
" Perkenalkan, saya Nathan Chloe. Ayah dari Nathan Rezef Chloe. "
" Hah? " Mereka kompak melongo melihat Ayah dari Nathan yang masih terlihat muda dan gagah. Mereka juga tidak menyangka kalau akan didatangi oleh orang sehebat Nathan Chloe.
" Ya ampun, ini mimpi atau bukan sih? " Tanya Ibu Lina yang masih terkejut dengan kedatangan orang hebat seperti Nathan Chloe.
Sementara Ayah kini paham dari mana wajah tampan nan sialan pria yang mengaku calon menantunya itu.
Rupanya wajah menyebalkan pria itu menurun dari Ayahnya?
Ibu Marlina dan Dodi masih menatap gak percaya hingga kini. Sementara Nath, pria itu semakin lama semakin menahan kesal karena gak juga dipersilahkan duduk. bahkan dihatinya juga bergerundel banyak hal yang tak lain adalah makian kekesalan.
" Si silahkan duduk, Tuan Chloe. " Dodi yang sudah mendapati kesadarannya menyerahkan kursi yang tadi ia duduki kepada Nath. Meskipun dia tahu itu cukup terlambat, tapi membiarkan orang hebat seperti dia berdiri lumayan lama kan tidak sopan. Dengan wajah canggung dan sedikit segan, Dodi mencoba memaksakan senyumnya agar terlihat lebih sopan.
" Terimakasih ya? " Ucap Nath lalu meraih kursi itu dan meletakkan di dekat Ayahnya Ivi. Dengan santai dia mulai duduk yang menatap ramah kepada Ayahnya Ivi. Yah, meskipun dia tengah sebal dengan pria yang berani-beraninya menolak putra satu-satunya seorang Nathan Chloe.
Dasar kemoceng terkutuk! wajah mu saja tidak tampan. Berani sekali kau menolak putraku yang maha tampan sepertiku? kalau saja bukan karena putraku yang bodoh dan tidak bisa memanfaatkan uang serta ketapampanannya, aku tidak sudi bersikap sok ramah begini. Mulut ku saja sudah bergetar karena kelelahan tersenyum palsu.
" Bagaimana keadaan anda, Tuan? " Tanya Nath yang ia usahakan agar terlihat seramah mungkin.
" Ba baik. " Jawab Ayahnya Ivi yang kini sebenarnya sangat sebal.
Lagi-lagi ada pria tampan yang meresahkan. Kemarin anaknya, sekarang bapaknya. Kalian ini bisa tidak sih, berwajah biasa-biasa saja? wajah kalian itu terlalu berlebihan tampannya. Aku jadi semakin kesal sekarang.
" Ibu? " Dodi menyikut lengan Ibunya yang masih saja melotot menatap lekat Nath yang tak jauh dari hadapannya.
Ibu terkesiap dan sontak menatap Dodi penuh tanya.
" Ini benar ya? " Tanya Ibu Lina berbisik.
" Iya. Ayah nya Nathan ternyata sama tampannya dengan Ayahnya. Tadinya aku pikir itu Nathan calon adik iparku. Untung saja aku cepat melihat sedikit kerutan di wajahnya. " Ujar Dodi yang juga berbisik kepada Ibunya.
" Iya,Ibu sampai kaget tadi. Wajahnya memang mirip Nathan sih, tapi sepertinya Tuan Chloe ini jauh lebih tampan saat muda ya? sekarang saja, dia masih sangat tampan. Ah, aku jadi iri. "
Dodi mengeryit lalu kembali mendekatkan kembali posisi wajah mereka untuk saling berbisik.
" Iri dengan siapa? "
" Dengan istrinya. Dia pasti sangat beruntung memiliki suami setampan ini. "
" Jangan salah. Nyonya Chloe adalah pewaris dari dua perusahan besar. Dia juga sangat cantik loh. " Bisik Dodi.
" Ibu juga cantik kok. "
Dodi terperangah sesaat lalu kembali berbisik ria bersama Ibunya.
" Jauh bu. jauh sekali. Nafas Ibu saja kalah cantik dari nafas Nyonya Chloe. "
" Dasar kurang ajar! " Ibu Lina mencubit lengan putranya karena merasa tak terima dengan pendapat sang anak.
" Kira-kira, apa kehidupan mereka bahagia terus ya? " Tanya ibu Lina.
" Tentu saja. "
" Butuh perusak hubungan tidak? kalau butuh, Ibu mau kok berada diantara mereka. "
Dodi menaikkan sudut bibirnya kesal.
