
" Ivi, maaf. Aku tidak bisa bersamamu lagi. Aku mencintai gadis lain yang lebih segala-galanya dari mu. Kau boleh saja melahirkan anak kita, tapi juga tidak masalah jika kau ingin menggugurkan kandungan mu. Tapi aku tidak bisa lagi bersama mu. " Nathan menjauhkan tangan Ivi yang memegang erat lengan Nathan.
" Tidak! kau tidak boleh melakukan ini dengan ku! kau kan sudah berjanji. " Ivi menangis tersedu-sedu menahan rasa sedih yang begitu menyakitkan. Nathan kini berdiri di hadapannya sembari menggenggam erat seorang gadis cantik yang tak lain adalah Kimberly atau Berly. Mereka dengan teganya tersenyum dengan tatapan menghina ke arah Ivi. Hancur, dia begitu hancur dan sedih saat ini.
" Janji? mana mungkin aku akan menepati janji ku. Apa kau tidak sadar bagaimana cara mu memperlakukan ku? kau menyamakan ku seperti pelayan. Selama satu minggu ini aku sudah begitu bersabar terhadap mu. Tapi, sekarang aku baru menyadari satu hal. Wanita yang paling cocok untukku adalah Berly. Dia cantik, baik dan juga lembut. Jadi, carilah saja laki-laki yang bersedia kau perbudak karena aku tidak akan mau melakukan itu lagi. Selamat tinggal. " Nathan dan Berly membalikkan tubuh mereka hendak berjalan meninggalkan Ivi sendiri yang tengah menangis pilu.
" Jangan Nathan! " Ivi meraih tangan Nathan agar bisa menahan langkah kaki Nathan.
" Aku berjanji, aku akan menyayangi mu. Aku tidak akan memperlakukan mu dengan begitu buruk lagi. " Pinta Ivi dengan tatapan memohon.
" Tidak! aku tidak mau lagi bersama mu. "
" Jangan pergi, Nathan! tolong jangan pergi! jangan pergi! "
" Ivi! "
" Hah? " Ivi yang kaget tiba-tiba terbangun dan langsung mengambil posisi duduk. Matanya yang berair mata menatap kosong, dan wajahnya juga terlibat begitu syok.
" Ada apa? apa yang kau mimpi kan? "
Ivi menoleh ke arah samping dimana Nathan kini berada satu tempat tidur dengannya. Sadar jika tadi hanya mimpi, Ivi akhirnya bisa merasa lega. Tapi, dia juga tidak akan bisa menahan dirinya lagi kalau sampai itu terjadi. Ivi memeluk erat tubuh Nathan. Dia juga mulai kembali sesegukan karena ketakutan jika apa yang dia mimpikan akan terjadi.
" Ada apa dengan mu? " Tanya lagi Nathan yang merasa bingung. Tapi meskipun begitu, dia masih bisa merasa senang karena dengan jelas dia mendengar Ivi berteriak, Nathan, jangan pergi!
Ivi melerai pelukannya. Aur matanya juga begitu banyak bercucuran membasahi pipinya. Nathan yang sebisa mungkin menyembunyikan rasa bahagianya tentu saja hanya menunjukkan wajah datarnya saat menyeka air mata Ivi.
" Nathan, berjanjilah padaku kalau kau tidak akan jatuh cinta dengan wanita di luaran sana. Kau hanya boleh mencintai ku saja. Terlebih, kau tidak boleh dekat dengan Berly lagi titik. "
" Kenapa pagi-pagi bicara mu sudah aneh? "
Ivi menjauhkan tubuhnya lalu menatap Nathan sebal. Memang benar dia aneh. Tapi dia juga harus menjaga Nathan agar tidak di ambil Berly kan? pokonya, Ivi sudah bertekad kali ini. Dia akan melakukan apapun agar Nathan tidak di ambil oleh Berly.
" Nathan, ayo berjanjilah padaku. " Pinta Ivi dengan mimik wajah memohon. Tapi sepertinya timbullah sedikit akal licik Nathan.
