Touch Me!

Touch Me!
S2- Mulut Busuk



Salied masih menatap manik mata Ivi yang terus saja menatap penuh kebencian. Sebenarnya Salied adalah pria yang paling tidak akan bertoleransi saat ada yang menghina keluarga atau menyakiti salah satu anggota keluarganya. Tapi tidak tahu kenapa, untuk sekedar menatap balik tatapan dari seorang gadis bertubuh kecil itu, rasanya dia tidak sanggup untuk berlama-lama. Sebenarnya, kesalahan apa yang sudah di lakukan keluarga Marhen? bagaimana bisa seorang gadis kecil seperti Ivi begitu terlihat membenci keluarganya.


" Nona Ivi, kau belum menjawab pertanyaan ku. Apa kita pernah bertemu? apa salah satu anggota keluarga ku pernah menyakiti mu tanpa sengaja? "


" Pft....! " Ivi menahan tawanya sejenak lalu menatap tajam manik mata Salied setelah tawa itu menghilang dari wajahnya.


" Aku memiliki banyak alasan untuk membenci mu, dan seluruh anggota keluargamu. " Ucap Ivi dengan wajah yang begitu menakutkan. Kebencian karena timbul dari rasa sakit yang dalam, melahirkan sisi lain seorang Ivi yang biasanya memiliki kepribadian lugu dan manja.


Salied semakin tak bisa melawan tatapan itu. Sedikit dia menurunkan pandangannya karena memang tak sanggup. Aneh! sungguh sangat aneh! padahal dia adalah pria yang tidak kenal belas kasih jika menyangkut keluarga. Tapi tidak tahu kenapa, tatapan Ivi benar-benar membuat hatinya berdenyut sakit. Seperti ada perasaan bersalah yang entah dari mana asalnya. Apalagi saat Ivi mengucapkan kata-kata yang semakin memperkuat pendapatnya jika Ivi sangat membenci keluarganya. Salied terdiam memikirkan kapan dan dimana dia pernah bertemu Ivi. Tapi jelas dia tidak pernah bertemu dengan Ivi sebelumnya. Tapi yang aneh adalah perasaan tidak asing di hatinya itu sungguh tidak biasa.


" Nona, jika memang aku dan keluarga ku melakukan kesalahan, aku mewakili seluruh anggota keluarga ku, meminta maaf yang sebesar-besarnya. "


Ivi berdecih lalu tersenyum miring setelahnya.


" Maaf sampai satu juta kali pun, kalian tidak pantas mendapatkannya. "


Salied semakin menatap bingung juga pilu. Ini benar-benar tidak biasa baginya karena tidak mampu melawan seorang gadis yang memiliki tubuh kurus itu.


Sebenarnya, kau ini siapa Nona Ivi? rasanya tidak asing. Tapi aku tidak tahu kapan dan dimana kita pernah bertemu sebelumnya.


" Dengar, Tuan Salied. Kembali ke keluarga mu yang terhormat itu. Dan ingat satu hal. Jangan lagi, menemui ku lalu mengajak ku bicara. Kalian dan aku, tidak akan pernah satu pemikiran. Lebih baik, kau simpan saja tenaga mu untuk menimang adik perempuan mu satu-satunya itu. "


Salied mengepalkan kedua tangannya kuat. Sakit! benar-benar sangat sakit mendengar kata-kata Ivi barusan. Salied yang tidak mampu berbicara lagi, akhirnya memutuskan untuk kembali bergabung bersama keluarganya. Salia yang tahu jika kakaknya menemui Ivi, kini semakin kesal di buatnya. Pasalnya sang kakak menjadi semakin pendiam setelah menemui Ivi. Tidak tahu apa yang dimiliki gadis itu, tapi dia sangat pintar membuat suasana hati seseorang menjadi kacau.


Ivi, kau hanyalah wanita rendahan yang akan selalu menjadi wanita rendahan. Aku tidak akan membiarkan apa yang seharusnya menjadi milikku direbut oleh wanita sepertimu. Dan aku akan membuat perhitungan besar karena telah membuat kakak ku seperti ini.