Kembali fokus kepada Ayahnya Ivi dan Nath yang mulai berbicara.
" Apa keadaan anda sudah lebih baik? " Tanya Nath sopan.
" Saya sudah lebih baik, Tuan. Kemungkinan, lima hari lagi jadwal kemoterapi saya akan dilaksanakan. "
Nathan mengangguk lalu tersenyum meski itu ia paksakan. Jujur saja, dia memang kesal dengan Ayahnya Ivi yang berani menolak putranya, tapi melihat keadaannya membuat Nath merasa tidak tega. Tapi disaat begini, dukungan dari orang terkasih adalah hal yang paling penting. Tidak boleh sekalipun menunjukan rasa iba, karena hanya akan membuat semangatnya berkurang.
" Semoga semua berjalan dengan lancar dan anda cepat pulih agar bisa melakukan banyak hal seperti sebelumnya. "
" Iya, terimakasih Tuan Chloe. "
Sialan! mulutku tidak bisa leluasa seperti saat bersama putranya. Auranya terlalu kuat seolah menekan ku untuk terus menunduk hormat dan berucap sopan.
" Begini, kedatangan ku kemari untuk membicarakan sesuatu mengenai anak-anak kita. Aku tahu kalau dengan keadaan mu saat ini, memang kurang tepat. Tapi percayalah, jika jodoh sudah didepan mata, maka disegerakan adalah pilihan yang benar. "
Ayahnya Ivi terdiam. Bukanya tidak mau melepaskan putrinya, hanya saja ada banyak hal yang terjadi. Ada banyak rahasia yang mungkin suatu saat nanti akan terbongkar. Memikirkan hal itu sungguh membuatnya begitu hancur. Tapi walau bagaimanapun, Ivi juga akan menikah nantinya.
" Tuan Chloe, jika saja ada hal yang suatu saat akan membuat citra kami buruk, apakah anda masih akan menerima kami sebagai besan? apakah anda, keluarga anda, dan Nathan khusunya akan menerima itu semua? "
Mendengar ucapan Ayahnya Ivi, Nath tahu ada beberapa hal yang besar pernah terjadi kepada mereka. Terlebih saat menyelidiki tentang Keluarga Ivi, ada banyak sekali keganjalan yang sepertinya sengaja untuk dihilangkan agar masa lalu mereka terkubur dalam-dalam. Tapi mengingat kembali bagaimana Nathan memperhatikan hadis itu, dia hanya bisa pasrah dan mendukung apa yang putranya inginkan.
" Saya mempercayai putra saya, Tuan. Entah masa lalu seperti apa, tapi putra ku tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan.
Tapi bohong! raja iblis itu kan sangat sembrono dan mudah sekali dihasut.
" Terimakasih, Tuan Chloe. "
Ivi, Apapun yang terjadi, kau adalah Tuan putriku, putri tercantik, baik hati, dan selalu bahagia. Ayah tahu, kau pasti akan menikah suatu hari nanti.
Tapi siapa yang sangka jika kau akan menikah semuda ini.
" Ngomong-ngomong, bagaimana sikap putra anda? maaf saya bertanya, Tuan. Saya benar-benar ingin putri saya memilih pilihan yang tepat. "
Nath tersenyum sebelum memutuskan untuk menjawab pertanyaannya yang sudah pasti akan Nath jawab dengan sangat jujur.
" Dia itu tidak banyak bicara, tapi dia cerewet didalam hati. Dia suka sekali bergerundel dan merengut kalau tidak sesuai dengan ekspetasinya. Dia itu sangat licik dan suka sekali merencanakan hal-hal menyebalkan. "
Ayahnya Ivi nampak begitu tertarik dengan obrolan ini.
" Apa dia memiliki banyak wanita sebelumnya? "
Nath menghela nafasnya lalu tersenyum menatap Ayahnya Ivi.
" Dia itu kolot. Dia sama sekali tidak pernah berpacaran. "
" Eh, kenapa? apa burungnya tidak berfungsi? " Tanya Ayahnya Ivi penasaran.
Bukanya Ayahnya Ivi saja yang penasaran, kini dia ikut berpikir bagaimana jika tebakan Ayahnya Ivi benar?
Apa mungkin itu benar ya? tidak ada gunanya dong kalau tongkat ajaibnya tidak berfungsi. Tapi lebih baik aku tanyakan langsung saat pulang nanti.
To Be Continued.