" Tidak mau ah! lagi pula, kenapa aku harus berjanji kepada seorang wanita yang begitu tida pengertian seperti mu. "
" Aku janji akan pengertian padamu. "
" Jangan lupa, kau juga suka mengatai ku. "
" Aku tidak akan mengatai mu lagi. "
" Kau juga sering mengatakan, bahwa aku tidak tampan sama sekali. Bahkan, curut mabuk itu kau bilang bermiliar-miliar lebih tampan dariku. "
" Bohong! aku bohong dan buta saat itu. Kakak Bien hanyalah seekor curut mabuk yang tidak berguna. Kau, maksud ku suami adalah pria paling tampan se jagad raya dan di alam semesta ini. "
" Kau juga sama sekali tidak mengunggah satu pun photo ku di akun media sosial mu. Jujur saja, aku sangat sedih karena mengira kau malu mengakui ku adalah suami mu. "
" Mulai besok, aku akan menggugah photo mu setiap hari. Janji, tidak akan ada absen pokoknya. "
Jujur, Nathan sangat ingin sekali tertawa bahagia sekencang-kencangnya. Tapi, tentu saja tidak akan mungkin dia lakukan di depan Ivi. Baiklah, dia hanya perlu melakukan itu di pikirannya saja sembari berimajinasi sesukanya. Tertawa sampai guling-giling, atau bahkan ngesot-ngesot, atau bisa jadi sampai jumping lalu salto.
" Jadi aku harus bagaimana? " Tanya Ivi yang tentu saja kebingungan. Ini adalah hubungan lawan jenis ya g pertama baginya.
" Panggil aku dengan mesra. " Titah Nathan.
Ivi mengeryit memikirkan semua ucapan Nathan. Mesra? apakah yang di maksud mesra itu seperti menggoda pasangan di atas ranjang?
" Apa begini? " Ivi menggerakkan jemarinya. Bibirnya tersenyum sensual dan matanya juga berkedip genit beberapa kali sembari menatap Nathan.
" Nathan,..... "
Ya Tuhan! ingin sekali rasanya Nathan menyergap Ivi sekarang ini. Tapi, ada satu lagi hal yang harus dia selesaikan agar mendapatkan hasil yang memuaskan di masa depan nanti.
" Bukan Nathan. "
" Jadi? "
" Panggil aku sayang mulai sekarang. "
Jujur, sekarang ini ingin sekali memukul kepala Nathan yang semakin lama semakin kurang ajar itu. Senyum sialan yang begitu licik itu juga tak hilang dari bibirnya. Tapi sudahlah, saat ini lebih baik menjaga Nathan ahar tidak kabur adalah pilihan yang paling benar dan tepat.
" Baiklah, sayang. "
Nathan tersentak menatap Ivi yang begitu manis saat memangil Sayang. Aduh,... masih bisa tahan untungnya.
" Baiklah. Ada satu hal lagi. "
" Apa?! " Ivi mendelik kesal saat Nathan masih mengajukan satu permintaan yang entah sudah berapa banyak yang dia minta.
" Lihatlah! kau sudah mulai melotot lagi. Mata mu itu benar-benar menyeramkan loh. "
Sabar, tenang Ivi. Ivi kembali mencoba untuk menenangkan dirinya dengan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.
" Baiklah, sayang. Berapa banyak lagi syarat yang ada di kepala mu? " Ivi tersenyum manis meski begitu dongkol di dalam hati.
" Tidak banyak lagi sih. Kau hanya tidak perlu begitu emosional. Dan, katakan padaku setiap bangun tidur bahwa kau mencintai ku. " Nathan tersenyum seolah mengisyaratkan bahwa tidak ada penawaran dalam syarat yang satu ini.
" Oh, baiklah sayang. Jangan kan setiap bangun tidur. Setiap melihat mu aku juga tidak masalah. Tapi, ngomong-ngomong kenapa hanya aku yang di haruskan mengatakan cinta? bagaimana dengan mu? "
Nathan menelan salivanya sendiri. Dia tahu benar sih kalau dia mencintai Ivi. Tapi kalau menyatakan perasaannya secara langsung ya tentu saja tidak semudah itu. Kalau saja dipaksakan, bisa-bisa mulutnya lebih dulu gemetaran dan tidak bisa berkata-kata.
" Nathan, kau tidak boleh curang loh. Anggap saja ini permintaan anak mu juga. "
" A aku mana ada mau curang. Lihatlah! kau sudah lupa kalau harus memanggil ku sayang? "
" Sayang, kenapa kau begitu gugup? apa kau sangat mencintai ku hingga begitu gugup? "
To Be Continued.