memang sudah tidak tahan, seharusnya kau nikahi dulu baru bisa melakukan apa yang kau inginkan. "
" Itu, bukan aku- "
" Bukan apanya?! kalau memang Berly memaksamu, tapi kau kan bisa menolaknya dan menjelaskan secara baik. Ini bukan soal cinta atau pun paksaan. Ini tentang moral. Ibu sudah mengajari mu banyak hal terutama bagaimana kau memperlakukan wanita kan?! boleh kau jatuh cinta dan menjalin hubungan, tapi hargai wanita mu. Jaga harga dirinya dan jangan sekalipun kau merendahkannya. Apa kau tahu, dengan kau menghamili Berly, itu sama saja kau merendahkan harga dirinya. "
Hah? Ibu, sungguh. Aku sudah menolaknya sebisa mungkin. Tapi yang Berly lakukan benar-benar tidak memikirkan bagaimana harga diri. Jadi tetap ya ini adalah salah ku?
" Iya deh. Aku yang salah. " Ucap Dodi pasrah. Ya mau bagaimana lagi? kalau urusan seperti ini, yang salah pasti adalah laki-laki kan? sejujur apapun Dodi mengatakannya, tetap saja di tidak akan mendapatkan kebenaran sama sekali.
Setelah pembicaraan itu selesai, Ibu meminta Berly untuk masuk kembali ke dalam ruangan. Sebenarnya dia tidak menyukai tindakan kedua anak itu, tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur. Lagi pula dia menyukai kepribadian Berly selain dari siapa dia sebenarnya. Memang kecewa, tapi dia juga merasa bahagia karena akan mendapatkan dua cucu sekaligus. Apalagi beberapa hari yang lalu, Ivi mengirimnya sebuah photo hasil USG. Rasanya dia begitu bahagia hingga tidak bisa berkata-kata lagi.
Setelah Gaby masuk, Ibu dan Ayah sebisa mungkin tidak menunjukan kekesalan yang ia rasakan tadi. Padahal, tadi di luar Berly dengan jelas bisa mendengar semuanya.
" Nak, kau adalah gadis cantik dan kaya yang biasa hidup mewah. Sedangkan Dodi, dia baru saja merintis usahanya. Mungkin, Dodi akan mengalami kesulitan untuk membiayai kebutuhanmu dan anak kalian. Jadi, bisakah kau menerima keadaan seperti itu? " Taya Ibu dengan tatapan lembut. Yah, walau bagaimana pun, dia tidak bisa sembrono memperlakukan Berly karena jelas, Berly bukanlah anak nya sendiri.
" Bibi, " Berly meraih tangan Ibu dan menggenggamnya.
" Aku tahu apa yang akan aku jalani ketika aku memilih Dodi sebagai pria ku. Aku berjanji kepada Bibi bahwa aku akan bersama dengan Dodi dalam keadaan apapun. " Ibu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca karena haru. Bukan terharu karena kata-kata Berly barusan, tapi terharu dengan takdir yang begitu baik kepada anak-anak nya. Ivi menikah dengan pria kaya yang baik, dan sekarang Dodi juga akan menikah dengan wanita cantik, kaya dan juga seorang selebriti.
To Be Continued.