Setelah acara pesta sederhana itu selesai, semua kembali ke kediaman masing-masing. Begitu juga dengan keluarga Vanya dan Nath. Setelah kepulangan mereka, Nathan tak henti-hentinya menanyakan bagaimana suasana hati Ivi. Bagaimana tidak? setelah kembalinya mereka ke rumah, Ivi terlihat lebih pendiam dan tidak gila mengomel seperti biasanya. Satu hari, dua hari sudah berlalu dan Ivi masih saja sama. Ibu mertuanya juga sudah mengajaknya bicara, tapi sepertinya Ivi sangat pandai berpura-pura hingga Vanya dan yang lainya percaya jika dia sudah baik-baik saja. Tapi semua itu tidak bisa mengelabuhi Nathan. Karena dia sering kali memperhatikan Ivi yang khusuk sekali saat melamun. Bahkan tanpa sadar, Ivi kadang terlihat marah lalu terlihat sedih. Sebagai suami tentu saja dia sudah sering menanyakan apa yang terjadi dan apa yang sedang di pikirkan oleh Ivi, tapi lagi-lagi dia berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikannya.


" Hei, Ivi! ambilkan aku air minum. " Titah Nathan yang sedang fokus dengan laptopnya.


Ivi yang tengah melamun itu sontak bangkit dan mengambil air untuk Nathan. Setelah ia kembali dengan segelas air minum, Ivi kembali membaringkan tubuhnya. Tapi sudah pasti kalau gadis itu sedang memikirkan sesuatu.


" Ivi, ambil buah untukku! " Titah lagi Nathan.


Ivi menghela nafas sebalnya tapi dia juga bangkit dan mengambil buah di dapur.


" Ini. " meletakkan buah di samping tempat tidur karena Nathan sedang duduk disana sembari memangku laptop.


Ivi mendesah sebal. Baru saja dia sampai, sekarang sudah harus ke dapur lagi? apa dia tidak tahu kalau Ivi harus naik turun tangga?


" Nathan, sebenarnya apa saja yang kau butuhkan? aku sudah sangat lelah mondar mandir seperti setrikaan rusak. " Protes Ivi.


" Setrikaan yang rusak justru akan diam saja karena tidak bisa digunakan."


" Nathan, kalau saja kau tidak menyumpal ku dengan uang, aku sangat ingin memukul mu. Kau tidak tahu ya? beberapa hari ini aku ingin memukul, bahkan membunuh orang. " Ucap Ivi dengan mimik marahnya.


Nathan menjauhkan laptopnya lalu meraih pergelangan tangan Ivi. Dia menariknya dan membuat Ivi duduk di pangkuannya. Nathan memang tidak tahu bagaimana caranya meluluhkan hati wanita yang sedang marah, dia juga tidak tahu bagaimana menghibur wanita. Tapi entah ini benar atau tidak, rasanya dia ingin memeluk Ivi dari dua hari belakangan ini.


" Apa yang kau lakukan? " Tanya Ivi yang bingung karena Nathan tiba-tiba memeluknya setelah dia cukup terkejut berada dipangkuan Nathan.


" Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan belakangan ini. Aku tidak tahu bagaimana caranya menghibur wanita. Aku hanya ingin memeluk mu dari kemarin. "


" Kenapa kau ingin memeluk ku? " Tanya Ivi. Tapi ada yang berbeda kali ini. Rasanya dia begitu ingin menangis hingga suara nya bergetar.


" Tidak tahu. Aku hanya tahu kalau ingin memeluk mu. Ivi, apapun masalah mu, kau bisa berbagi dengan ku. Aku kan suami mu. Kalau bukan dengan ku, memang degan siapa lagi? mungkin aku tidak bisa membantu banyak hal, tali setidaknya aku akan berusaha yang terbaik untuk mu. "


Ivi kini tidak bisa menahan air matanya dan mulai menangis lirih.


" Sialan! sejak kapan mulut busuk mu bisa manis begini? " Tanya Ivi sembari menyeka air matanya. Bibirnya juga tersenyum meski matanya menangis.


" Aku terpaksa. Rasanya muak juga melihat wajah mu yang seperti babi sekarat dua hari ini. "


" Nathan, aku baru saja mengatakan jika mulut mu manis. Tapi kenapa mulut sialan mu masih saja bekerja dengan baik. "


Nathan tersenyum tipis.


" Bagus! teruslah seperti ini. Aku lebih menyukai mulut busuk mu. "


" Mulut mu juga tidak kalah busuk! "


" Tentu saja. Maka dari itu, Tuhan membuat kita menikah. "


To Be Continued.