Touch Me!

Touch Me!
Kebahagiaan Dan Kehancuran



Hari telah berganti, Vanya dan Nath, kini telah menjadi sepasang suami istri. Tidak ada pesta atau perayaan kecil sekalipun. Bukan tanpa alasan, dilain sisi untuk menghindari konflik dengan keluarga Nath, Vanya juga tidak menyukai hal yang berlebihan. Lebih sederhana lebih baik. Pernikahan mereka hanya dihadiri oleh Lexi, Kevin, Sherin, Berly dan Nathan sebagai anak sepasang suami istri baru itu.


Meski begitu sederhana, rona bahagia jelas terpancar dari wajah mereka. tidak ada satupun dari mereka yang tidak menangis haru.


Mengingat bagaimana jalan kehidupan Vanya yang sangat menyakitkan. Dan, Nath yang selalu menjadi anak dengan ruang lingkup yang terbatas. Lalu tersesat dalam luka hati yang lumayan lama. Dan pada akhirnya, mereka bisa dengan lega menyaksikan kebahagiaan ini.


" Jadi, kau adalah sahabatnya Vanya? " Tanya Lexi yang berdiri tepat disebelah Devi.


Devi hanya bisa terus menghela nafas sebalnya. Jangankan untuk menjawab pertanyaannya, bahkan berbagi oksigen pun, rasanya benar-benar berat hati.


" Kau bisu ya? " Lexi kembali bertanya. Ada kekesalan yang bisa Devi rasakan dari nada bicara Lexi.


Devi meliriknya sinis dan kembali fokus kepada Nath dan Vanya.


" Cih! dasar wanita menyebalkan. " Gumam Lexi yang masih dengan jelas Devi dengar.


" Dasar sekretaris homo!


" Aku tidak homo! " Bantah Lexi yang kini menatap tajam Devi. Sayangnya, Lexi salah orang jika ingin menakuti Devi dengan tatapan membunuhnya, karena Devi, tidak pernah takut apapun.


" Cih! homo atau tidak mana ku tahu. Aku kan tidak pernah melihatnya langsung." Ujar Devi tanpa menatap Lexi yang kini sedang menatap kesal. Andai saja, ini bukan hari bahagia sahabatnya, sudah pasti Lexi tidak akan melepaskan gadis bermulut biang sampah itu.


" Kau mau bukti?


" Buatlah video kau dan pacarmu sedang _____


Lexi menatapnya marah.


" Tapi, pasanganmu ya harus perempuan. Lalu, menikah dengannya. Baru aku akan percaya padamu Tuan SH.


" Video _____ ? kau gila ya? lalu, apa lagi Tuan SH?


Sekretaris Homo, lah! memang apa lagi?!


" Diamlah Tuan SH. Mendengar mulutmu mengoceh dari tadi, aku menjadi tidak konsentrasi.


Lexi mengepal tangannya ke atas. Rasa sabarnya seolah sudah di ujung tanduk.


SH apa lagi sih?! perempuan ini sebenarnya berasal dari mana sih?! sumpah demi apapun. Aku ingin mengirim wanita ini ke planet pluto.


Di sisi lain, Kevin terus memandangi wajah Sherin yang terlihat begitu cantik hari ini. Gadis itu mengenakan Dress selutut berwarna peach. Riasan wajah yang tipis menyapu namun tetap terlihat fresh. Bibir yang ranum membuat wajah cantiknya semakin terlihat begitu jelas.


" Sherin, kau cantik sekali hari ini. " Puji Kevin yang tak bisa mengalihkan tatapan matanya.


Maaf ya.. bukan sombong. Tapi dari lahir aku sudah cantik.


" Hahaha,... terimakasih Dokter Kevin.


" Kau ada acara setelah ini?


Ada. Banyak sekali. Salah satunya, menghindari mu.


" Iya. Sepertinya ada beberapa kegiatan. " Sherin masih bersikap sewajarnya.


" Mau ku temani?


" Itu, acara keluarga. Jadi, aku hanya akan pergi bersama Berly.


" Bukankah, aku juga akan menjadi bagian mereka?


Cuih.......! tidak mau ya! biarpun anda ganteng sekali, tapi hidupku akan singkat jika bersama anda.


" Bercanda anda lucu juga ya? hehe....


" Aku tidak bercanda.


Aku juga tidak bercanda! dasar brengsek! kenapa harus merayuku sih?!


