
Seperti janjinya, Nath membawa putranya ikut bersamanya. Dan Vanya, dia bersiap untuk datang ke mini cafe.
" Sayang, kau masih ingin datang ke sana? " Tanya Nath yang merasa bingung. Padahal, sekarang inikan Vanya adalah orang penting yang seharusnya tidak membuang-buang waktu.
Vanya tersenyum sembari menepuk-nepuk pelan punggung tangan Nathan yang sedari tadi asik menggenggam tangannya.
" Iya. Mungkin, setelah hari ini aku tidak bisa lagi sering ke sana. Aku hanya ingin menyerahkan pekerjaan ku kepada pegawai disana.
Nath menghela nafasnya. " Kau akan menjadi orang sibuk mulai sekarang, apa sebentar lagi kami akan di abaikan?
Vanya tersenyum menatap Nath dan Nathan bergantian. " Tidak. Kalian adalah prioritas hidupku. aku tidak ingin menomorsatukan pekerjaan. Karena dua jagoan ku ini, sangat membutuhkan ku. Iya kan?
Nath dan Nathan sontak mengangguk dengan mimik wajah yang sama. Sungguh, mereka benar-benar sangat mirip.
Setelah sampai di mini kafe, Nath dan Nathan memutuskan untuk berjalan kaki. Karena, jarak mini kafe dan gedung kantornya sangat dekat.
Nath menggandeng tangan Nathan erat. Ia tak henti-hentinya tersenyum melihat Nathan yang tampak gembira sekali hari ini.
" Sayang, apa kau begitu gembira? " Tanya Nath sembari mengimbangi langkah kaki Nathan yang setengah berlari.
" Iya, Ayah. Aku senang sekali. Ternyata, kantor Ayah sangat besar ya? " Nathan mengelilingi isi gedung yang nampak sangat kokoh dan mewah itu.
" Baguslah. Lakukanlah apa yang membuat mu bahagia Nak. Hanya perlu, berhati-hati. Jangan sampai kau terluka. Karena jika terjadi hal buruk padamu, Ayah dan Ibu akan sangat sedih.
" Iya. Aku akan berhati-hati, Ayah.
Nath dan Nathan terus berjalan hingga sampai di lift. Banyak pasang mata yang menatap Nathan bingung. Pasalnya, Nathan sangat mirip dengan Presdirnya. Bakan, Presdirnya tidak canggung untuk terus menggandeng tangan anak itu. Siapa sebenarnya anak itu? batin para pegawai.
" Selamat pagi, Presdir Nath. " Sapa salah satu pegawai sembari menunduk. Tapi tetap saja, mata mereka teralihkan oleh sosok kecil tampan yang tengah Presdirnya gandeng itu.
Nath mengangguk untuk menghormati dan membalas sapaannya.
" Ayah, di lantai berapa ruang kerja Ayah? " Tanya Nathan dengan polosnya.
" Lantai Tiga puluh tiga" Jawab Nath sembari mengelus rambut putranya.
Para pegawai yang mendengar Nathan memanggil Presdir mereka, Ayah. sontak membuat mereka mulai bergosip ria.
Kapan Presdir menikah? kenapa tiba-tiba ada anak? tidak mungkin anak pungut kan? wajah mereka begitu mirip! siapa Ibunya? dengar-dengar, Presdir dan Nona Gaby baru bertunangan. Apa mereka sudah memiliki anak sebelum menikah? Itulah yang mereka gumamkan.
Nath menatap Nathan yang benar-benar terlihat bahagia. Padahal, dia hanya menemaninya bekerja kan?
Nak, berbahagialah selalu. Ayah tidak bisa menikmati betapa bebasnya bersahabat dengan banyak orang. Menghabiskan waktu layaknya anak-anak. Ayah ingin, kau tetap bahagia. Ayah dan Ibu tidak akan memaksamu dalam hal apapun, selama itu tidak mencelakai mu.
***
" Siapa anak ini? " Tanya Gaby setelah membuka pesan yang baru saja masuk.
Ting.. Ting... Ting...
Tiga pesan kembali masuk ke ponsel Gaby.
" Apa-apaan ini?! " Gaby meradang setelah melihat Photo Nath, Vanya dan seorang anak kecil yang nampak sekali mirip degan Nath.
Gaby memperbesar gambar di ponselnya.
" Bagaimana mungkin? tidak! ini tidak mungkin! Vanya dan Nath belum lama bertemu. Lalu kenapa ada anak diantara mereka? tidak! orang tua Nath tidak boleh sampai tahu tentang ini. Atau aku akan kehilangan kesempatan.
Gaby menghubungi seseorang.
" Culik anak itu dan habisi!
***
" Kabar apa yang kau bawa? " Tanya Tuan besar Chloe. Atau, Ayahnya Nath.
Pengawal itu sedikit menunduk untuk memberi hormat.
" Ini Tuan besar. " Pak Harun, atau yang Vanya panggil pak Miskana, menyerahkan beberapa photo kepada Ayahnya Nath.
