
Ibu dan juga Dodi masih tidak bisa mengalihkan pandangan dari sosok pria tampan yang masih berdiri tegak dengan senyum canggung. Iya memang canggung, tapi tampannya benar-benar menyingkirkan jauh senyum canggung itu.
" Dodi, ini Ibu mimpi atau tidak sih? kok ada pria tampan yang datang bersama Ivi? " Tanya ibu lirih tapi matanya masih tak ingin berpindah pandang dari Nathan.
" Tida sih, mana mungkin mimpi tapi bersamaan seperti ini? apa dia salah kamar? " Jawab Dodi yang masih saja tak berniat mengalihkan pandangan.
" Ya ampun, kok ada ya pria setampan itu? aku pikir, aku ini yang paling tampan. " Gumam Ayah yang merasa tidak terima melihat pria tampan di dekat Ivi.
Ivi masih saja kebingungan mencari-cari alasan yang paling masuk akal saat keluarganya bertanya tentang Nathan. Lain lagi yang dirasakan Nathan. Pria itu sudah mulai pegal terus menerus berdiri sembari memaksakan senyum. Bibirnya saja sudah hampir keram rasanya.
" Anda salah kamar ya? " Tanya Dodi yang sudah kembali mendapatkan kesadarannya.
" Tidak. Aku memang datang bersama Ivi. "
" He?! " Mereka kompak menatap Nathan dan Ivi tidak percaya. Bersama? rasanya kata-kata sangat aneh kalau untuk Ivi dan Nathan.
" Ka kalau begitu, duduk nih. " Dodi memberikan kursi yang ia duduki kepada Nathan. Sebenarnya Nathan ingin berpura-pura menolak, tapi dia juga sudah sangat pegal karena lama berdiri.
Duduk tidak ya? kaki pegal tapi. Sudah ah, masa bodoh saja.
Nathan tersenyum lalu dengan hati-hati mengambil posisi duduk.
Ah, akhirnya bisa juga aku duduk.
Tapi kelegaan itu hanya berselang beberapa detik saja. Karena setelah Nathan mendesah lega, kakak laki-lkai Ivi, Ibu dan Ayah duduk dan menatap Nathan dengan tatapan menyelidik. Jujur, di kondisi seperti ini rasanya Nathan ingin pergi karena merasa tertekan sekaligus tidak nyaman. Tapi mau bagaimana lagi? momen perkenalan ini jauh lebih penting dari egonya dan mengharuskan Nathan tetap disana dan sekuat mungkin tersenyum.
" Apa hubungan mu dengan putri ku? " Tanya Ayah dengan tatapan menyelidik.
" Apa kau Bos baru Ivi? " Tanya Dodi dengan tatapan yang sama seperti Ayahnya.
" Apa kau memiliki maksud khusu kepada putriku? " Tanya Ibu dengan tatapan yang lebih terlihat menuntut.
" Aku dan Ivi, kami berpa- " Ivi dengan terburu-buru membungkam mulut Nathan. Dan kegiatan itu membuat posisi mereka begitu dekat. Ini juga adalah kali pertama bagi keduanya bersentuhan secara langsung. Baik Nathan atau pun Ivi, semuanya merasakan debaran jantung yang begitu tidak biasa.
Gadis ayam goreng ini kenapa bisa sedekat ini sih? jantung ku juga kenapa lagi?
Ivi juga masih tak bergeming saat wajah mereka begitu dekat.
Upin wangi sekali rupanya.
Ehem!
Kompak Ayah, Ibu dan Dodi berdehem karena Ivi dan Nathan masih enggan untuk menjauh. Sementara Ayah, pria paruh baya itu sudah kesal melihat putrinya begitu dekat dengan pria. Dia begitu tidak terima melihat putrinya dekat dengan pria selain dirinya.
Ivi dan Nathan kompak menjauh saat anggota keluarganya berdehem. Nathan dan Ivi juga kompak membenahi pakaian mereka.
" Jadi, katakan yang sebenarnya. Apa hubungan kalian? "
" Kami bu- "
" Kami akan segera menikah, Paman. "
Ivi membelalak kaget. Tadinya dia ingin berbohong, tapi mulut sialan Nathan begitu lancar tidak ada remnya sama sekali.
Nathan mengeryit heran karena Ayahnya Ivi, Ibunya dan Kakak laki-lakinya menatapnya bingung. Dahi mereka juga sama mengeryit seperti Nathan.
" Kau bilang apa tadi? " Tanya Ayahnya Ivi.
Nathan terdiam sesaat memikirkan bagaimana caranya berbicara dengan calon mertua agar tidak memancing keterkejutan lagi.