" Nath, tidakkah kau merasa, mereka begitu cocok saat berpasangan seperti itu? " Tanya Vanya sembari memperhatikan dua pasang insan manusia yang berada tak jauh darinya.


" Iya. Terlebih, Putra kita dan Berly. Mereka terlihat serasi. " Ujar Nath yang sedari tadi hanya fokus memperhatikan putranya dan Berly.


" Kau sudah mengidamkan menantu? " Tanya Vanya sembari menyikut lengan Nath.


" Tentu saja belum! kita kan baru saja menikah. Aku belum siap tiba-tiba menjadi setua itu. Aku masih ingin membuat beberapa adik untuk Nathan. " Protes Nath merasa tak suka mendengar ucapan Vanya.


" Kan kau yang memulainya.


" Hanya bercanda. " Dalih Nath sembari melingkarkan lengannya di pinggang Vanya.


***


Prankkk..........!


Gaby membanting semua barang yang ada di kamarnya. Mata yang meneteskan air mata menghiasi wajahnya. Pikirannya kalut penuh kemarahan dan dendam. Dia sudah menggunakan cara untuk memisahkan Nath dan Vanya dengan mengundang Mage kembali. Tapi nyatanya, Mage malah mengatakan, jika dia bahagia melihat Nath yang sekarang bahagia bersama Vanya. Mage juga memberi pesan padanya agar melupakan Nath dan membiakan Nath hidup bahagia dengan pilihannya.


" Apa bagusnya wanita itu Nath?! aku lebih segalanya! aku lebih cantik. Aku lebih kaya! Aku memiliki semuanya. Ketenaran, kekuasaan, aku punya banyak hal. Tapi kenapa kau memilih wanita murahan itu?!


Gaby menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan posisi duduk.


" Vanya, kau tidak berhak atas Nath. Dia hanya milikku dari awal. Jika aku bisa membuat Nath dan Mage berpisah, maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Nath, tunggu aku sayang. Aku akan membebaskan mu dari wanita sialan itu.


***


" Nath, aku harap kau bahagia bersama dengan Vanya. Dia wanita yang baik. Meski aku tidak mengenal banyak tentangnya, tapi aku yakin. Nath ku tidak akan salah memilih. Aku merahasiakan tentang Nathan dari Mage. Aku takut dia akan menyakiti Nathan. Aku tidak pernah melakukan hal yang bisa membuatmu bahagia di masa lalu Nath, semoga Vanya akan membawamu ke dunia yang membahagiakan. Aku akan tetap disini Nath. Aku akan memastikan kalian hidup bahagia. Aku akan mencoba menghalangi Gaby hang begitu tersobsesi oleh mu. " Ucap Mage sembari menatap photo Nath dan dirinya enam tahun yang lalu.


Mage mengingat kembali, kedatangan Gaby waktu itu. Gaby menangis sembari memeluk dan memohon agar ia pulang ke indonesia dan mendekati Nath kembali. Tujuannya hanya satu. Yaitu memisahkan Nath dan Vanya. Gaby mengatakan, jika Vanya adalah wanita yang jahat dan hanya mengincar harta Nath saja. Hati yang masih tersimpan cinta untuk Nath, akhirnya menyetujui permintaan Gaby tanpa berpikir panjang. Untunglah, kenyataan membuatnya sadar. Sadar harus merelekan Nath dan berdamai dengan kenyataan.


Mage memasukkan photo itu kedalam laci nakasnya. Dia tersenyum membayangkan wajah Nath yang begitu bahagia saat bersama Vanya. Sungguh, dia benar-benar terguncang sekaligus bahagia. Bahagia karena, pada akhirnya Nath mampu bangkit dari keterpurukkan yang disebabkan olehnya.


Terimakasih Vanya. Kau memberikan obat untuk sakit Nath yang begitu dalam. Meski aku cemburu, tapi aku tidak akan merebut Nath darimu. Aku cukup bahagia melihat Nath bahagia. Aku harap, kalian bahagia. Dan,..


Mage mengingat wajah-wajah orang yang telah menghancurkan hidupnya lima tahun lalu.


Semoga kau mampu bertahan dari orang tua Nath. Terutama, Gaby. Wanita licik itu, pasti tidak akan tinggal diam. Vanya, Nath. Semoga kalian tetap kuat. Dan aku harap, Lexi dan Kevin, melindungi Nathan agar tidak disadari oleh keluarga Nath yang tidak mengenal ampun.


To Be Continued.