Ayahnya Nath langsung membukanya. Dengan kening yang mengkerut, dia membuka dan mengamati tiap kembar photo yang ia lihat.
" Anak siapa ini? kenapa dia begitu dekat dengan Nath? wajahnya juga, kenapa mirip dengan Nath?
Hingga, photo terakhir yang ia lihat. Photo Nath dan Nathan mengantarkan Vanya ke sebuah mini kafe. Nampak Vanya sedang mencium pipi Nathan dan Nath yang mengelus kepala Nathan.
" Apa wanita yang kita coba singkirkan ini adalah Ibunya? " Tanya Ayahnya Nath kepada pak Miskana. Tatapan tajamnya, seolah menuntut agar mendapat jawaban yang pasti.
Ayahnya Nath menghela nafasnya. Dia meletakkan semua photo itu di meja. Dia juga melepas kaca matanya dan menaruhnya di atas photo-photo itu. Ayahnya Nath mengaitkan jemari di kedua tangannya dan meletakkannya si dekat dagunya.
" Jadi begitu? lalu, kau sudah berhasil mencari tahu tentang wanita itu?
Pak Miskana kembali menunduk. " Maaf, Tuan besar. Tidak ada apapun yang bisa digali dari masa lalu Nona Vanya. Bahkan, dia juga menyembunyikan putranya dengan sangat baik.
" Aneh. Itu sangat aneh. Dia begitu menyimpan rapat cucuku sebelumnya. Tapi, kenapa tiba-tiba dia muncul? dan Nath nampak sangat terbuka kali ini? mereka pasti sudah memikirkan konsekuensinya kan?
" Ada satu lagi, Tuan besar.
" Katakan.
" Nona Vanya, dia adalah satu-satunya pewaris KBR Group. Berita ini naik beberapa hari yang lalu. Dan saya, sudah memastikan kebenarannya.
Ayahnya Nath menyenderkan kepalanya disenderan kursi. " KBR Group? dia memang memiliki kekuasaan di atas Chloe. Pantas saja mereka begitu berani.
" Atur waktu. Aku ingin bertemu dengan mereka. Dan, terus awasi cucuku. " Titahnya sembari menegakkan kembali tubuhnya.
" Sepertinya, itu agak sulit, Tuan besar. " Ujar pak Miskana sembari menunduk.
" Kenapa? " Tanya Ayahnya Nath yang bingung. Sejak kapan kekuatan Chloe melemah batinnya.
" Tuan muda kecil, dia dijaga dengan sangat kuat. Nath menjaganya dengan dua pengawal yang selalu disampingnya. Dan, orang-orang dari KBR Group melindunginya dari segala sisi walau jarak mereka tak dekat.
Ayahnya Nath menghela nafasnya. " Aneh! jika Vanya memiliki KBR Group, ini bukanya tidak mungkin kalau dia berniat buruk dengan perusahaan Chloe? Apa mungkin, Gaby memalsukan semua bukti untuk memfitnah Vanya? lalu jika benar, apa tujuan Gaby melakukan ini?
" Tuan, meskipun saya tidak memiliki bukti, tapi insting saya berkata, ada yang tidak beres dengan nona Gaby.
Rahang Ayahnya Nath mengeras. Geram jika itu benar. Pak Miskana memang tidak memiliki tampang seram seperti pengawal yang lainya. Tapi, dia sangatlah kompeten dan bisa diandalkan dalam banyak hal.
" Cari tahu semuanya. " Titah Ayahnya Nath.
" Maaf sekali lagi, Tuan besar. Nona Gaby, menghapus jejak masa lalunya juga. Yang tersisa hanya, keluarga dan pendidikannya saja.
" Bagus! itu sudah menjadi jawaban untuk kita. Pantau dia. Jangan biarkan dia menyakiti cucuku. Aku akan membicarakan ini dengan istriku.
" Baik, Tuan besar.
***
Setelah selesai urusannya dengan mini kafe, Vanya meraih ponselnya untuk menghubungi Nath.
' Sayang?
" Apa yang sedang kau lakukan? " Vanya.
' Tidak ada.
" Kau tida sibuk? Lexi tidak ada memang kau bisa santai?
' Ada sedikit pekerjaan. Ada apa?
" Aku sudah selesai. Aku boleh datang ke kantormu?
' Ya ampun, sayang. Datang saja. Ini juga milikmu kan? nanti langsung keruangan ku saja ya? Nathan ada disana. Aku meninggalkan dia sendiri. Tapi tenang saja, sudah ada yang menjaganya di luar.
" Baiklah. Sampai jumpa disana.
' Iya. I love you.
" Love you to. By.
' By.
***
" Kenapa kalian diam? " Tanya Nath karena melihat anggota rapatnya malah terperangah menatap kepadanya.
Mereka semua kompak menggeleng mengusir pikiran aneh yang ada di otak mereka.
Ternyata, Presdir Nath bisa begitu lembut ya? ini justru aneh bagi mereka.
To Be Continued.