" Begini, paman, bibi, dan- " Nathan menatap Dodi bingung karena tidak tahu siapa nama kakak laki-laki Ivi.
" Dodi. " Ucap Dodi yang paham dari tatapan Nathan kalau dia ingin tahu namanya.
" Eh, dan juga Dodi. Aku memutuskan, tidak! maksudnya aku dan Ivi sudah memutuskan untuk menikah. " Pandangan mata Ibu, Ayah dan Dodi yang tadinya menatap Nathan, kini beralih menatap Ivi bersamaan.
" Kau sedang prank ya? " Tanya Dodi.
" Tidak. Ini sungguhan. " Jawab Nathan.
" Jadi, kau benar-benar akan menikah dengan adikku? " Tanya Dodi heran.
" iya. "
" Matamu sehat? " Tanya Dodi yamg masih keheranan.
" Sehat. Sangat sehat malah. "
" Apa kau gegar otak sebelum melihat Ivi? " Tanya lagi Dodi.
" Tidak, aku tidak pernah mengalami cedera dibagian kepala. " Jawab Nathan yang semakin tidak paham maksud dari pertanyaan Dodi.
" Apa kau yakin? "
" Yakin tentang apa? " Tanya lagi Nathan.
" Menikahi Ivi. "
" Tentu saja. " Nathan kini menatap Ivi dengan tatapan seolah bertanya apa yang terjadi dengan kakaknya.
" Aku rasa kau buta. Bagai mana mungkin pria setampan dirimu menyukai adikku. "
" Dodi kau mau mati ya?! " Pekik Ayah yang tidak terima putri kesayangannya dijelekkan oleh kakaknya sendiri.
Nathan yang masih tidak mengerti apa yang di maksud kakaknya Ivi, dia hanya bisa menahan diri yang sebenarnya tidak mau lagi berada di tempat itu. Tapi lagi-lagi karena ini momen penting, terpaksa sudah dia menahan diri hingga tubuhnya gemetar.
" Ck! Ayah, kan mana mungkin ada pria setampan ini yang mau dengan Ivi? kalau dia tidak buta, berarti otaknya bermasalah. "
What? jadi maksudnya itu? hehe... baguslah, setidaknya keluarganya mengakui kalau aku tampan. Berarti yang salah bukan penglihatan ku. Tapi mata Ivi tuh yang eror. Sampai-sampai curut mabuk begitu sempurna di matanya.
" Kakak, ingat ya aku ini adik mu. " Protes Ivi.
" Kau yang buta dan otaknya bermasalah! gadis secantik Ivi tentu saja pantas menjadi primadona. Sana periksa matamu dulu! " Kesal Ayah lalu meraih tangan Ivi dan membawanya ke dalam pelukannya.
" Ayah, mungkin yang kakak bilang benar. Aku sangat jelek ya? " Ivi merajuk pilu di pelukan sang Ayah.
" Tidak Sayang! " Ayah mengusap rambut Ivi pelan penuh kasih sayang.
" Kau adalah gadis tercantik di dunia ini. Kau adalah tuan putri nya Ayah. Mereka yang menganggap mu jelek, itu berarti mata mereka rusak di penuhi dosa. Lagi pula pria itu tidak tampan kok. Kau tentu saja pantas mendapatkan yang lebih dari kotoran lalat itu. "
Bukan hanya Nathan, tapi Ibu dan Dodi terperangah mendengar ucapan Ayah. Ivi dan Ayah benar-benar bodoh dan buta. Pria setampan Nathan di bilang jelek? apa kabar laki-laki yang tampangnya pas-pasan?
" Ayah, jangan banyak berbohong. Nanti bisa kena karma loh. Nanti kalau mulut Ayah banyak korengnya bagaimana? " Ucap Dodi.
Sementara Nathan, pria itu kini mulai berubah menjadi sebal. Bagaimana tidak? wajah tampannya yang sekelas dengan Leonardo Dicaprio itu disamakan dengan kotoran lalat.
Sialan! Ayah dan anak sama saja. Sama-sama tidak bisa membedakan yang mana tampan dan yang mana jelek. Lagi pula kenapa juga Ayahnya Ivi mengatai ku begitu? ah! benar-benar kesal.
" Nak, siapa namamu? " Tanya Ibunya Ivi yang entah mengapa pipi nya bersemu merah.
Ya ampun! aku sampai lupa mengenalkan diri ya?
" Nama saya, Nathan Rezef Chloe. Panggil saya Nathan saja. "
" Apa?! " Ibu dan Dodi kompak menatap kaget ke arah Nathan.
To Be Continued.